KLHK Implementasikan UUCK Melalui Penataan Kawasan Hutan

Thursday, 27 January 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu contoh kebun sawit masyarakat di areal kawasan hutan di provinsi Riau / foto Istimewa

Salah satu contoh kebun sawit masyarakat di areal kawasan hutan di provinsi Riau / foto Istimewa

DAELPOS.com – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK sudah melakukan identifikasi dan verifikasi dalam rangka penyusunan Peta Indikatif Penyelesaian Penguasaan Tanah Dalam Rangka Penataan Kawasan Hutan (PPTPKH) di seluruh provinsi di Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan, Herban Heryandana, S.Hut, M, Sc secara tertulis kepada media DAELPOS.com di Jakarta (27/1).

Menurut Herban Heryandana, KLHK melalui Direktorat Pengukuhan dan Penatagunaan Kawasan Hutan telah melaksanakan sosialisasi, berkoordinasi dan meminta masukan lokasi indikatif PPTPKH ke seluruh Gubernur dan Kepala Dinas yang membidangi kehutanan.

“Lokasi yang telah masuk di peta indikatif PPTPKH kemudian akan dilakukan inventarisasi dan verifikasi PTPKH oleh Tim Invers PPTPKH yang diketuai oleh Kepala Balai Pemantapan Kawasan Hutan. Tim Invers ini dibentuk pada setiap provinsi dan adapun pelaksanaan Invers tergantung oleh ketersediaan anggaran,” jelas Herban.

Penjelasan ini disampaikan Herban Heryandana sehubungan dengan permohonan yang dilakukan oleh masyarakat yang terlanjur menanam sawit dalam kawasan hutan tanpa memiliki Perizinan Berusaha dan dilakukan oleh orang perseorangan yang bertempat tinggal di dalam/atau di sekitar kawasan hutan paling singkat 5 tahun secara terus menerus dengan luasan paling banyak lima hektar. Seperti proses yang diatur dalam pasal 110B dan pasal 41 PP 24 tahun 2021.

“Pengaturan teknisnya dilakukan melalui Peraturan Menteri LHK Nomor 7 Tahun 2021, pasal 129 ayat 1. Bahwa dalam rangka Penyelesaian Penguasaan Tanah dalam Kawasan Hutan Negara dilakukan Penataan Kawasan Hutan (PPTPKH), lanjut Herban.

Ditegaskannya, Menteri LHK melakukan penyelesaian penguasaan tanah dalam kawasan hutan pada lokasi yang ada pada peta indikatif PPTPKH yang disusun berdasarkan data dan informasi tutupan lahan, hasil inventarisasi dana verifikasi lapangan, masukan para pihak dan atau penguasaan bidang tanah oleh masyarakat yang dilakukan sebelum berlakunya Undang Undang Cipta Kerja Nomor 11 Tahun 2020 khususnya pasal 110A dan pasal 110B dengan semua kriterianya.

See also  Gelar Apel Siaga Nataru 2024, Seluruh Unit PLN Se-Indonesia Siap Beri Layanan Maksimal

Penyelesaian penguasaan bidang tanah yang dikuasai dan dimanfaatkan setelah bidang tanah ditunjuk sebagai kawasan hutan negara, menurut Herban dilakukan dengan inventarisasi dan verifikasi PPTPKH. Diantaranya adalah permukiman, lahan garapan pertanian, perkebunan, tambak.

Adapun pola penyelesaiannya antara lain; pengeluaran bidang tanah dalam kawasan hutan melalui perubahan Batas Kawasan Hutan, pelepasan melalui perubahan peruntukan Kawasan Hutan dan Perubahan Fungsi Kawasan Hutan, pelepasan kawasan hutan, memberikan akses Pengelolaan Hutan melalui program perhutanan sosial atau penggunaan kawasan hutan.

Undang Undang CK yang menjadi dasar hukum masyarakat yang terlanjur menggarap kawasan hutan dengan melakukan permohonan ditindaklanjuti KLHK dengan telah diterbitkannya peta indikatif penyelesaian penguasaan tanah dalam rangka penataan kawasan hutan (PPTPKH) terbaru yang telah menetapkan indikasi yang harus diselesaikan dalam rangka reforma agraria.

Peta indikatif PPTPKH ini akan direvisi setiap 6 bulan sekali. Diantaranya berdasarkan usulan dari para pihak.

Namun bagi masyarakat yang tidak mengajukan permohonan PPTPKH tidak mengatur adanya sanksi, karena itu bersifat kegiatan masyarakat. Namun menurut Herban, akan menjadi kerugian tersendiri bagi masyarakat yang tidak mengajukan karena tidak memperoleh kepastian hukum atas lahannya dan kedepan berpotensi akan terkena kasus hukum.

“Pokoknya implementasi dari UUCK telah nyata dilakukan oleh KLHK yqng berkomitmen untuk menyelesaikan permasalahan penguasaan tanah dalam kawasan hutan dan sekarang sedang on progres dilakukan oleh Satuan Pelaksanaan , Pengawasan dan Pengendalian Implementasi UUCK Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan,”Herban mengakhiri keterangan.(*)

Berita Terkait

Arus Balik Lebaran 2026, Trafik JTTS Tembus 257 Ribu Kendaraan
Warga Padati Istana, Antusias Bertemu Prabowo di Gelar Griya
Hemat Energi, Pemerintah Terapkan WFH Usai Lebaran
Arus Balik Lebaran, Trafik JTTS Naik 50 Persen
Menteri PU Dampingi Presiden Prabowo Salat Id di Aceh Tamiang, Pastikan Rumah Hunian Telah Dihuni
Arus Mudik Meningkat, 1,8 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabotabek
Pemerintah Jaga Defisit APBN di Bawah 3 Persen, Siapkan Antisipasi Harga Energi
Lebaran Naik MRT Cuma Rp1! Jadwal Santai, Kereta Tetap Ngebut

Berita Terkait

Monday, 23 March 2026 - 13:48 WIB

Warga Padati Istana, Antusias Bertemu Prabowo di Gelar Griya

Sunday, 22 March 2026 - 23:48 WIB

Hemat Energi, Pemerintah Terapkan WFH Usai Lebaran

Sunday, 22 March 2026 - 23:40 WIB

Arus Balik Lebaran, Trafik JTTS Naik 50 Persen

Saturday, 21 March 2026 - 23:47 WIB

Menteri PU Dampingi Presiden Prabowo Salat Id di Aceh Tamiang, Pastikan Rumah Hunian Telah Dihuni

Saturday, 21 March 2026 - 19:14 WIB

Arus Mudik Meningkat, 1,8 Juta Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Berita Terbaru