daelpos.com – Institut Teknologi PLN (ITPLN) menerima mahasiswa Universiti Teknologi PETRONAS (UTP), Malaysia, dalam program International Student Exchange Mobility ITPLN x UTP 2026. Program pertukaran mahasiswa ini menjadi ruang kolaborasi bagi kedua perguruan tinggi untuk memperluas jejaring akademik, bertukar pengalaman lintas budaya, sekaligus memperkuat hubungan Indonesia-Malaysia.
Program International Student Exchange Mobility ITPLN x UTP tidak hanya diisi kegiatan akademik. Para mahasiswa UTP juga dijadwalkan mengikuti kunjungan industri ke PLTS Cirata, aktivitas laboratorium, serta mengenal budaya dan sejumlah destinasi wisata di Jakarta selama delapan hari, 5-10 Oktober 2026.
Wakil Rektor I Bidang Akademik ITPLN, Prof. Dr. Susy Fatena Rostiyanti, S.T., M.Sc., mengatakan mobilitas mahasiswa antarnegara memberikan pengalaman nyata yang tidak diperoleh hanya melalui pembelajaran di ruang kelas.
Menurut Susy, pertemuan mahasiswa Indonesia dan Malaysia memungkinkan mereka memperluas wawasan sekaligus membangun koneksi yang dapat berguna ketika memasuki lingkungan global.
“Saya sangat suka ketika pelajar datang ke kampus lain karena aktivitas seperti ini bukan hanya memperluas horizon, tetapi juga membuat koneksi antara satu sama lain,” ujar Susy di kampus ITPLN, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia mengatakan keberagaman latar belakang akademik dan budaya menjadi salah satu kekuatan program tersebut. Mahasiswa, kata dia, tidak sekadar mempelajari kultur negara yang dikunjungi, tetapi juga belajar memahami perspektif mahasiswa dari negara lain.
Susy berharap mahasiswa UTP memanfaatkan kesempatan tersebut untuk belajar dan membangun jejaring selama berada di Indonesia. Pengalaman lintas negara sejak masa pendidikan, menurut dia, menjadi modal untuk membentuk generasi yang mampu berperan sebagai pemimpin dalam komunitas global.
“Ketika kembali ke Malaysia, Anda akan menjadi pemimpin komunitas global karena pada langkah awal pendidikan sudah mengenal lebih dari hanya Malaysia, tetapi juga negara lain,” katanya.
Dosen UTP, Dr. Halimaton Hakimi, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan hospitality yang diberikan ITPLN. Ia menilai program tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat hubungan kedua institusi sekaligus membangun jembatan akademik antara Indonesia dan Malaysia.
“Program ini bukan sekadar mengunjungi universitas lain, tetapi membangun jembatan antara dua institusi, dua komunitas akademik, dan dua negara,” kata Halimaton.
Menurut dia, kerja sama kedua perguruan tinggi semestinya tidak berhenti pada program mobilitas mahasiswa. UTP dan ITPLN, kata Halimaton, memiliki peluang memperluas kolaborasi melalui kerja sama dosen, penelitian, konferensi, hingga berbagai kegiatan akademik lainnya.
Ia juga mendorong mahasiswa UTP, khususnya yang berada di tingkat akhir, memanfaatkan kunjungan industri dalam rangkaian program untuk menggali pengetahuan mengenai dunia kerja.
“Ini kesempatan untuk bertanya kepada mereka tentang apa yang harus dipersiapkan sebelum masuk ke dunia industri,” imbuhnya.
Halimaton menilai kebutuhan kolaborasi lintas negara semakin penting karena tantangan pendidikan tinggi dan dunia industri tidak lagi terbatas pada satu negara. Perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), menuntut perguruan tinggi memperkuat hubungan antara pendidikan dan industri.
Sementara itu, Manajer Bagian Kerja Sama Internasional ITPLN Nadia Paramita, mengatakan program tersebut dirancang bukan semata sebagai pertukaran mahasiswa, melainkan sebagai ruang untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, perspektif, dan membangun persahabatan.
“Program ini lebih dari sekadar student mobility. Ini kesempatan untuk menghubungkan orang, berbagi pengetahuan, merasakan perspektif yang berbeda, dan membangun persahabatan antara dua universitas dan dua negara,” kata Nadia.
Nadia mengatakan mahasiswa selama program akan mengikuti berbagai kegiatan akademik dan nonakademik. Selain sesi pembelajaran dan aktivitas laboratorium, mereka akan melakukan kunjungan ke sejumlah perusahaan serta mengikuti kegiatan yang mengenalkan warisan budaya dan kehidupan Jakarta.
Menurut Nadia, pengalaman tersebut diharapkan membantu mahasiswa mengembangkan kompetensi profesional sekaligus kemampuan beradaptasi di lingkungan multikultural.
Ia menyebut program mobilitas internasional penting untuk membentuk mahasiswa yang berpikiran terbuka, kolaboratif, adaptif, dan mampu berinteraksi lintas budaya.
“Harapannya, mahasiswa tidak hanya belajar dari kelas atau laboratorium, tetapi juga belajar satu sama lain,” tegasnya.
Melalui International Student Exchange Mobility ITPLN x UTP 2026, kedua institusi membuka peluang kerja sama yang lebih luas. Mobilitas mahasiswa menjadi pintu masuk untuk membangun jejaring akademik yang dapat berkembang menjadi kolaborasi penelitian, pengajaran, konferensi, dan kerja sama dengan industri.
Bagi mahasiswa yang terlibat, delapan hari di Indonesia bukan sekadar perjalanan akademik. Mereka membawa pulang pengalaman tentang kampus, industri, budaya, dan cara pandang baru—sekaligus membangun koneksi yang melampaui batas dua negara.*








