Haidar Alwi: Negosiasi Perdagangan Internasional Bukan Sekadar Kontak Dagang.

Wednesday, 16 April 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

DAELPOS.com – R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute, menyoroti urgensi dalam merespons dinamika global pasca kebijakan tarif Donald Trump, namun dengan pendekatan yang lebih tajam dan rasional. Dalam pandangannya, langkah negosiasi bukan solusi utama yang bisa langsung disiapkan seperti mengisi formulir ekspor-impor. Justru, terlalu tergesa-gesa dalam mengajukan negosiasi bisa menyeret Indonesia ke dalam posisi tawar yang lebih lemah secara sistemik dan geopolitik.

Dalam ekonomi global, negosiasi tarif adalah medan pertempuran high-stakes dengan elemen strategic leverage dan asymmetric dependency. Negara-negara yang sukses dalam negosiasi perdagangan adalah mereka yang membangun bargaining power dari dalam, bukan semata lewat retorika diplomatik.

Haidar Alwi menegaskan, “Kita tidak bisa datang ke meja perundingan hanya dengan daftar belanja, tapi tanpa struktur kekuatan ekonomi nasional yang kokoh.”

Jangan Terjebak pada Ilusi ‘Bilateral Charm’.

Ada anggapan populer bahwa cukup dengan menyusun tim, lalu melakukan pendekatan dagang kepada Amerika Serikat, maka masalah akan selesai. Namun Haidar Alwi mengingatkan, AS adalah negara dengan arsitektur ekonomi berbasis strategic autonomy dan mercantilist pragmatism, bukan sekadar mitra dagang konvensional. “Amerika bukan berdagang demi berdagang. Mereka berdagang untuk mempertahankan hegemoninya,” tegas Haidar Alwi.

Membahas kedelai, gandum, alat kesehatan, hingga minyak, Haidar Alwi melihat ada penyederhanaan berbahaya dalam cara berpikir. “Mengalihkan impor dari negara lain ke AS sebagai alat diplomasi tarif justru bisa menjadi bentuk baru dari commoditized dependency. Ini bukan strategi, ini pengalihan risiko tanpa mitigasi,” jelasnya.

Menurutnya, jika Indonesia ingin melakukan negosiasi, maka yang pertama harus dilakukan adalah memetakan ulang seluruh value chain domestik dan global yang terkait dengan sektor-sektor tersebut.

See also  Direksi Pertamina Raih Penghargaan di 2 Ajang Internasional

Negosiasi Tanpa Ketergantungan.

Dalam dunia game theory, negosiasi efektif hanya terjadi jika masing-masing pihak memiliki exit strategy. Tanpa itu, satu pihak akan selalu berada dalam submissive position. Oleh karena itu, Haidar Alwi menekankan pentingnya melakukan decoupling analysis terlebih dahulu, yakni sejauh mana ketergantungan Indonesia terhadap produk atau pasar Amerika, dan apakah ketergantungan itu bisa dieliminasi atau dikelola melalui diversifikasi yang presisi.

“Kita seringkali terlalu sibuk mengejar diskon tarif, tapi lupa menyiapkan economic redundancy. Dalam perang dagang, negara yang menang adalah yang bisa hidup tanpa satu mitra dagang sekalipun,” ujar Haidar Alwi.

Maka, sebelum bicara soal tawaran, Indonesia seharusnya memperkuat pilar-pilar domestik seperti intermodal logistic efficiency, non-tariff barrier restructuring, dan local content credibility.

Bargaining Power Tidak Bisa Diciptakan dalam Semalam.

Strategi yang diusulkan Haidar Alwi menitikberatkan pada long-range economic maneuver. Artinya, pemerintah harus menyusun peta jalan industri nasional berbasis kebutuhan strategis, bukan hanya permintaan mitra dagang.

“Amerika menghargai satu hal: kekuatan. Dan kekuatan ekonomi itu dilihat dari kemampuan kita mempertahankan trade resilience,” tegas Haidar Alwi.

Di sinilah letak perbedaan mendasar dari sekadar ‘mengatur ulang siapa yang kita beli dan jual’. Haidar Alwi menyarankan agar pemerintah memfokuskan energi pada pembangunan geo-economic corridor dan bilateral asset reciprocity. Misalnya, jika Amerika menuntut pasar, maka Indonesia harus meminta akses teknologi, lisensi produksi, hingga transfer intellectual property rights.

Negosiasi Butuh Landasan Industrial, Bukan Sekadar Janji Dagang.

Negara tidak bisa bernegosiasi jika masih berada dalam posisi defisit struktural dalam neraca berjalan. Sebelum membuka jalur negosiasi tarif dengan AS, Haidar Alwi menyarankan agar Indonesia membenahi current account imbalance melalui penguatan ekspor berbasis teknologi menengah dan tinggi. Produk agrikultur, meski penting, bukanlah alat tawar utama dalam era digital dan supply chain realignment global.

See also  Kunjungi Pasar Muntilan, Jokowi Cek Langsung Harga Minyak Goreng

“Kalau kita masih bertumpu pada ekspor bahan mentah dan mengimpor barang jadi dari AS, maka negosiasi apa pun hanya akan memperkuat dependency trap kita sendiri,” katanya. Di sinilah peran kebijakan jangka panjang seperti hilirisasi, industrial clustering, dan R&D-backed production scheme menjadi krusial.

Kebijakan Perdagangan Bukan Reaksi, Tapi Strategi.

Haidar Alwi mengingatkan bahwa ekonomi bukan arena spontanitas. Ia adalah medan rencana dan disiplin. Segala bentuk negosiasi dagang seharusnya menjadi bagian dari national economic doctrine, bukan respons terhadap tekanan luar. “Kalau kita tergesa-gesa bernegosiasi hanya karena ditekan tarif, itu artinya kita tidak punya arah. Lebih baik kita benahi rumah kita sendiri terlebih dahulu.”

Maka, dalam konteks global, bukan Amerika yang harus segera ditemui. Tapi Indonesia yang harus segera memantapkan dirinya. Ketika struktur ekonomi kuat, maka negosiasi akan datang dengan sendirinya, tanpa harus memohon atau menawarkan yang tidak kita miliki. Sebab, seperti ditegaskan Haidar Alwi,

“Negosiasi terbaik adalah ketika kita tidak perlu melakukannya,” pungkas Haidar Alwi.

Berita Terkait

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon
Dorong Ketahanan Pangan, Transmigran Gerbang Mas Perkasa dan TEP UI Sulap Lahan Tandus Jadi Pekarangan
Gunhar: Kekayaan Alam Harus Digunakan Sebesar-besarnya untuk Kesejahteraan Rakyat
Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Monday, 5 October 2026 - 13:04 WIB

Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan

Saturday, 3 October 2026 - 13:53 WIB

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 October 2026 - 10:54 WIB

Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Friday, 2 October 2026 - 12:41 WIB

Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon

Berita Terbaru