Haidar Alwi: Peran, Sumber Daya, dan Teknologi Metalurgi Ekstraktif untuk Unsur Tanah Jarang (REE).

Monday, 5 May 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

DAELPOS.com – Keberadaan Rare Earth Elements (REE) atau unsur tanah jarang semakin menarik perhatian publik global. Di tengah transisi energi bersih dan perlombaan teknologi tinggi antarnegara, REE menjadi komoditas strategis yang diperebutkan banyak kekuatan besar dunia. Namun ironisnya, di Indonesia, negara yang diperkirakan menyimpan potensi REE dalam jumlah besar, isu ini masih belum menjadi prioritas utama dalam kebijakan nasional.

R. Haidar Alwi, pendiri Haidar Alwi care dan Haidar Alwi institute mengingatkan bahwa Indonesia harus segera bangun dari tidur panjang. Menurutnya, REE adalah senjata masa depan yang tak berbentuk peluru, tetapi mampu menentukan arah kekuasaan ekonomi, pertahanan, dan inovasi teknologi global.

“Kita terlalu sering menjadi eksportir mentah dan penonton dari revolusi industri global. Kini, di tangan kita ada bahan dasar peradaban digital dan energi masa depan. Kita tidak boleh lengah,” ujar Haidar Alwi.(5/5/2025)

Logam Kecil, Dampak Global Besar.

REE adalah kelompok 17 unsur dalam tabel periodik, yang digunakan dalam berbagai teknologi mutakhir seperti mobil listrik, turbin angin, baterai energi baru, radar militer, dan satelit komunikasi. Bahkan dalam industri pertahanan, satu unit jet tempur modern seperti F-35 membutuhkan lebih dari 400 kg REE.

Meski disebut “tanah jarang”, unsur ini sebenarnya tidak terlalu langka dari sisi jumlah. Namun, kemurnian dan konsentrasi ekonomisnya sulit ditemukan. Itulah yang menjadikannya komoditas bernilai tinggi dan sulit digantikan. Negara-negara besar seperti Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, dan Uni Eropa berlomba-lomba mengamankan pasokan logam ini dari wilayah-wilayah yang potensial.

Indonesia dan Potensi yang Tersembunyi.

Sejumlah data dan riset geologi menunjukkan bahwa Indonesia menyimpan cadangan REE yang signifikan. Beberapa di antaranya bahkan telah tercatat dalam data Kementerian ESDM, antara lain:

See also  Presiden Jokowi dan Ibu Negara Ucapkan Selamat Idulfitri

1. Bangka Belitung: dikenal sebagai wilayah penghasil monazite, mineral pembawa REE yang umum ditemukan sebagai ikutan dalam tambang timah.

2. Kalimantan Barat dan Tengah: menyimpan mineral xenotime, juga termasuk pembawa REE yang potensial.

Estimasi total cadangan bijih xenotime di Indonesia mencapai lebih dari 6,4 miliar ton, sedangkan monazite terukur mencapai lebih dari 52 juta ton.

Haidar Alwi menyebut data ini sebagai peringatan sekaligus peluang. “Negara lain sibuk berebut, kita justru belum menyentuhnya secara serius. Ini salah satu aset yang bisa mengubah posisi geopolitik Indonesia,” jelasnya.

Teknologi Ekstraktif: Hambatan atau Peluang?

Mengolah REE tidaklah semudah menambang batubara atau emas. Diperlukan serangkaian proses yang kompleks, mulai dari cracking mineral refraktori, pelindian dengan pelarut kimia, hingga pemurnian ion individu dengan tingkat presisi tinggi.

Tantangan terbesar datang dari fakta bahwa sebagian besar mineral REE juga mengandung unsur radioaktif seperti thorium dan uranium. Hal ini membutuhkan teknologi pengolahan dan penanganan limbah yang sangat ketat dan aman.

Namun, menurut Haidar Alwi, tantangan bukan alasan untuk mundur, melainkan panggilan untuk membangun pusat riset nasional, mendorong transfer teknologi, dan menyiapkan SDM unggul di bidang metalurgi, geologi, dan kimia industri.

Lebih dari Sekadar Tambang: REE sebagai Komoditas Strategis Militer dan Energi.

Tidak seperti komoditas lain, REE bukan hanya menyangkut kebutuhan industri sipil. Ia menjadi penentu dalam strategi militer dan kedaulatan energi. Dalam berbagai laporan pertahanan Amerika dan Eropa, REE dikategorikan sebagai “critical raw material”, setara dengan minyak dan gas.

Indonesia sebagai negara dengan letak strategis di jalur Indo-Pasifik harus menyadari bahwa REE adalah bagian dari arena perebutan pengaruh global. Menurut Haidar alwi, jika Indonesia tidak mengelola sendiri sumber dayanya, bukan tidak mungkin negeri ini kembali tergantung pada impor komponen teknologi dari negara pemilik REE.

See also  Jaksa Agung akan bantu kembalikan Asset First Travel kepada korban

Menuju Hilirisasi dan Kemandirian Industri Teknologi.

Salah satu hal yang disoroti Haidar Alwi adalah kegagalan masa lalu Indonesia dalam melakukan hilirisasi. Selama ini, mineral diekspor dalam bentuk mentah, dan nilai tambahnya justru dinikmati negara lain.

Haidar Alwi menekankan pentingnya membangun:
1. Pabrik pemurnian REE (smelter berbasis teknologi tinggi).
2. Industri magnet permanen dalam negeri.
3. Kemitraan global yang adil dan transfer teknologi.

“Bayangkan jika kita bisa memproduksi komponen baterai, turbin, atau radar di dalam negeri. Kita tidak hanya mengekspor logam, kita akan ekspor produk teknologi,” ungkap Haidar Alwi.

Langkah Strategis dan Rencana Aksi Nasional.

Sebagai solusi konkret, Haidar Alwi mengajukan apa yang ia sebut sebagai “Rumus Strategi Nasional REE”:

R = Riset – Bangun pusat riset dan pengembangan REE dengan dukungan negara
E = Eksplorasi – Lakukan pemetaan potensi REE dari Aceh hingga Papua
E = Ekstraksi – Kembangkan teknologi pengolahan REE yang ramah lingkungan dan efisien

Konsep ini dinilai lebih realistis dibanding sekadar membentuk badan formal, karena langsung menyasar ekosistem sains, industri, dan kemandirian teknologi.

Kedaulatan Bukan Sekadar Retorika.

Haidar Alwi menyampaikan pesan yang dalam dan penuh makna:

“Jika kita gagal mengelola REE hari ini, kita akan mengemis teknologi di masa depan. Tapi jika kita berani berdiri sendiri, REE bisa menjadi gerbang menuju Indonesia yang benar-benar berdaulat secara ekonomi, energi, dan ilmu pengetahuan.”

Menurutnya, kedaulatan bukan sekadar slogan. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan, regulasi, dan keberpihakan kepada kepentingan nasional jangka panjang.

Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia dihadapkan pada satu pilihan besar: menjadi lumbung REE dunia yang dikuasai asing, atau menjadi poros kekuatan teknologi Asia dengan REE sebagai pijakannya.

See also  Cetak Uang

Langkah pertama hanya bisa diambil jika pemerintah, industri, dan akademisi mau duduk bersama dan bertindak sekarang, bukan nanti.

Berita Terkait

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon
Dorong Ketahanan Pangan, Transmigran Gerbang Mas Perkasa dan TEP UI Sulap Lahan Tandus Jadi Pekarangan
Gunhar: Kekayaan Alam Harus Digunakan Sebesar-besarnya untuk Kesejahteraan Rakyat
Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Monday, 5 October 2026 - 13:04 WIB

Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan

Saturday, 3 October 2026 - 13:53 WIB

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 October 2026 - 10:54 WIB

Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Friday, 2 October 2026 - 12:41 WIB

Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon

Berita Terbaru