DPD RI Perkuat RUU Perlindungan dan Pemberdayaan Petani

Wednesday, 24 June 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

daelpos.com– Komite II Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) memperkuat kesejahteraan petani dengan melakukan uji sahih Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Perubahan Ketiga atas Undang-Undang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani di Ruang Seminar Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta, Selasa (23/6). Isu utama yang diangkat oleh Komite II dalam RUU tersebut diantaranya penanganan pertanian akibat perubahan iklim, regenerasi petani, serta pengelolaan lahan dan air.

Ketua Komite II DPD RI Badikenita Br. Sitepu menegaskan bahwa Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani perlu diubah berdasarkan perkembangan kebutuhan petani. Selain itu, RUU ini juga ditujukan untuk menjawab berbagai tantangan sektor pertanian serta implementasi bagi perwujudan ketahanan pangan, ketahanan energi dan ketahanan air.

“Anak-anak muda sekarang sudah tidak mau jadi petani padahal regenerasi ini sangat penting, kemudian perubahan iklim dan tata kelola lahan, serta hilirisasi komoditas. Itulah revisi yang kita masukkan dalam RUU tersebut,” ujar Badikenita.

Seminar ini dihadiri oleh Anggota Komite II DPD RI, Dekan Fakultas Pertanian UGM, narasumber dari kalangan akademisi dan peneliti, tim ahli penyusun RUU, serta para pemangku kepentingan di sektor pertanian.

Dalam kesempatan yang sama, Anggota Komite II DPD RI DIY, Hilmy Muhammad menyampaikan bahwa sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang penting bagi perekonomian DIY. Berdasarkan data BPS, nilai sektor pertanian DIY meningkat dari sekitar Rp14,6 triliun menjadi Rp19,2 triliun pada tahun 2024 dan menyerap sekitar 18 persen tenaga kerja. Selain itu, DIY memiliki potensi pertanian yang beragam, mulai dari hortikultura dan peternakan di Sleman, sentra padi dan bawang merah di Bantul, komoditas perkebunan di Kulon Progo, hingga pengembangan bioindustri di Gunungkidul. Namun demikian, Hilmy menegaskan bahwa sektor pertanian DIY masih menghadapi tantangan serius berupa penyusutan dan alih fungsi lahan pertanian.

See also  Tekankan Prinsip Ramah Lingkungan dan Keberlanjutan, Wamen Diana Tinjau Terowongan Perlintasan Satwa di Tol Akses IKN

“Masalah yang klasik karena soal lahan. Tahun 2019 kita punya 76 ribu hektar, kalau tahun 2025 kita hanya 66 ribu hektar. Belum lagi masalah pengalihan lahan dan tanah-tanah yang tidak lagi diolah secara produktif,” terangnya.

Permasalahan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam sesi pemaparan akademisi oleh Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Jangkung Handoyo Mulyo. Ia menyoroti akses lahan sebagai salah satu persoalan krusial yang dihadapi petani saat ini. Menurutnya, jumlah petani gurem terus meningkat dalam satu dekade terakhir, sementara alih fungsi lahan pertanian ke pemukiman, kawasan industri, dan infrastruktur masih terus berlangsung.

“Kondisi tersebut dapat mengancam keberlanjutan usaha tani serta upaya mewujudkan swasembada pangan apabila tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan lahan pertanian yang lebih kuat,”tegasnya.

Selain persoalan lahan, aspek regenerasi petani juga menjadi perhatian dalam upaya menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Peneliti Ahli Utama BRIN Erizal Jamal, menekankan pentingnya tanggung jawab perguruan tinggi untuk mencetak petani muda sebagai upaya regenerasi petani di Indonesia. Ia menilai bahwa salah satu output mahasiswa pertanian, berupa lahirnya pelaku usaha muda di bidang pertanian. “Regenerasi petani perlu dilakukan secara terencana dan sistematis guna mendukung keberlanjutan sektor pertanian,”ucapnya.

Beberapa masukan didapatkan dari peserta seminar diantaranya petani milenial dari Kabupaten Sleman, Patrica Yuniarta. Ia mengatakan bahwa dalam draft RUU tersebut belum memuat hak dasar petani terhadap pasokan air irigasi yang konsisten dan perlindungan kualitas tanah. Selain itu juga perlu adanya pembatasan obat-obatan kimia berbahaya yang merusak kesuburan jangka panjang tanah pertanian.

“Yang terjadi di lapangan adalah banyak lahan yang sekarang ini alih fungsi lahan menjadi beton. Ada jaringan irigasi, tetapi airnya tidak ada. Kemudian saya kira perlu ada regulasi pembatasan obat-obatan atau racun yang berbahaya bagi tanah,” jelas Patrica.

See also  BEM UI Serukan 8 Tuntutan di Bundaran HI

Kegiatan ini menjadi forum untuk menghimpun masukan dari akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan, dalam rangka penyempurnaan substansi RUU guna memperkuat perlindungan petani dengan pemberdayan yang bersifat transformasional melalui peningkatan kapasitas, kemandirian dan daya saing.*

Berita Terkait

Indeks Udara Capai 414, Palangka Raya Diselimuti Kabut Asap
Kemendes Ajak UKKM Genjot Pengembangan Kopdes Merah Putih
Kementerian PU Kerahkan Alat Berat Percepat Pemulihan 8 Titik Longsor di Ruas Tapan–Jambi
Mendes Dukung Anyer Panarukan 3R, Dorong Kesejahteraan Warga.
Mentrans Iftitah: Revisi UU Transmigrasi Harus Jadikan Lahan Lebih Produktif, Rakyat Lebih Sejahtera
Kementerian PU Optimalkan Daerah Irigasi Waninggap Kai untuk Alirkan Air 1.000 Hektare Sawah di Merauke
Kementerian PU Kerahkan Pompa dan Excavator Tangani Banjir Kota Padang
Peraturan Ketat, Mendes Pastikan Pemain Liga Desa Asli dari Desa

Berita Terkait

Tuesday, 13 October 2026 - 07:06 WIB

Indeks Udara Capai 414, Palangka Raya Diselimuti Kabut Asap

Tuesday, 13 October 2026 - 07:00 WIB

Kemendes Ajak UKKM Genjot Pengembangan Kopdes Merah Putih

Tuesday, 13 October 2026 - 06:44 WIB

Kementerian PU Kerahkan Alat Berat Percepat Pemulihan 8 Titik Longsor di Ruas Tapan–Jambi

Monday, 12 October 2026 - 06:53 WIB

Mendes Dukung Anyer Panarukan 3R, Dorong Kesejahteraan Warga.

Monday, 12 October 2026 - 06:48 WIB

Mentrans Iftitah: Revisi UU Transmigrasi Harus Jadikan Lahan Lebih Produktif, Rakyat Lebih Sejahtera

Berita Terbaru

Berita Utama

BNI Dukung 24 UMKM Lokal Tampil di MotoGP Mandalika 2026

Tuesday, 13 Oct 2026 - 18:36 WIB

foto ist

Megapolitan

Pramono Dorong Kolaborasi Global untuk Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Tuesday, 13 Oct 2026 - 16:08 WIB