Ketika Gaza Ingin Dipindahkan, Anak-anaknya Hanya Ingin Pulang

Saturday, 5 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

daelpos.com – Menteri Israel Itamar Ben-Gvir usulkan pemindahan massal warga Palestina dari Jalur Gaza dalam tujuh tahun yang ia sebut sebagai emigrasi sukarela. “Alih-alih ilusi perdamaian sekarang, kita membutuhkan tindakan emigrasi sekarang,” katanya sebagaimana dimuat Reuters. Turki, Ethiopia, dan Kongo dipertimbangkan sebagai negara tujuan. Seperti biasa, asal sebut bahkan sebelum negara yang disebut tahu dan mau.

Bagi warga Palestina, “emigrasi sukarela” bukan istilah baru. Itu adalah kata lain untuk Nakba, pengusiran massal yang sudah terjadi sejak 1948. Di hari yang sama ketika berita itu beredar, SMART 171 menggelar sesi Temu Orang Tua Asuh Gaza secara daring. 8 anak yatim Gaza muncul di layar Zoom dan menyapa 80 orang tua asuh yang hadir.

Saed Mohammed, 12 tahun, sudah 15 kali berpindah tempat sejak genosida Oktober 2023. Ketika ditanya apa yang paling ia inginkan, ia tidak menyebut makanan, tidak menyebut uang. Ia hanya menjawab satu kalimat berulang-ulang seperti doa yang belum terjawab “Aku ingin kembali ke rumah.” Bukan ke Turki, Ethiopia, dan Kongo. Tetapi ke rumahnya. Di Gaza.

Ibrahim Hamada, 12 tahun, hafal Al-Quran sejak tiga tahun lalu. Tidur di tenda dalam panas yang hampir tak tertahankan. Ia punya mimpi menjadi insinyur agar bisa membangun kembali rumah-rumah Gaza. Dan sesungguhnya, ini bukan kali pertama cita-cita seperti ini terdengar. Kini, masjid tempat ia menghafal Quran, sekolah tempatnya belajar, hanya berupa tenda darurat. Wajar saja banyak anak Gaza mengidamkan jadi insinyur.

Majida Magde, 12 tahun, suka sekali melukis. Ia menunjukkan hasil lukisannya. Saying sekali waktunya kebanyakan dipakai untuk mengantre air, bukan untuk melukis. Senada, Mariam Ali Jendeya juga harus ikut dua antrian berbeda setiap hari, antre makanan dan air di tengah ribuan orang.

See also  Selesai Dibangun, Zona Sub Inti PLBN Terpadu Skouw Dukung Geliat Ekonomi Kawasan Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Ghada Hassan, 13 tahun, sudah hafal delapan juz. Perjalanan ke “masjid tenda” itu ditempuhnya dalam ketakutan, karena suara bom masih terdengar dari kejauhan. Tasnim Hamza, 11 tahun, hafal dua juz dan suka pelajaran IPA. Aya Al Huware, 12 tahun, sudah lima kali pindah. “Setiap tempat di Gaza tidak ada yang aman sekarang,” ucapnya. Yasmiin Maarouf, 13 tahun, baru naik SMP. Ditanya soal mimpinya, ia bilang ingin genosida berhenti dan Gaza kembali seperti dulu.

Anak-anak ini menunjukkan lukisan, ada pula yang membacakan hafalan surat favoritnya. Tak kalah, di awal sesi, Nabila Hasibuan mewakili orang tua asuh membacakan sebuah puisi. Puisi itu bercerita tentang pagi yang sederhana, rutinitas serupa jutaan anak di dunia. Tapi pagi itu berubah lewat dentuman roket. Tangannya meraba tanah, memanggil ibunya, tak ada yang menjawab. “Lalu pandangnya jatuh ke bawah, menggenang air mata di pelupuk. Kakinya hilang satu.”

Puisi itu, kata Nabila, ia tulis lama sebelum hari ini. Ketika dicek ulang untuk acara ini, ia menyadari sesuatu: “Kondisinya masih sama aja.”
Farah Qoonita, Direktur Smart 171 ungkapkan kondisi anak-anak Gaza, “Sama seperti kita, Mereka ingin sekolah, pengen main, punya mimpi. Tapi genosida menghancurkan mereka. Gaza kini menghadapi krisis yatim terparah sedunia.”

Kini ada 59.000 anak Gaza kehilangan orang tua, menjadi Yatim. Sementara Israel merancang rencana memindahkan mereka ke benua lain, orang tua asuh Indonesia memilih bertahan menemani 300 dari 59.000 anak yatim Gaza itu. Jumlahnya masih sangat kecil, tapi bermakna, setidaknya 300 anak ini tahu mereka tak sendirian.

Berita Terkait

Dari Panen ke Pasar, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayur ke SPPG
Bangun Infrastruktur, Berdayakan Masyarakat, PISEW Kementerian PU Serap 8.011 Tenaga Kerja
Kementerian PU Perkuat Fungsi Strategis Infrastruktur Konektivitas, 4 Pesawat Tempur Uji Coba Pendaratan di Tol Pasuruan–Probolinggo
Hutama Karya Perkuat Pemulihan Jalan Pascabencana di Aceh, Penanganan Terus Berjalan
Kementerian PU Tangani Pascabencana Banjir di Padang melalui Padat Karya, Libatkan Warga dalam Pemulihan Permukiman
Menteri Dody Minta Kapasitas Jalan Banda Aceh–Krueng Raya Disiapkan untuk Kebutuhan Mendatang
Menteri Dody Pastikan Infrastruktur Pengendali Banjir di Sungai Krueng Aceh Siap Hadapi Musim Hujan
Menteri Dody Siapkan Pembangunan Check Dam dan Normalisasi Sungai di Padang

Berita Terkait

Saturday, 24 October 2026 - 21:19 WIB

Dari Panen ke Pasar, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayur ke SPPG

Saturday, 24 October 2026 - 18:18 WIB

Bangun Infrastruktur, Berdayakan Masyarakat, PISEW Kementerian PU Serap 8.011 Tenaga Kerja

Friday, 23 October 2026 - 23:26 WIB

Kementerian PU Perkuat Fungsi Strategis Infrastruktur Konektivitas, 4 Pesawat Tempur Uji Coba Pendaratan di Tol Pasuruan–Probolinggo

Friday, 23 October 2026 - 08:43 WIB

Hutama Karya Perkuat Pemulihan Jalan Pascabencana di Aceh, Penanganan Terus Berjalan

Wednesday, 21 October 2026 - 13:14 WIB

Kementerian PU Tangani Pascabencana Banjir di Padang melalui Padat Karya, Libatkan Warga dalam Pemulihan Permukiman

Berita Terbaru

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi / Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia / foto ist

News

Bahlil Targetkan PNBP ESDM Rp165 Triliun

Saturday, 24 Oct 2026 - 18:33 WIB

foto ist

Ekonomi - Bisnis

BRI Dukung Talenta Muda Siap Kerja Lewat Program Magang

Saturday, 24 Oct 2026 - 18:29 WIB