daelpos.com – Masyarakat Desa Sebunga di Kawasan Transmigrasi Gerbang Mas Perkasa, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, kini dapat menghemat biaya belanja harian sekaligus mewujudkan kemandirian pangan keluarga. Manfaat nyata ini dirasakan langsung oleh warga setelah pekarangan rumah yang sebelumnya tandus dan berbatu berhasil disulap menjadi kebun sayur berkat gotong royong bersama Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (TEP UI).
“Kami senang dengan adanya Tim Ekspedisi Patriot, ibu-ibu di sini jadi ada kegiatan yang produktif. Hasil sayurannya nanti bisa untuk makan sehari-hari, tidak perlu membeli. Kalau membeli sayuran dari Sambas itu jauh, butuh dua jam perjalanan,” ujar Bu Ana Sofia, salah satu warga pemilik pekarangan percontohan di Sebunga, Selasa (1/9) lalu.
Sebelumnya kondisi fisik lahan menjadi rintangan utama di kawasan tersebut. “Di sini tanahnya kering, kuning berbatu, tidak ada air. Bukannya kami tidak mau menanam sayur, tetapi susah karena tanaman gampang mati,” ujar Mak Ola, warga transmigrasi lainnya menceritakan tantangan di wilayahnya, sabtu (29/8) lalu.
Merespons kendala tersebut, TEP UI menggelar Focus Group Discussion (FGD) pada Sabtu (29/8/26) lalu. Hasilnya warga menentukan lokasi lahan dan menyepakati penanaman 10 komoditas yang paling dibutuhkan yaitu timun, cabai, tomat, selada, daun bawang, kacang panjang, labu, kangkung, sawi, dan tanaman obat keluarga.
Proses penanaman dilakukan secara bertahap, dimulai dengan penggemburan tanah selama tiga hari menggunakan traktor tangan hasil dukungan dari Kapolsek Sajingan Besar. Dilanjutkan dengan penaburan kapur dolomit untuk menetralkan tanah yang asam dan penyemaian di rumah bibit menggunakan jaring peneduh. Tanah yang tidak lagi asam kemudian diperkaya dengan limbah sawit janjang kosong, pupuk kandang, pupuk organik cair dan pestisida nabati.
“Optimalisasi pekarangan ini merupakan bagian dari konsep Integrated Farming. Kami berharap, dengan adanya local champion dan kesepakatan sosial, program ini terus berjalan berkelanjutan secara mandiri,” ujar Rahayu, perwakilan TEP UI, Jumat (25/9) lalu.
Upaya kemandirian pangan di daerah transmigrasi ini sejalan dengan visi prioritas pemerintah pusat.
“Di tengah dunia sekarang, dunia yang penuh dengan konflik, bahkan dengan perang-perang di mana-mana, kita harus swasembada pangan, kita harus swasembada energi. Kita tidak boleh bergantung dengan bangsa lain,” ujar Presiden RI Prabowo Subianto dalam Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG) pada Sabtu, (19/9/26).
Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono juga menambahkan agar para Patriot bisa memetakan masalah yang dihadapi masyarakat dan mencarikan solusi yang terbaik yang bisa ditindaklanjuti untuk memajukan ekonomi warga.
“Karena permasalahan itu pada akhirnya konteksnya lokal. Jadi kita boleh berpikir besar, sering kita menggunakan istilah think globally but act locally. Pada akhirnya lokal,” ujar Menko AHY saat audiensi dengan Tim Ekspedisi Patriot di Jayapura, Kamis, (17/9) lalu.
Prinsip menghadirkan manfaat yang berkelanjutan juga menjadi pesan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. “Transformasi transmigrasi hari ini bukan sekadar memindahkan penduduk, melainkan bagaimana memastikan kesejahteraan tumbuh di kawasan tersebut,” ujar Menteri Iftitah, Selasa (27/4) lalu.








