daelpos.com – Perkembangan industri mineral kritis Indonesia memasuki fase baru. Setelah investasi mengalir ke pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian, perhatian industri kini bergeser pada persoalan yang lebih menentukan daya saing: struktur pasokan, keekonomian pengolahan, harga, pembiayaan proyek, kualitas produk hilir, hingga kemampuan Indonesia memenuhi standar rantai pasok global.
Isu tersebut menjadi salah satu pembahasan utama dalam International Critical Minerals and Metals Summit (ICMMS): Indonesia 2026 yang berlangsung pada 27–30 September 2026 di Bali. Fastmarkets bekerja sama dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menyelenggarakan forum ini untuk mempertemukan pemerintah, investor, pelaku industri, perusahaan pengolahan, produsen material baterai, lembaga keuangan, hingga pelaku perdagangan komoditas dari berbagai negara.
“Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah menyusun peta jalan pengembangan industri hilir yang mencakup 28 komoditas strategis, dengan estimasi kebutuhan investasi mencapai USD 618,1 miliar hingga 2040, dan sektor mineral dan batu bara menjadi salah satu peluang terbesar dalam peta jalan ini. Pengembangan hilirisasi Indonesia saat ini bergerak melalui tiga tahapan strategis. Selama ini, kita telah membangun fondasi pengolahan mineral melalui smelter dan fasilitas pemurnian. Saat ini, prioritas kita memasuki Tahap Dua, yaitu memperluas pengembangan ke industri baterai kendaraan listrik, Battery Energy Storage System (BESS), serta manufaktur bernilai tambah tinggi lainnya,” ujar Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM Heldy Satrya Putera.
Perubahan fokus tersebut terjadi ketika investasi hilirisasi Indonesia telah mencapai skala yang semakin besar. Pada Semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, setara 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional dan tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Dari nilai tersebut, penanaman modal asing mencapai Rp212,8 triliun atau 70,9 persen, sedangkan penanaman modal dalam negeri sebesar Rp87,3 triliun atau 29,1 persen.
Dari capain tersebut dapat terlihat bahwa Indonesia telah mencatatkan kemajuan yang signifikan dalam mengembangkan industri hilirnya serta memiliki peluang luar biasa untuk memperkuat posisinya dalam rantai nilai mineral kritis global.
Tahap selanjutnya adalah melanjutkan capaian tersebut dengan mendukung pasar yang kompetitif, menarik investasi jangka panjang, dan memastikan produk-produk Indonesia dapat memenuhi kebutuhan pembeli global yang terus berkembang.
“Kolaborasi yang solid antara pemerintah, industri, dan komunitas investor akan sangat penting untuk mewujudkan potensi tersebut, dan ICMMS 2026 menyediakan forum strategis guna menyatukan berbagai perspektif ini,” ujar Catherine Oates, Managing Director Fastmarkets.
Besarnya investasi yang telah masuk membuat pembahasan hilirisasi bergeser dari sekadar pembangunan fasilitas menuju bagaimana industri tersebut dapat menghasilkan produk yang kompetitif dan terhubung dengan pasar global. Dalam konteks mineral kritis, persoalannya mencakup dari mana bahan baku diperoleh, berapa biaya pemrosesannya, bagaimana produk dihargai, siapa pembelinya, hingga standar apa yang harus dipenuhi untuk masuk ke pasar global. Forum ini menempatkan isu kebijakan nikel, kekuatan harga, disiplin pasokan, dan aturan perdagangan sebagai bagian penting dalam agenda ICMMS 2026.
Sementara itu, topik pembahasan di sisi pengolahan yang dibahas adalah keekonomian HPAL dan daya saing asam sulfat. Perkembangan kapasitas HPAL di Indonesia juga menjadi bagian dari dinamika global industri nikel dan bahan baku baterai. Agenda ICMMS 2026 secara khusus membahas struktur biaya HPAL dan asam sulfat serta pilihan teknologi pengolahan nikel.
Persoalan berikutnya berada di tingkat yang lebih hilir. Pengembangan prekursor dan katoda tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku, tetapi juga teknologi, kualitas produk, pembeli, dan kepastian keekonomian proyek. Karena itu, diskusi mengenai material baterai dalam ICMMS 2026 tidak berhenti pada kapasitas produksi, tetapi menyentuh pertanyaan mengenai produk hilir seperti apa yang memiliki pasar dan dapat bersaing dalam rantai pasok kendaraan listrik global.
Pada saat yang sama, standar perdagangan global ikut mengubah cara industri mineral beroperasi. Environmental, Social, and Governance (ESG), keterlacakan rantai pasok, Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM), dan Human Rights Due Diligence (HRDD) semakin berkaitan dengan akses pasar dan keputusan pembelian. Bagi industri Indonesia, pemenuhan standar tersebut menjadi bagian dari persoalan daya saing, bukan semata isu kepatuhan. Dalam forum ini juga dibahas ESG, CBAM, keterlacakan, dan perkembangan aturan perdagangan sebagai bagian dari agenda utama ICMMS 2026.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persaingan mineral kritis ke depan tidak hanya berlangsung pada tingkat kepemilikan sumber daya. Persaingan juga terjadi pada kemampuan membangun rantai nilai yang efisien, menyediakan produk dengan spesifikasi yang dibutuhkan pasar, memperoleh pembiayaan, mengelola biaya produksi, serta memenuhi standar yang diterapkan oleh pembeli dan negara tujuan.(*)








