Stand Up Nangis

Monday, 27 April 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dahlan Iskan

DAELPOS.com – Alhamdulillah ini tiga kali. Vent-I sudah lolos uji kementerian kesehatan.

Fightcovid19.id sudah akan dipakai secara nasional. 

Hafidz yang mengusulkan sistem pool test sudah diajak bicara oleh BNPB.

Anak-anak negeri yang cerdas itu begitu termotivasi –untuk ikut menemukan jalan keluar persoalan bersama.

Ahmad Alghozi Ramadhan kini sudah tinggal di Jakarta. Sejak ia dipanggil oleh BNPB. Ghozi sekarang tidur di salah satu kamar di kantor itu.

Ghozi sudah lega.

Sebelumnya ia sempat nangis tengah malam –dengan perasaan tertekan. Waktu itu ia masih di Bangka. Tiba-tiba begitu banyak telepon yang harus ia terima.

Ia masih terlalu muda untuk menerima tekanan kanan-kiri. Umurnya baru 22 tahun. Pergaulan lamanya lebih banyak hanya satu arah: dengan komputer. Yang tidak pernah bisa mengancamnya. 

Sejak terkenal itu (Baca DI’s Way: Milenial Nakal) Alghozi harus berinteraksi dengan banyak orang –dengan segala watak dan karakter mereka. 

Tapi setelah BNPB merangkulnya Ghozi menjadi tenang. Bahkan lebih semangat lagi. Tidak pernah lagi ia curhat tengah malam –yang isi curhat itu baru bisa saya baca saat sahur.

Dr. Syarif ”ITB Salman” Hidayat juga sudah bisa lebih fokus pada produksi ventilator non-invasive Vent-I. Setelah pemerintah meluluskan penemuannya itu lewat tes uji dua kali. 

Memang Vent-I masih harus diuji di lapangan. Yakni harus dicoba di 10 rumah sakit dulu. Itulah uji klinis yang harus dilalui.

Setelah itu permohonan izin edar harus dimintakan. Tanpa izin edar Vent-I tidak boleh dipakai secara umum. Baik di rumah sakit maupun untuk kepentingan pribadi orang per orang.

Padahal banyak orang yang tidak terkena corona pun ingin meningkatkan daya serap oksigen di tubuh mereka. Agar lebih sehat.

See also  Dua Tersangka Penyiram Novel Segera Diseret Ke Pengadilan

Toh harganya tidak mahal. Sekitar Rp 12,5 juta –katakanlah sampai Rp 15 juta. Apalagi di rumah bisa dipakai bergantian –suami dan istri.

Bahwa Ghozi sudah tidak nangis tengah malam berarti jiwanya sudah semakin kuat. Apalagi pada dasarnya ia bukan hanya milenial nakal. Ia juga seorang humoris.

Ghozi pernah ikut stand up comedy. Manggung dari cafe ke cafe. Bersama Agung Pratomo –yang punya nama panggung Agung Sadega. Yakni ketika keduanya masih SMA di Bangka.

”Kok sekarang Anda tidak lucu lagi?” tanya saya kemarin.

”Badan saya yang sudah lebih lucu,” jawabnya.

Ghozi menjadi gemuk sejak menekuni IT. Wajahnya sudah lebih banyak mecucu daripada tertawa.

”Siapa yang lebih lucu? Anda atau Agung?” tanya saya.

”Kan bapak bilang saya sudah tidak lucu lagi. Ya beliaulah yang lebih lucu,” jawabnya.

Ghozi sangat berhutang budi pada Agung Sadega. Agunglah yang memperkenalkan Ghozi ke temannya. Kebetulan teman Agung itu menjabat Wakil Bupati Belitung. Namanya: Isyak Meirobie. 

Kalau di Kabupaten Belitung Timur ada BTP, di Kabupaten Belitung ada Isyak. Sama-sama suku Tionghoa –tapi beda jauh tutur bahasanya. Sama-sama tertarik politik –tapi Isyak memulainya sejak semester 5.

Isyak langsung ”ok” ketika Agung memberitahunya tentang aplikasi yang dibuat Ghozi.

Itu masih awal Maret.

Jam itu juga Isyak membentuk grup WA. Anggota grup itu 3 orang: Isyak, Agung, dan Ghozi. Diskusi tentang aplikasi itu dibicarakan intensif di grup itu.

Tiga hari kemudian sudah bisa diputuskan: Belitung langsung memanfaatkannya. Isyak-lah yang menambahkan ide perlunya dikombinasikan dengan gelang konser.

Ghozi setuju.

Hari itu juga, Isyak pesan gelang di Jakarta. Besoknya sudah bisa dikirim ke Belitung.

See also  Siap Dioperasikan, Tol Bogor Outer Ring Road Seksi IIIA (Ruas Simpang Yasmin - Kayu Manis)

Isyak pun langsung lapor ke Gubernur Bangka Belitung, Elzardi Roesman. Sang gubernur sangat responsif. Bahkan langsung memanggil Ghozi ke Bangka. Memberinya pula tempat tinggal sementara.

Provinsi Babel menjadi yang pertama menerapkan aplikasi Fightcovid19.id.

Isyak ikut bersyukur nama Ghozi kini menasional. Meski hubungan Isyak-Ghozi begitu intens tapi keduanya belum pernah baku muka. Ghozi belum sempat ke Belitung.

Inilah zaman baru: membuat keputusan penting lewat serba online.

Hanya saja keadaan cepat berubah.

”Fungsi gelang itu sekarang dialihkan. Bukan lagi untuk penumpang pesawat yang tiba di Belitung tapi untuk penduduk yang harus isolasi,” ujar Isyak. 

Itu karena tidak ada lagi pesawat yang mendarat di Belitung. Dari 14 kali sehari, menjadi sekali, menjadi tidak ada sama sekali. Yakni sejak secara nasional dilarang tiga hari lalu.

”Aplikasi Ghozi tetap besar manfaatnya,” ujar Isyak yang sejak masih mahasiswa sudah jadi tokoh nasional. Yakni sejak masih berumur 22 tahun. Waktu statusnya masih mahasiswa interior desain di Universitas Tarumanegara, Jakarta. 

Isyak-lah yang waktu itu menjadi salah satu pendiri Himpunan Mahasiswa Tionghoa Indonesia. Ia pula yang pertama menjadi ketua umumnya.

Saat itu suasana reformasi memang sangat kuat. Semua kelompok masyarakat menguatkan identitas masing-masing.

Suasana reformasi pula yang membawa Isyak ke politik. Ia selalu memenangkan sayembara karya tulis di kampusnya. Dan ia selalu menulis tentang politik.

Itu sebagai sumpahnya di saat ayahnya meninggal dunia di usia 65 tahun. Waktu itu Jakarta rusuh rasial. Sang ayah –yang lagi menengok anaknya di Jakarta– depresi.

”Keluarga kami di Jakarta sebenarnya aman. Tetangga kami banyak haji dan baik-baik semua,” ujar Isyak.

Ketika umur 26 tahun Isyak ikut mendirikan partai baru: Partai Indonesia Baru (PIB). Dengan tokoh sentral Dr Syahrir. Isyak menjadi salah satu ketua pimpinan pusat BIP –di umurnya itu. 

See also  5 Arahan Presiden Jokowi terkait Penerapan Adaptasi Kebiasaan Baru

Dari sinilah Isyak menjadi caleg DPRD Belitung. Terpilih. Termuda. Nama panggilannya tetap Isyak –meski ia masih punya marga: Li.

Dan sekarang Isyak menjadi wakil bupati di sana. Di umurnya yang 42 tahun.

”Saya bangga sekarang nama Ghozi sudah menasional,” ujar Isyak.

Di BNPB, Ghozi tetap dengan kebiasaannya: ngalong –seperti kalong: tidak tidur sepanjang malam. Begitulah umumnya anak muda IT.

Ghozi baru tidur jam 6 pagi atau satu jam kemudian. Ketika orang normal mulai masuk kantor, barulah Ghozi tidur. Sampai jam 11 siang. Lalu kerja lagi sepanjang sore dan malam.

Ia juga bisa menerima kenyataan: oleh BNPB nama aplikasinya akan diubah. Pada saatnya nanti akan diluncurkan nama baru: bersatulawancovid.id.

Yang penting jangan nangis-nangis lagi ya Ghozi. Gak lucu! (Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon
Dorong Ketahanan Pangan, Transmigran Gerbang Mas Perkasa dan TEP UI Sulap Lahan Tandus Jadi Pekarangan
Gunhar: Kekayaan Alam Harus Digunakan Sebesar-besarnya untuk Kesejahteraan Rakyat
Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Monday, 5 October 2026 - 13:04 WIB

Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan

Saturday, 3 October 2026 - 13:53 WIB

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 October 2026 - 10:54 WIB

Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Friday, 2 October 2026 - 12:41 WIB

Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon

Berita Terbaru

Nasional

Mendes Yandri Ajak ISSF dan Perusahaan Mitra Perluas Desa Binaan

Wednesday, 7 Oct 2026 - 18:48 WIB

Energy

Fasilitasi OTA Wolbachia di Kampus, ITPLN Aktif Berantas DBD

Wednesday, 7 Oct 2026 - 16:39 WIB