Dahlan Iskan: 100.000

Tuesday, 26 May 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Dahlan Iskan

DAELPOS.com – Menyalahkan gubernur sudah. Menyalahkan ilmuwan medis sudah. 

Sudah mengalahkan Tiongkok. Pun menyalahkan pendahulunya, Barack Obama.

Tapi yang meninggal akibat Covid masih terus naik. Hari ini mencapai 100.000 orang. Di Amerika Serikat.

Sekarang Presiden Donald Trump ganti kesalahan angka itu.

Ia mempersoalkan jumlah orang mati biasa dibukukan akibat Covid-19. Karena mereka mati karena penyakit yang lain. 

Untuk Amerika, angka yang akan melewati 100.000 itu akan melewati korban perang. Terkait perang dunia pertama. Juga kekalahan di perang di Vietnam.

Angka itu ”berarti banget”. Itu sebabnya harian paling bergengsi di Amerika, The New York Times, diterbitkan edisi khusus. Hari Minggu kemarin. Sangat mengejutkan. Sangat tidak biasa: halaman depan hanya berisi daftar nama yang diterima.

Tanpa judul.

Tanpa foto.

Hanya deretan 100.000 nama dengan huruf yang sangat kecil.

Halaman depan koran dengan wujud seperti itu saya artikan sebagai protes. Sebagai krit

NYT seperti beranggapan kritik dalam bentuk berita sudah tidak mempan. Judul-judul besar seperti tidak berarti. Pun foto-foto dramatik.

”Saya sudah setengah abad membaca The New York Times. Belum pernah menemukan halaman depan seperti ini, ”ujar seorang pembaca di New York –yang saya kutip di sini dari media di sana.

Melihat halaman depan seperti itu, saya pun, bisa merasakan sensasinya. Lihat foto halaman depan itu –yang saya sertakan di sini. 

Itulah wajah depan The New York Times yang putih.

Bentuk protes seperti itu tidak akan bisa dilakukan media online .

Dulu, di Indonesia, juga pernah terjadi. Di zaman Orde Baru. Saat kebebasan pers sangat terkekang. Pers bisa diberedel. Pemerintah sering membahas pembuatan berita. Kadang dengan kerdipan mata. Lebih sering lewat telepon.

Dering itu kadang baru berbunyi tengah malam. Saat berita yang dikeluarkan sudah telanjur ditata di percetakan. 

See also  Pandemi Tidak Menjadi Penghalang untuk Tetap Berkreasi

Sulit sekali.

Jika harus diganti bisa gawat –akan telat diterbitkan. Apalagi kabar nya juga sudah telanjur pulang.

Maka redaksi yang pemberani akan mencopot berita itu. Begitu saja. Untuk diganti blok hitam. Besoknya koran diterbitkan seperti wajah cantik yang dicoreti arang di pipinya.

Pembaca pun mafhum: ada yang lagi disensor. Lalu kasak-kusuk. Masyarakat pun cari bocorannya: ada pemutaran apa? Bocoran itu lebih seru dari yang diterjemahkan. 

Hitam itu sebagai protes.

Putih itu sebagai protes.

Marah dalam diam sampai hitam. Pun sampai putih.

The New York Times dapat memadukan antara jurnalistik, kontrol sosial, protes, dan marah dengan bungkus artistik.

Memang redaksinya sudah lama jengkel terhadap Trump – pun sejak ia belum jadi presiden. Maka, kompilasi angka-angka korban Covid terus membumbung, mereka sampai pada kesimpulan: pasti akan mencapai 100.000 orang. Itu karena media melihat Presiden Trump kurang serius menggunakan Covid-19.

Apa yang akan dilakukan media seperti The New York Times?

Diskusi pun dilakukan internal. Melibatkan staf artistik. Banyak ide yang muncul: penuhi saja halaman depan dengan foto-foto wajah korban –kecil-kecil.

Tapi itu sudah biasa. Dan halaman depan itu akan terlihat kotor.

Ada pula ide halaman depan hanya untuk titik-titik. Sebanyak 100.000 titik. Gagasan ini dianggap kurang menusuk ke relung hati.

Akhirnya diputuskan nama-nama itu. Saya mengagumi ide itu. Dan mengagumi yang berhasil ide itu.

Tapi mengapa korban di sana sampai 100.000?

Trump tidak akan disetujui sebesar itu. Ia pernah menganggap Covid itu begitu sepele. ”Kan hanya 15 orang yang mengeluarkan virus,” katanya akhir Februari lalu. ”Dalam beberapa hari lagi akan teratasi. Akan menjadi nol, ”tambahnya. 

Sewaktu mati mencapai 30.000 orang ia baru mengatakan ini: Haruskah mati mencapai 70.000 sampai 100.000. Tapi ia punya maksud khusus dengan menyebut angka besar itu. Maksudnya: jika terbukti yang mati 50.000 ia bisa menjawab sendiri: lebih kecil dari estimasi.

See also  Genjot Target E20, Pertamina Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol Domestik

Ketika angka sudah melewati 50.000, ia akan mengeluarkan estimasi ahli: akan mencapai 200.000. Agar –kalau terbukti 100.000– ia masih bisa bangga: jauh di bawah harapan.

Di mata Trump, bisa saja, yang mati itu memang hanya angka-angka. (Dahlan Iskan) 

Berita Terkait

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja
Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi
Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon
Dorong Ketahanan Pangan, Transmigran Gerbang Mas Perkasa dan TEP UI Sulap Lahan Tandus Jadi Pekarangan
Gunhar: Kekayaan Alam Harus Digunakan Sebesar-besarnya untuk Kesejahteraan Rakyat
Menteri Dody Sisir Titik Kekeringan, Perjuangkan Air bagi Petani demi Swasembada Pangan

Berita Terkait

Wednesday, 7 October 2026 - 12:50 WIB

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Monday, 5 October 2026 - 13:04 WIB

Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan

Saturday, 3 October 2026 - 13:53 WIB

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 October 2026 - 10:54 WIB

Hari Batik Nasional, Pertamina Buka Ruang Berkarya dan Kemandirian Ekonomi

Friday, 2 October 2026 - 12:41 WIB

Sawah Kekurangan Air, Pompa Dikerahkan di Bekasi hingga Cirebon

Berita Terbaru