Perjuangan Dokter Sri Riyanti Melawan Pandemi dari Ujung Timur Indonesia

Thursday, 22 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Dr Sri Riyanti Windesi SpA / Net

Dr Sri Riyanti Windesi SpA / Net

DAELPOS.com – Dr Sri Riyanti Windesi SpA, pertama kali praktik dokter umum di Pusat Kesehatan Masyarakat (PKM) Siriwini Nabire, Papua tahun 1994. Kemudian pertama praktik spesialis anak di RSUD Fakfak Papua Barat 2012 dan sempat berpindah-pindah di Raja Ampat, Kaimana, hingga saat ini mengabdi di RSUD Selebesolu kota Sorong.

Dia menceritakan, awal pandemi pada Maret 2020, lonjakan kasus berfluktuasi. Tapi yang terparah waktu itu sekitar Juni-September 2020 untuk kasus anak, meski kebanyakan kasusnya ringan. Awal ikut menanganinya pasien Covid-19, keluarga sangat cemas, apalagi saat itu pengetahuan tentang covid masih sangat terbatas. Meskipun cemas, menurut dr Riyanti, keluarga sangat mendukung pekerjaannya, serta terus mengingatkan untuk selalu patuh protokol kesehatan. 

Karena tiap hari kontak pasien dan keluar rumah disaat yang lain harus stay at home, dr Riyanti memilih pisah kamar tidur, kamar mandi dan semua peralatan yang dari luar harus didesinfeksi.

“Jujur sebagai manusia biasa pada awal merawat pasien Covid-19 saya sangat takut dan cemas. Apalagi setiap hari mendengar berita teman sejawat yang berguguran akibat Covid-19,” kata dr SriRiyanti.

Dokter umum dan dokter spesialis anak dari Universitas Airlangga Surabaya ini juga mengatakan, tantangan di awal pandemi di antaranya lingkungan sebagian ada yang percaya Covid-19, sebagian lagi tidak percaya dan menganggap dirinya berlebihan. Begitupun ketika tenaga kesehatan mulai dapat bantuan mask N95, pihak rumah sakit malah dinilai sengaja membuat situasi nampak buruk agar bisa meng-covid-kan pasien demi mendapat keuntungan.

“Sedih bila ada keluarga pasien yang menghujat nakes, mengatakan kami sengaja meng-covid-kan semua pasien,” ujar dokter kelahiran Kota Biak, Papua ini.

Dia juga menyayangkan jika ada keluarga pasien yang tidak jujur. Misalnya menyembunyikan rapid anaknya yang reaktif yang membuat banyak tenaga kesehatan ikut terpapar. Apalagi awal pandemi jumlah APD masih sangat terbatas.

See also  Stigma Negatif Masyarakat Hambat Eliminasi HIV AIDS di Indonesia

Waktu terus berjalan dengan suka duka yang dirasakan dr Riyanti. Sukanya kalau ada pasien sembuh, yang tadinya positif akhirnya swabnya negatif dan boleh pulang.  Senang melihat orangtua yang tadinya cemas bisa tersenyum lega. 

“Senang juga saat hasil swab kami semua petugas yang terpapar hasil swabnya negatif,” tutur dr Sri Riyanti.

Namun dukanya tentu saja kalau mendengar ada yang meninggal. “Meskipun pasien saya alhamdulillah tidak ada yg meninggal karena covid,” katanya.

Karenanya dr Sri Riyanti menyesalkan melihat orang-orang yang masih melanggar, keluar rumah, dan kumpul-kumpul tanpa masker. Dia sempat merasa seandainya boleh memilih tentunya ingin tinggal dirumah saja, tidak diliputi kecemasan setiap hari menjadi sumber penularan buat orang yang disayanginya dirumah. 

“Dalam benak saya bila memang takdir membuat saya terkena paling tidak keberadaan saya memberi manfaat buat orang lain, soal hidup dan mati biarlah menjadi rahasia Allah SWT,” katanya.

Hal lain yang tetap membuatnya kuat menghadapi kondisi ini adalah masih banyak teman, sahabat, keluarga yang mengapresiasi pekerjaan tenaga kesehatan, yang juga mendoakan agar tetap semangat dan menjaga diri. Tentu itu semua sangat membantu mengembalikan semangat dan menguatkan saat saya merasa lelah dan frustasi. 

“Alhamdulillah makin kesini saya makin tenang, makin bisa berdamai dengan pandemi ini, apalagi setelah makin banyak orang mendapat vaksinasi. Protokol kesehatan akhirnya menjadi prosedur tetap yang mengalir begitu saja, menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujar dr Sri Riyanti.

Terkait kondisi pandemi saat ini, menurut dr Riyanti, di kota Sorong masih fluktuatif, kebanyakan kasus anak adalah cluster keluarga dimana satu keluarga terpapar Covid-19 bersama. Hal ini sepertinya akibat mulai aktifnya kegiatan di luar rumah. Banyak acara keluarga seperti pesta nikah, arisan keluarga, juga mulai masuk sekolah. Selain itu juga sebagian masyarakat sudah mulai abai terhadap prokes sehingga kasus cenderung mulai meningkat. Selain itu banyak orang tua yang menolak perawatan bila anaknya dicurigai terpapar covid dan memilih pulang serta menolak pemeriksaan lanjutan.

See also  Menkop: Daerah Harus Siapkan Produk UMKM Unggulan yang Berdaya Saing

“Kasus kematian mulai meningkat lagi meskipun pada anak hingga saat ini sangat jarang dan semoga tidak ada,” katanya. 

Buat masyarakat yang masih abai terhadap protokol kesehatan, dr Sri Riyanti mengingatkan, apakah bukti-bukti yang ada setahun ini masih kurang? Begitu banyak orang kehilangan keluarga apakah tidak cukup meyakinkan bahwa Covid-19 itu memang ada dan berbahaya? Ada juga yang beralasan  sudah divaksin sehingga merasa tidak akan tertular Covid-19. 

“Sudah divaksin bukan berarti kebal, vaksinasi covid hanya salah satu cara menurunkan tingkat penularan, prokes tetap wajib dijalankan,” kata dr Sri Riyanti.

Terakhir, dr Sri Riyanti berharap, pandemi segera berakhir, semua bisa melewati tanpa kehilangan orang-orang yang disayangi. Untuk itu diperlukan partisipasi aktif semua orang dengan mematuhi protokol kesehatan dan ikut vaksinasi. Pemerintah dengan didukung masyarakat bersama-sama memperjuangkan negeri ini. 

“Semoga kita bertemu di waktu yang akan datang tanpa ketakutan, rasa cemas, bisa menghirup udara bebas,” tutur dr Riyanti.

Berita Terkait

DPD RI Dorong Penguatan Kampung Nelayan Merah Putih
Aspirasi Daerah Dorong Pembaruan UU Ketransmigrasian, Komite I DPD RI Buka Ruang Pra-Pembahasan
Kementerian PU Salurkan 12.000 Liter Air untuk Dukung Pemadaman Kebakaran TPA Buku Deru-Deru
Dwi Ajeng Soroti Penguatan BPK RI Hadapi Kompleksitas Pengawasan Keuangan Negara
HUT ke-81 TNI Digelar Sederhana, Prabowo-Jokowi-SBY Hadir
HUT ke-81 TNI, Kemhan Komitmen Perkuat Pertahanan Nasional
HUT ke-28, Bank Mandiri Bayarkan Dividen Interim Rp6,16 Triliun
Kementerian PU Kerahkan 13 Pompa Untuk 120 Ha Sawah di Jatim

Berita Terkait

Tuesday, 6 October 2026 - 19:42 WIB

DPD RI Dorong Penguatan Kampung Nelayan Merah Putih

Tuesday, 6 October 2026 - 16:11 WIB

Aspirasi Daerah Dorong Pembaruan UU Ketransmigrasian, Komite I DPD RI Buka Ruang Pra-Pembahasan

Monday, 5 October 2026 - 13:30 WIB

Kementerian PU Salurkan 12.000 Liter Air untuk Dukung Pemadaman Kebakaran TPA Buku Deru-Deru

Monday, 5 October 2026 - 13:28 WIB

Dwi Ajeng Soroti Penguatan BPK RI Hadapi Kompleksitas Pengawasan Keuangan Negara

Monday, 5 October 2026 - 13:26 WIB

HUT ke-81 TNI Digelar Sederhana, Prabowo-Jokowi-SBY Hadir

Berita Terbaru

Nasional

Mendes Yandri Ajak ISSF dan Perusahaan Mitra Perluas Desa Binaan

Wednesday, 7 Oct 2026 - 18:48 WIB

Energy

Fasilitasi OTA Wolbachia di Kampus, ITPLN Aktif Berantas DBD

Wednesday, 7 Oct 2026 - 16:39 WIB