Hindari Tengkulak, Petani Kopi Didorong Bentuk Koperasi

Monday, 21 October 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sekretaris Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM Daniel Asnur dalam acara Temu Petani Kopi dengan tema “Rantai Distribusi untuk Membentuk Ekosistem Kopi yang Berkelanjutan” bersama para petani kopi desa Loa Kecamatan Paseh. Bandung, Senin (21/10/2019). Hadir dalam acara tersebut Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung Cakra Amiyana, Ketua Harian Koperasi Mitra Malabar Dhanny Rhismayaddi, Founder Faba Coffee Rezky Ardha Supriadi dan Manager Pop Warung Ruki Wijaya.

DAELPOS.com – Kementerian Koperasi dan UKM mendorong petani kopi agar membentuk koperasi agar tidak terjebak dengan permainan tengkulak. Pembentukan koperasi juga membuat kesejahteraan petani lebih terjamin dan mudah dalam mengakses permodalan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM Daniel Asnur dalam kegiatan Temu Petani Kopi bertajuk ‘Rantai Distribusi untuk Membentuk Ekosistem Kopi yang Berkelanjutan’ di Desa Loa, Kecamatan Paseh, Bandung, Jawa Barat, Senin (21/10/2019).

Turut hadir dalam kesempatan itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Bandung Cakra Amiyana, Ketua Harian Koperasi Mitra Malabar Dhanny Rhismayaddi, Founder Faba Coffee Rezky Ardha Supriadi dan Manager Pop Warung Ruki Wijaya.

“Negara kita itu kopinya hebat, tapi kenapa harga kopi terus naik tapi kesejahteraan petani kopi kita tidak meningkat. Ini karena terlalu banyak mata rantai distribusi dan petani yang belum mandiri melalui koperasi. Petani juga banyak yang terjebak dengan permainan tengkulak,” ungkap Daniel.

Dengan berkoperasi, menurut Daniel, rantai distribusi bisa dipangkas sehingga harga kopi di tingkat petani bisa meningkat. Koperasi juga bisa melakukan pengadaan pupuk bagi petani, serta melakukan pemasaran produk yang dihasilkan. Apalagi jika yang dibentuk adalah koperasi produksi, akan membuat produk-produk kopi yang dihasilkan berkualitas dan bernilai tambah tinggi.

“Akses permodalan juga semakin mudah. Kita jadi bisa lakukan pendampingan. Kita juga bisa ajak kerjasama stakeholder seperti Kementerian Pertanian melatih petani menghasilkan biji kopi berkualitas,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Daniel mengaku sengaja menghadirkan para pelaku usaha yang juga berkecimpung dalam bidang kopi agar dapat mengedukasi dan terjalinnya kerja sama langsung dengan setiap kelompok tani.

Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bandung Cakra Amiyana mengatakan badan usaha berbentuk koperasi paling tepat bagi petani, karena prinsip keadilan dan gotong royong. Ia juga berjanji untuk memfasilitasi dan memudahkan kelompok-kelompok petani untuk mendirikan koperasi.

“Petani harus diberdayakan dalam bentuk koperasi, jangan sampai petani kopi ini cape-cape tapi yang banyak untung pihak lain, semua harus adil antara harga di hulu dan hilir,” ucapnya.Ketua Harian Koperasi Mitra Malabar Dhanny Rhismayadi menambahkan hingga kini terdapat 26 kelompok petani kopi terdiri dari 252 Kepala Keluarga di Desa Loa. Sebelum membentuk kelompok mereka berjalan sendiri-sendiri sehingga mudah dimanfaatkan oleh tengkulak. 

“Dengan adanya kegiatan ini, mereka semakin sadar pentingnya membentuk koperasi, apalgi dengan empat manfaat yang tidak hanya didapat oleh petani tetapi juga bagi keluarganya. Petani juga bertambah paham bahwa usaha kopi jika dikembangkan serius sangat menguntungkan,” katanya.

Sementara itu, Founder Faba Coffee, Rezky Ardha Supriadi mengaku prihatin dengan kemampuan petani mengolah hasil panen kopi. Apalagi, dirinya melihat langsung kulit kopi tidak diolah untuk menjadi nilai tambah. Begitupun hasil panen, seharusnya tidak dijual dalam bentuk gelondongan, tapi minimal diolah hingga berbentuk biji kopi (green bean) sehingga harga jual lebih tinggi.”

Kulit kopi bisa dijadikan teh, biasanya saya beli di produsen Rp40 ribu per kilogram, disini cuma untuk pupuk. Padahal kalau dijual uangnya bisa buat beli pupuk lebih berkualitas,” ucapnya. (DAE)

See also  PPKM Level 1, ASN Semua Sektor WFO 100%

Berita Terkait

Tahap Akhir Wujudkan Konektivitas Penuh di Provinsi Aceh, Hutama Karya Lakukan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) pada Seksi 1 (Padang Tiji-Seulimeum) Tol Sigli–Banda Aceh
Kementerian PU Revitalisasi Sungai Veteran untuk Cegah Banjir Banjarmasin
Tak Ada Uang, Anak SD Berikan Cincin untuk Palestina
Dari Cabai ke Pelepah Sawit, Prafi Genjot Ekonomi Warga
Kementerian PU Kerahkan Peralatan Penanganan Karhutla ke Lima Provinsi di Kalimantan
Kawal Penataan Kelembagaan Kementerian PKP, Kementerian PANRB Dorong Efisiensi dan Hindari Tumpang Tindih Fungsi
Cabeta Buka Jalan Usaha Baru bagi Petani Cabai di Prafi
Kementerian PU Perkuat Pembangunan Infrastruktur Papua Pegunungan

Berita Terkait

Monday, 14 September 2026 - 20:28 WIB

Tahap Akhir Wujudkan Konektivitas Penuh di Provinsi Aceh, Hutama Karya Lakukan Uji Laik Fungsi dan Operasi (ULFO) pada Seksi 1 (Padang Tiji-Seulimeum) Tol Sigli–Banda Aceh

Monday, 14 September 2026 - 17:40 WIB

Kementerian PU Revitalisasi Sungai Veteran untuk Cegah Banjir Banjarmasin

Sunday, 13 September 2026 - 13:54 WIB

Tak Ada Uang, Anak SD Berikan Cincin untuk Palestina

Sunday, 13 September 2026 - 09:01 WIB

Dari Cabai ke Pelepah Sawit, Prafi Genjot Ekonomi Warga

Sunday, 13 September 2026 - 08:23 WIB

Kementerian PU Kerahkan Peralatan Penanganan Karhutla ke Lima Provinsi di Kalimantan

Berita Terbaru

Politik

Yulian Gunhar Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan

Tuesday, 15 Sep 2026 - 12:07 WIB

Berita Terbaru

Wamen Todotua Resmikan Bioethanol Development Center di Lampung

Tuesday, 15 Sep 2026 - 10:26 WIB