Wisata Alam Virtual di Masa Pandemi

Thursday, 15 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Untuk mengetahui perkembangan wisata virtual di Indonesia dalam rangka pemulihan objek wisata di tengah Pandemi COVID-19, sekaligus sebagai bentuk upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan kembali menyelenggarakan Diskusi Pojok Iklim pada Rabu, (14/4) dengan mengangkat topik “Wisata Alam Virtual di Masa Pandemi”.

Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim, KLHK, Sarwono Kusumaatmadja, dalam sambutan pengantarnya menyampaikan bahwa di masa pandemi COVID-19, kita berada pada suasana yang sangat dilematis, dimana kita harus membatasi kegiatan sehingga berdampak pada kemunduran ekonomi termasuk di bidang wisata. Indonesia memiliki destinasi unggul kelas dunia dan teknologi informatika yang memberikan jalan keluar, yaitu berupa wisata virtual.

“Melalui wisata virtual kita dapat menyaksikan keindahan alam, keanekaragaman hayati, sehingga bisa membangkitkan afinitas merasa dekat dengan alam yang merupakan suatu sikap penting yang perlu ditumbuhkan untuk pembangunan berkelanjutan. Wisata virtual akan menjadi marketing tool atau pemicu peningkatan wisata di masa normal baru,” tuturnya.

Dalam diskusi kali ini, turut memberikan pengantarnya Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, Nandang Prihadi, yang menyampaikan bahwa akibat adanya pandemi COVID-19, wisata alam ke kawasan konservasi ditutup untuk meminimalisir penyebaran COVID-19, menghindari kerumunan dan mengurangi mobilitas. Dampak penutupan wisata alam ini menyebabkan terhentinya operasional pelaku usaha wisata alam, hilangnya potensi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan berkurangnya perputaran ekonomi dari kegiatan wisata alam di kawasan konservasi.

Namun demikian, Nandang mengatakan, dengan adanya pandemi berdampak positif bagi alam, dan memberikan waktu untuk alam beristirahat dari hiruk pikuk pengunjung, dan memulihan ekosistem secara alami. “Tren wisata kedepan memiliki strategi 3C (Community, Commodity dan Conservation). Commodity, yaitu bagaimana agar tidak tergantung pada Taman Nasional (TN) atau Taman Wisata Alam (TWA) tetapi harus ada alternatif obyek daya tarik wisata alam di sekitar TN dan TWA, karena akan ada pemberlakuan kebiasaan baru yang lebih ketat. Unsur Conservation di TN atau TWA seperti pembatasan mass tourism. Selanjutnya Community atau masyarakatnya perlu disiapkan dalam menghadapi kebiasaan baru,” jelas Nandang.

See also  Bantuan Kementerian PU: Sarana Air Bersih dan Sanitasi Pulihkan Warga Terdampak Bencana Sumbar

Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Tanjung Puting (TNTP), Murlan Dameria Pane menyampaikan bahwa dalam merespon PSBB, TNTP membuat video untuk mengobati kerinduan para calon pengunjung, tentang bagaimana cara mengunjungi TNTP dengan kebiasaan baru. “Virtual Tour mungkin tidak bisa sama dengan kunjungan fisik. Namun dapat mengobati rasa rindu kita terhadap objek wisata alam,” ujar Murlan.

Selanjutnya, Co-founder Jagaddhita dan ‘Perkumpulan’ untuk Interpretasi Indonesia (‘P’InterIn), Wiwien T. Wiyonoputri menyampaikan bahwa virtual tour memiliki spektrum, layaknya warna. Dari spektrum bentuk pengalaman, Virtual Tour tidak menggantikan pengalaman wisata yang sesungguhnya, namun bermanfaat bagi banyak orang dan tempat dengan keterbatasan. “Dari spektrum karakter acara, Virtual Tour itu engaging dan interpretif, yang sangat memikat serta melibatkan pengunjungnya.” tambahnya.

Kemudian, Founder Sebumi, Iben Yuzenho menyampaikan bahwa konservasi tidak harus dilakukan di tempat yang jauh dan pesan tersebut bisa disampaikan dengan mendorong perubahan gaya hidup. Ekowisata sebagai bagian layanan ekosistem di kawasan konservasi bertumpu pada keseimbangan pengelolaan ekologis dan sosiologis. Aktivitas ekowisata di kawasan konservasi harus memperkuat fungsi dasar perlindungan dan pengawetan yang dimanifestasikan dalam pesan konservasi.

“Virtual Tour merupakan media alternatif penyampaian pesan konservasi yang efektif dan efisien dalam bentuk promosi dan edukasi interpretasi alam, budaya dan inisiatif keberlanjutan di destinasi ekowisata,” terangnya.

Pada pemaparan terakhir diskusi kali ini, Founder Indonesia Ecotourism Network, Ary S. Suhandi menyampaikan bahwa perubahan iklim itu nyata dan sesuatu yang sangat penting untuk disikapi. Pariwisata memiliki faktor eksternal yang sangat mempengaruhi, dimana perubahan iklim menjadi faktor utama disamping faktor lain seperti bencana alam, penyakit menular, konflik sosial/politik dan terorisme.

“Pariwisata bukan hanya sebagai ‘korban’ pemanasan global, namun pariwisata juga ikut berkontribusi pada masalah ini. Berdasarkan data Nature Climate Change (2018) yang disadur dari Sustainable Tourism International, pariwisata bertanggung jawab atas 8% emisi karbon dunia,” jelasnya.

See also  Kementerian PUPR Salurkan Bansos 200 Kantung Sembako Kepada PWI

Ary menambahkan, Virtual Tour tidak hanya menyajikan sebuah perjalanan wisata ke destinasi yang ditawarkan, akan tetapi juga dapat menjadi sarana untuk mengedukasi peserta tentang masalah lingkungan, konservasi dan sosial, juga penggalangan dana perbaikan lingkungan. Isu-isu perubahan iklim dan pengelolaan kawasan konservasi merupakan konten yang menarik untuk dikemas dan disampaikan ke audiens.

Diskusi yang dipandu oleh Kepala Sub Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Wisata Alam, Badi’ah dihadiri oleh sekitar 250 peserta yang terdiri dari Kementerian/Lembaga, organisasi non-pemerintah, perguruan tinggi, sektor privat dan individu.

Berita Terkait

JRF 2026 dan Konser Ye Live Gerakkan Ekonomi Jakarta Rp625 Miliar
Bank Jakarta Borong Dua Penghargaan di Jakarta Financial Festival 2026
Menteri PU Tinjau Pembangunan Tol Semarang – Demak, Ditargetkan Selesai Tahun 2027
Closing Ceremony Hutan.ID Fest Chapter Sumatera
BNI Perkuat Intermediasi Perbankan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Wamen Todotua Raih Honorary Fellow Award di CAFEO 44
Menteri Dody Siapkan 5 Strategi Infrastruktur Tahun 2028, Dukung Asta Cita Presiden Prabowo
PLN EPI dan FLEXIH Inc. Jajaki Pengembangan Hidrogen Rendah Karbon Berbasis Biomassa

Berita Terkait

Monday, 26 October 2026 - 12:59 WIB

Bank Jakarta Borong Dua Penghargaan di Jakarta Financial Festival 2026

Sunday, 25 October 2026 - 14:37 WIB

Menteri PU Tinjau Pembangunan Tol Semarang – Demak, Ditargetkan Selesai Tahun 2027

Sunday, 25 October 2026 - 09:16 WIB

Closing Ceremony Hutan.ID Fest Chapter Sumatera

Saturday, 24 October 2026 - 10:51 WIB

BNI Perkuat Intermediasi Perbankan Dukung Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Friday, 23 October 2026 - 08:54 WIB

Wamen Todotua Raih Honorary Fellow Award di CAFEO 44

Berita Terbaru

foto ist

Berita Utama

Polda Metro Jaya Gelar Operasi Patuh Jaya 2026

Monday, 26 Oct 2026 - 13:36 WIB

Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Isma Yatun  / foto ist

Berita Utama

Ketua BPK Dorong Penguatan Auditor Forensik Cegah Korupsi

Monday, 26 Oct 2026 - 13:29 WIB