daelpos.com – Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu kekuatan utama ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara melalui panel bertajuk Indonesia’s Digital Renaissance: Creating a Connected, Creative, and Competitive Economy. Diskusi ini digelar di Indonesia Pavilion dalam rangkaian Annual Meeting World Economic Forum (WEF) Davos 2026, Selasa (21/1).
Panel tersebut menjadi bagian dari agenda strategis Indonesia Pavilion yang menyoroti transformasi digital sebagai pengungkit daya saing ekonomi nasional sekaligus magnet investasi global di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), tingkat penetrasi internet di Indonesia telah menembus lebih dari 79 persen dari total populasi. Angka ini mencerminkan besarnya basis pasar digital nasional. Transformasi digital pun kian menjadi pilar penting pertumbuhan ekonomi. Saat ini, nilai ekonomi digital Indonesia tercatat sebagai yang terbesar di Asia Tenggara, mencapai sekitar USD 82 miliar dan diproyeksikan terus meningkat seiring adopsi teknologi digital di berbagai sektor.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Erwin Hidayat Abdullah, menekankan bahwa pembangunan ekonomi digital harus dilakukan secara terstruktur dan berimbang.
“Kata kuncinya adalah urutan dan keseimbangan. Kita tidak bisa tumbuh tanpa kepercayaan, kepercayaan adalah prasyarat pertumbuhan. Kapabilitas harus dibangun sebelum memasuki ranah komersial. Dan arah harus ditetapkan sebelum modal digerakkan,” ujar Erwin dalam diskusi.
Ia menambahkan, dari sisi kebijakan, pemerintah terus memperkuat kerangka regulasi guna menciptakan ekosistem digital yang aman, inklusif, dan kondusif bagi inovasi.
Panel ini menghadirkan pembicara lintas sektor yang merepresentasikan kekuatan ekosistem digital nasional, di antaranya Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk Dian Siswarini, CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi, Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Luar Negeri Kadin Indonesia Bernardino Vega, serta dimoderatori oleh Publisher & Editor-in-Chief South China Morning Post Tammy Tam.
Dian Siswarini menegaskan bahwa konektivitas menjadi fondasi utama digitalisasi nasional. “Konektivitas sangat penting bagi digitalisasi. Fondasi utama untuk mewujudkan konektivitas yang baik adalah tersedianya infrastruktur digital yang komprehensif,” katanya.
Senada, Bernardino Vega menyoroti pentingnya sinergi antara pemerintah dan sektor swasta dalam meningkatkan daya tarik investasi digital. Menurutnya, inklusi digital tidak hanya soal otomasi proses, tetapi juga transformasi menyeluruh dalam disbursement dan pemanfaatan teknologi digital.
“Kami memiliki banyak kebijakan yang baik. Dalam investasi digital, ada dua jenis inklusi digital. Pertama, proses yang sudah diotomatisasi tetapi masih berbasis manual. Kedua, disbursement, yakni proses yang benar-benar berbeda karena peran digital jauh lebih besar dan lebih menyeluruh,” ujarnya.
Sementara itu, Neneng Goenadi menekankan bahwa layanan digital telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. “Saat ini, satu dari empat masyarakat Indonesia telah menggunakan layanan berbasis daring. Layanan digital sudah menjadi bagian dari DNA masyarakat Indonesia,” katanya.
Ia juga menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung UMKM melalui platform yang inklusif. “Dengan dukungan infrastruktur dari pemerintah, kami memastikan platform kami dapat diakses oleh seluruh pelaku usaha, mulai dari tahap memulai, bertumbuh, hingga memperluas usaha,” jelas Neneng.
Diskusi panel juga menegaskan bahwa kebangkitan ekonomi digital Indonesia sejalan dengan agenda pembangunan berkelanjutan. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan produktivitas nasional, memperluas inklusi ekonomi, serta memperkuat sektor ekonomi kreatif yang menjadi salah satu kontributor penting terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sebagaimana dicatat Badan Pusat Statistik (BPS).
Panel Indonesia’s Digital Renaissance merupakan bagian dari rangkaian diskusi strategis Indonesia Pavilion yang mengusung tema Indonesia Endless Horizons. Melalui paviliun ini, Indonesia menyampaikan pesan kuat kepada komunitas global bahwa transformasi digital nasional dibangun di atas fondasi pasar yang besar, kebijakan adaptif, serta komitmen jangka panjang terhadap pertumbuhan berkelanjutan.








