daelpos.com – Menteri Israel Itamar Ben-Gvir usulkan pemindahan massal warga Palestina dari Jalur Gaza dalam tujuh tahun yang ia sebut sebagai emigrasi sukarela. “Alih-alih ilusi perdamaian sekarang, kita membutuhkan tindakan emigrasi sekarang,” katanya sebagaimana dimuat Reuters. Turki, Ethiopia, dan Kongo dipertimbangkan sebagai negara tujuan. Seperti biasa, asal sebut bahkan sebelum negara yang disebut tahu dan mau.
Bagi warga Palestina, “emigrasi sukarela” bukan istilah baru. Itu adalah kata lain untuk Nakba, pengusiran massal yang sudah terjadi sejak 1948. Di hari yang sama ketika berita itu beredar, SMART 171 menggelar sesi Temu Orang Tua Asuh Gaza secara daring. 8 anak yatim Gaza muncul di layar Zoom dan menyapa 80 orang tua asuh yang hadir.
Saed Mohammed, 12 tahun, sudah 15 kali berpindah tempat sejak genosida Oktober 2023. Ketika ditanya apa yang paling ia inginkan, ia tidak menyebut makanan, tidak menyebut uang. Ia hanya menjawab satu kalimat berulang-ulang seperti doa yang belum terjawab “Aku ingin kembali ke rumah.” Bukan ke Turki, Ethiopia, dan Kongo. Tetapi ke rumahnya. Di Gaza.
Ibrahim Hamada, 12 tahun, hafal Al-Quran sejak tiga tahun lalu. Tidur di tenda dalam panas yang hampir tak tertahankan. Ia punya mimpi menjadi insinyur agar bisa membangun kembali rumah-rumah Gaza. Dan sesungguhnya, ini bukan kali pertama cita-cita seperti ini terdengar. Kini, masjid tempat ia menghafal Quran, sekolah tempatnya belajar, hanya berupa tenda darurat. Wajar saja banyak anak Gaza mengidamkan jadi insinyur.
Majida Magde, 12 tahun, suka sekali melukis. Ia menunjukkan hasil lukisannya. Saying sekali waktunya kebanyakan dipakai untuk mengantre air, bukan untuk melukis. Senada, Mariam Ali Jendeya juga harus ikut dua antrian berbeda setiap hari, antre makanan dan air di tengah ribuan orang.
Ghada Hassan, 13 tahun, sudah hafal delapan juz. Perjalanan ke “masjid tenda” itu ditempuhnya dalam ketakutan, karena suara bom masih terdengar dari kejauhan. Tasnim Hamza, 11 tahun, hafal dua juz dan suka pelajaran IPA. Aya Al Huware, 12 tahun, sudah lima kali pindah. “Setiap tempat di Gaza tidak ada yang aman sekarang,” ucapnya. Yasmiin Maarouf, 13 tahun, baru naik SMP. Ditanya soal mimpinya, ia bilang ingin genosida berhenti dan Gaza kembali seperti dulu.
Anak-anak ini menunjukkan lukisan, ada pula yang membacakan hafalan surat favoritnya. Tak kalah, di awal sesi, Nabila Hasibuan mewakili orang tua asuh membacakan sebuah puisi. Puisi itu bercerita tentang pagi yang sederhana, rutinitas serupa jutaan anak di dunia. Tapi pagi itu berubah lewat dentuman roket. Tangannya meraba tanah, memanggil ibunya, tak ada yang menjawab. “Lalu pandangnya jatuh ke bawah, menggenang air mata di pelupuk. Kakinya hilang satu.”
Puisi itu, kata Nabila, ia tulis lama sebelum hari ini. Ketika dicek ulang untuk acara ini, ia menyadari sesuatu: “Kondisinya masih sama aja.”
Farah Qoonita, Direktur Smart 171 ungkapkan kondisi anak-anak Gaza, “Sama seperti kita, Mereka ingin sekolah, pengen main, punya mimpi. Tapi genosida menghancurkan mereka. Gaza kini menghadapi krisis yatim terparah sedunia.”
Kini ada 59.000 anak Gaza kehilangan orang tua, menjadi Yatim. Sementara Israel merancang rencana memindahkan mereka ke benua lain, orang tua asuh Indonesia memilih bertahan menemani 300 dari 59.000 anak yatim Gaza itu. Jumlahnya masih sangat kecil, tapi bermakna, setidaknya 300 anak ini tahu mereka tak sendirian.








