Bertemu Mahasiswa Indonesia di Beijing, Iftitah: Ilmu Pengetahuan Harus Jadi Solusi Nyata bagi Rakyat

Wednesday, 14 October 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

daelpos.com – Indonesia membutuhkan lebih banyak ilmuwan, peneliti, dan tenaga terdidik yang mampu mengubah ilmu pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat. Tidak cukup hanya menghasilkan penelitian dan lulusan perguruan tinggi, pendidikan juga harus mampu meningkatkan produktivitas, membuka peluang usaha, dan mendukung penciptaan lapangan kerja.

Pesan tersebut disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat berdialog dengan mahasiswa Indonesia yang tengah menempuh pendidikan di Tiongkok, di Hotel Kunlun, Beijing, Selasa (13/10/2026).

Dalam pertemuan yang berlangsung interaktif tersebut, para mahasiswa berbagi pengalaman dan hasil penelitian mengenai pembangunan pedesaan, migrasi tenaga kerja terampil, serta hubungan antara pendidikan, industrialisasi, dan kesejahteraan masyarakat.

Iftitah menjelaskan transformasi transmigrasi kini diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama di luar Jawa, dengan menjadikan industrialisasi sebagai salah satu penggerak utama pengentasan kemiskinan.

“Visi kami, cara mengentaskan kemiskinan itu dengan memberi pekerjaan formal melalui industrialisasi,” ujar Iftitah.

Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi ekonomi yang besar. Namun, potensi tersebut harus didukung oleh sumber daya manusia yang terampil, teknologi yang tepat, serta investasi yang mampu menciptakan kegiatan ekonomi produktif.

Karena itu, pendidikan tidak boleh berjalan terpisah dari kebutuhan masyarakat dan dunia usaha.

Belajar dari Tiongkok: Penelitian Harus Menyelesaikan Masalah Desa

Salah satu pengalaman menarik disampaikan Moh. Taqiyuddin Saleh, mahasiswa Indonesia yang menjelaskan praktik pendampingan desa oleh perguruan tinggi di Tiongkok.

Menurut Taqiyuddin, dosen dan mahasiswa dapat terlibat dalam pendampingan selama enam bulan hingga satu tahun. Mereka bekerja bersama perangkat desa untuk memetakan persoalan, meneliti potensi komoditas, menentukan kebutuhan intervensi, hingga membantu menghubungkan produk masyarakat dengan pembeli di kota-kota besar.

See also  5 Syarat Terbaru Naik Kereta Api Mulai 12 Juni 2023

Program tersebut juga memiliki kesinambungan karena pendampingan dapat diteruskan oleh angkatan mahasiswa berikutnya.

“Jadi kita tahu pasti kekurangannya desa itu apa dan intervensinya apa,” ujar Taqiyuddin.

Pengalaman tersebut sejalan dengan pendekatan yang sedang dikembangkan Kementerian Transmigrasi melalui program Tim Ekspedisi Patriot, yang melibatkan profesor, peneliti, mahasiswa, dan tenaga profesional untuk membantu menyelesaikan persoalan pembangunan di kawasan transmigrasi.

Iftitah mencontohkan persoalan yang sering dihadapi petani ketika panen tomat atau cabai melimpah, tetapi harga justru jatuh. Dalam kondisi tersebut, teknologi pengeringan dan pengolahan sederhana dapat membantu memperpanjang masa simpan produk sekaligus membuka peluang pasar baru.

Menurutnya, ilmu pengetahuan tidak selalu harus hadir dalam bentuk teknologi yang rumit dan mahal. Solusi sederhana yang tepat guna pun dapat membawa perubahan berarti bagi kehidupan masyarakat.

Namun, Iftitah menekankan kehadiran akademisi di kawasan transmigrasi memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar menyelesaikan persoalan teknis.

“Yang paling penting dari program Patriot ini adalah inspirasi. Kalau orang pintar datang ke daerah, masyarakat setempat akan terinspirasi untuk sekolah dan maju,” kata Iftitah.

Melalui interaksi langsung dengan akademisi, masyarakat diharapkan memperoleh akses pengetahuan, meningkatkan keterampilan, dan semakin percaya diri mengembangkan potensi daerahnya.

Kampus Patriot: Pendidikan Harus Bertemu dengan Kebutuhan Industri

Diskusi juga mengangkat persoalan ketidaksesuaian antara pendidikan dan pekerjaan. Michael Tjahjadi, mahasiswa doktoral bidang keuangan publik di Central University of Finance and Economics, membagikan temuan penelitian magisternya mengenai migrasi tenaga kerja terampil ke Kalimantan.

Ia menemukan adanya persoalan horizontal mismatch, yaitu kondisi ketika seseorang bekerja pada bidang yang tidak sesuai dengan pendidikan atau keahlian yang dimilikinya. Michael juga mengingatkan keputusan seseorang berpindah ke suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pekerjaan, tetapi juga oleh kebutuhan keluarga, pendidikan anak, dan prospek kehidupan jangka panjang.

See also  Kepala Daerah Terpilih Diimbau Kendalikan Laju Covid-19

Menanggapi hal tersebut, Iftitah menjelaskan gagasan pengembangan Kampus Patriot sebagai bagian dari transformasi transmigrasi.

Melalui pendekatan pembelajaran hibrida dan fasilitas pendidikan modular, Kampus Patriot dirancang agar kegiatan belajar, penelitian, dan praktik dapat terhubung langsung dengan potensi ekonomi serta kebutuhan industri di kawasan transmigrasi.

Sebagai contoh, di kawasan transmigrasi Melolo, Sumba Timur, yang memiliki industri berbasis tebu, pengembangan pendidikan dapat diarahkan pada keterampilan yang dibutuhkan dalam proses produksi, pengolahan, pengelolaan usaha, serta kegiatan ekonomi pendukungnya. Dengan demikian, masyarakat tidak hanya memperoleh kesempatan mengikuti pendidikan, tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan dengan lapangan kerja yang tersedia.

Pendekatan ini sekaligus diharapkan dapat membantu dunia usaha mendapatkan tenaga kerja terampil dari masyarakat setempat.

Dari Kekayaan Alam Menuju Kesejahteraan Masyarakat

Iftitah menjelaskan kawasan transmigrasi memiliki dua modal penting, yaitu ketersediaan lahan dan tenaga kerja.

Namun, kedua modal tersebut tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan tanpa dukungan ilmu pengetahuan, teknologi, investasi, infrastruktur, dan kepastian pasar. Karena itu, Kementerian Transmigrasi terus mendorong kepastian legalitas lahan, peningkatan kapasitas masyarakat, serta pengembangan kawasan yang mampu menarik investasi dan industri pengolahan.

Menurutnya, arah baru transmigrasi bukan lagi sekadar memindahkan penduduk atau membagikan lahan, tetapi membangun ekosistem ekonomi yang mampu menciptakan pekerjaan dan meningkatkan pendapatan masyarakat secara berkelanjutan.

Ajak Diaspora Membawa Pulang Pengetahuan dan Pengalaman

Pada akhir pertemuan, Iftitah mengajak mahasiswa Indonesia di Tiongkok untuk memanfaatkan kesempatan belajar seluas-luasnya. Ia mendorong para mahasiswa tidak hanya mengejar gelar akademik, tetapi juga memperkaya pengalaman, menguasai teknologi, membangun jaringan internasional, serta memahami praktik pembangunan yang dapat diterapkan di Indonesia.

Menurutnya, pengalaman Tiongkok dalam mengembangkan industri dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dapat menjadi sumber pembelajaran, dengan tetap memperhatikan kebutuhan dan karakteristik Indonesia.

See also  Wapres RI: SDM Berintegritas Kunci Keberhasilan Reformasi Birokrasi

Pengetahuan dan jejaring yang dimiliki diaspora Indonesia juga berpotensi membantu mempertemukan kebutuhan pembangunan dalam negeri dengan perkembangan teknologi, penelitian, dan peluang kerja sama internasional. Iftitah menegaskan pendidikan merupakan fondasi penting untuk menciptakan perubahan, tetapi maknanya tidak boleh dibatasi pada sekolah atau gelar formal.

“Tanpa pendidikan rasanya mustahil. Tapi pendidikan bukan melulu dalam konteks sekolah formal, tapi pendidikan dalam konteks bagaimana mengubah cara pikir, cara pandang, dan perilakunya,” ujarnya.

Bagi Kementerian Transmigrasi, pengembangan sumber daya manusia menjadi bagian penting dari upaya membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang tidak hanya menghasilkan peningkatan investasi dan produktivitas, tetapi juga membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan keluar dari kemiskinan.

Melalui dialog dengan mahasiswa Indonesia di Tiongkok, Iftitah berharap semakin banyak generasi muda terdidik yang kelak mengambil bagian dalam pembangunan kawasan transmigrasi, baik melalui penelitian, penerapan teknologi, pengembangan usaha, maupun penciptaan lapangan kerja.

Dengan demikian, ilmu pengetahuan tidak berhenti sebagai pencapaian akademik, tetapi menjadi kekuatan nyata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

Berita Terkait

Di Peking University, Mentrans Iftitah Paparkan Industrialisasi di Luar Jawa untuk Buka Lapangan Kerja
Puan Minta Keselamatan Korban Banjir Padang Jadi Prioritas
Syahganda: Prabowo Dorong Ekonomi Inklusif untuk Rakyat
Launching Peringatan Hari Desa 2027, Mendes Targetkan Kebangkitan Ekonomi Desa
Tekan Kemiskinan di Wanam, Menteri Dody Siapkan Dukungan Gereja dan Kebutuhan Dasarnya
Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan
Bappisus Bakal Bersihkan 532 Lapas dan Rutan
Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Berita Terkait

Tuesday, 13 October 2026 - 08:50 WIB

Di Peking University, Mentrans Iftitah Paparkan Industrialisasi di Luar Jawa untuk Buka Lapangan Kerja

Monday, 12 October 2026 - 12:50 WIB

Puan Minta Keselamatan Korban Banjir Padang Jadi Prioritas

Sunday, 11 October 2026 - 18:18 WIB

Syahganda: Prabowo Dorong Ekonomi Inklusif untuk Rakyat

Saturday, 10 October 2026 - 19:54 WIB

Launching Peringatan Hari Desa 2027, Mendes Targetkan Kebangkitan Ekonomi Desa

Friday, 9 October 2026 - 08:22 WIB

Tekan Kemiskinan di Wanam, Menteri Dody Siapkan Dukungan Gereja dan Kebutuhan Dasarnya

Berita Terbaru

Energy

H-CORE Karya Mahasiswa ITPLN Raih Penghargaan Internasional

Wednesday, 14 Oct 2026 - 11:08 WIB