daelpos.com — Pemerintah menyiapkan Kawasan Transmigrasi Salor di Papua Selatan sebagai pusat pengembangan pangan, riset pertanian, dan pendidikan vokasi. Kawasan yang kini menjadi lokasi ibu kota provinsi itu dinilai strategis untuk mendukung agenda swasembada pangan nasional sekaligus peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah timur Indonesia.
Rencana tersebut dijajaki melalui kerja sama antara Kementerian Transmigrasi dan Kedutaan Besar Republik Rakyat Tiongkok (RRT) untuk Indonesia.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan Salor memiliki posisi penting sebagai salah satu sentra pangan terbesar di Papua Selatan sekaligus pusat pertumbuhan baru.
“Papua Selatan adalah salah satu contoh provinsi yang berkembang dari kawasan transmigrasi,” kata Iftitah saat kunjungan kerja di Salor, Merauke, Selasa, 2 Juni 2026.
Ia menyebut selain Papua Selatan, daerah lain seperti Sulawesi Barat dan Kalimantan Utara juga berkembang dari kawasan transmigrasi yang kemudian menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Menurut Iftitah, pemerintah bersama Kedutaan Besar Tiongkok tengah menjajaki pembangunan pusat riset padi dan sekolah vokasi pertanian di kawasan tersebut. Fasilitas itu diharapkan dapat meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus memperkuat kapasitas generasi muda Papua di sektor pangan.
“Kami ingin kawasan sentra pangan ini tidak hanya menghasilkan produksi yang tinggi, tetapi juga menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan pertanian,” ujarnya.
Duta Besar RRT untuk Indonesia Wang Lutong mengatakan pihaknya melihat potensi besar Salor sebagai kawasan pertumbuhan baru di Indonesia timur.
“Ini adalah pertama kalinya saya mengunjungi kawasan transmigrasi di Indonesia. Saya melihat potensi yang sangat besar di sini,” kata Wang.
Ia menyebut kerja sama yang tengah dijajaki mencakup pembangunan pusat pelatihan pertanian, pusat riset padi, serta program pengembangan kapasitas masyarakat.
Pengembangan kawasan itu juga akan melibatkan sejumlah perguruan tinggi mitra, termasuk Institut Pertanian Bogor, untuk mendukung penguatan riset dan inovasi di sektor pangan.
Pemerintah berharap kolaborasi tersebut tidak hanya memperkuat swasembada pangan nasional, tetapi juga membuka peluang pendidikan, lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat Papua Selatan.








