daelpos.com – Tiga tahun setelah Thufanul Aqsa, narasi yang paling sering beredar masih berkutat di angka korban. Dr. Maimon Herawati, Dosen Jurnalistik Fikom Unpad yang beberapa bulan lalu menjadi Ketua Indonesia untuk misi Global Sumud Flotilla membawa analisis yang tajam dalam Smart Class malam ini. Menurtnya, secara taktis Israel menang besar, tapi secara strategis mereka kalah di semua lini.
“Israel menghancurkan lebih dari 98% aset yang ada di Gaza, membunuh komandan dari level atas sampai bawah, merebut 70% tanah,” ujar Maimon. “Tapi apakah itu berarti mereka menang?” Tanyanya kepada audiens. “Jawabannya tidak!” Tandasnya.
Bukti pertama yang ia sebut yakni Israel belum berhasil melucuti Hamas. Sebab alasan ini yang sejak dulu Israel pakai untuk masuk Gaza. Tapi setelah 3 tahun di sana, mereka tak juga berhasil menjatuhkan Hamas. Yang mereka hadapi ternyata bukan hanya satu faksi militer, Maimon menyebut di dalam Gaza ada 11 faksi bersenjata. Brigade Qassam memang yang terbesar, tapi ada juga Saraya Al-Quds, faksi komunis, dan lainnya. Tiga tahun berlalu, tidak satu pun berhasil dilucuti penuh.
Kedua, Perang yang seharusnya selesai dua minggu, berlanjut hingga tiga tahun. Pada 2018, kalkulasi Israel percaya diri, dua minggu cukup. Biaya mempertahankan militer dalam jangka panjang sangat mahal, baik finansial maupun politis. Kenyataannya, mereka terpaksa bertahan karena tidak berhasil menguasai wilayah yang mereka rebut secara konsisten. Mengontrol 70% tanah butuh pasukan besar dan Israel tidak sanggup menanggungnya terus-menerus. Banyak anak muda ogah wamil, mereka terpaksa merekrut dari luar negeri.
Ketiga, Gaza Riviera tidak pernah terwujud. Jared Kushner dan Trump pernah memamerkan visual megah di mana Gaza menjadi kota wisata, dengan gedung-gedung tinggi di tepi laut. Di 70% tanah yang mereka kuasai sekalipun, rencana itu tidak bergerak ke mana-mana.
Berikutnya, pemukim Israel sendiri kabur dari Israel. Untuk mempertahankan dominasi demografi, Israel sampai mendatangkan orang Yahudi keturunan India untuk dipindahkan ke sana. Hanya 34% warga Israel yang masih optimis soal keamanan negara mereka sendiri. Lebih dari separuh responden dalam satu survei menyatakan setuju untuk “membongkar institusi politik dan memulai dari awal.” Dalam bahasa yang lebih blak-blakan dari survei yang sama, “dissolve Israel and give the land to Hamas”.
Kelima, Israel kini menjadi beban Amerika, bukan aset. Maimon mengutip pernyataan Professor John Mearsheimer pada Agustus 2026 yang menyebut Israel telah menjadi strategic liability alias beban strategis yang melemahkan Amerika. Lebih jauh lagi, Maimon menyebutnya sebagai albatross around American neck, beban yang bahkan bisa melumpuhkan pemakainya. Amerika kehilangan military base di beberapa negara, reputasi internasionalnya terkikis, warga dunia memusuhi Israel, dan kebebasan berbicara di dalam negeri tergerus hanya karena mempertahankan kebijakan pro-Israel yang bertentangan dengan kepentingan Amerika sendiri.
Keenam, ICJ terus mengeluarkan putusan yang menguatkan posisi Palestina. Maimon menyebut momen 26 Januari 2024 di mana provisional measures mencegah tindakan genosida. 24 Maret: perintah memastikan kondisi kemanusiaan tidak memburuk. 24 Mei: buka akses di Rafah. 19 Juli 2024: opini bahwa penjajahan Israel di Palestina ilegal dan harus diakhiri dalam satu tahun. Maimon membacanya bukan sebagai kemenangan instan, tapi sebagai fondasi yang pelan-pelan dijadikan landasan hukum oleh negara-negara di level nasional seperti Irlandia yang kini mengkriminalisasi siapapun yang bertransaksi ekonomi dengan Israel dari wilayah pendudukan. Ini jelas kekalahan bagi Israel.
Ketujuh, ICC mengeluarkan lebih dari 35 surat perintah penangkapan untuk Netanyahu, Yoav Gallant, Ben-Gvir. Mereka kini jadi buronan ICC. Lebih dari 35 surat perintah penangkapan dikeluarkan. Prancis bahkan sudah melarang Ben-Gvir masuk ke wilayahnya.
Terakhir, gelombang pengakuan negara Palestina melebar ke Barat. Pada September 2025, sepuluh negara Barat sekaligus mengumumkan pengakuan terhadap negara Palestina di hadapan PBB. Mereka adalah Prancis, Kanada, Australia, Portugal, Belgia, Luxembourg, Malta, Monaco, Andorra. Pengakuan ini tidak menghentikan genosida, tapi secara politis mengubah peta secara permanen.
Di tengah semua ini, ada satu fakta yang luput dari mayoritas liputan. Tebak apa?
“1,8 juta dari 2,1 juta warga Gaza tidak memiliki tempat tinggal permanen, bahkan tenda sekalipun tidak stabil. Tapi mereka menolak keluar. Bahkan sebagian yang sempat berobat ke Mesir memilih kembali ke Gaza. Ini lah kerennya warga Gaza, mereka menolak pergi dari tanah airnya!” Kata Maimon.
Maimon membaca ini sebagai kemenangan yang sering diabaikan. Selama penduduk Gaza bertahan dan menolak relokasi permanen, kontrol militer Israel tidak pernah berubah menjadi penghapusan klaim Palestina. Israel bisa menguasai tanah, tapi tidak bisa menghapus memori kolektif, identitas politik, dan tuntutan kemerdekaan bangsa Palestina.
“Mereka gagal untuk menghilangkan Palestina di ruang itu,” kata Maimon.
Maimon menutup dengan Langkah yang harus kita lakukan sebagai sipil yakni memberi tekanan. Larangan penampilan atlet Israel, kebijakan imigrasi yang lebih cepat untuk warga Palestina, Menlu Sugiono yang walk out saat Netanyahu berpidato di PBB, semuanya terjadi karena ada tekanan publik yang konsisten. “Negara memerlukan alasan valid untuk menolak tekanan luar. Kita perlu memberikan alas kepada pemerintah. Jangan capek berisik.”








