daelpos.com – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) kembali mempertahankan Sertifikasi Building Information Modelling (BIM) ISO 19650 Kitemark pada 27-31 Juli 2026. Pencapaian ini menjadi bukti konsistensi perusahaan dalam menerapkan standar internasional pada pengelolaan informasi proyek sekaligus memperkuat komitmen untuk terus meningkatkan kualitas proses kerja di seluruh lini bisnis. Melalui penguatan Engineering dan Digital Construction, Hutama Karya berupaya memastikan setiap tahapan pekerjaan semakin terintegrasi, terukur, dan adaptif terhadap kebutuhan pembangunan infrastruktur.
Sejak 2021, Hutama Karya menjadi BUMN pertama yang memperoleh Sertifikasi BIM ISO 19650 Kitemark Part 1, 2, dan 5. Konsistensi dalam mempertahankan sertifikasi tersebut didukung oleh penerapan prinsip pengelolaan informasi proyek ( project delivery ), tata kelola dan pertukaran informasi, serta keamanan informasi melalui pendekatan security-minded approach to information management. Aspek-aspek tersebut menjadi landasan bagi perusahaan untuk menjaga kualitas informasi dan memastikan proses kerja berjalan sesuai standar yang ditetapkan.
Komitmen penerapan standar tersebut kembali diverifikasi melalui Audit Surveillance bersama British Standards Institution (BSI) Indonesia pada 27–30 Juli 2026. Proses audit melibatkan tiga proyek sebagai project auditee, yakni Proyek Tol Akses Patimban, RS Adhyaksa Bali, dan New Priok Eastern Access (NPEA). Ketiga proyek tersebut memaparkan penerapan BIM dan Digital Construction serta menyediakan data, dokumen, dan bukti implementasi ( evidence ) untuk menunjukkan kesesuaian praktik di lapangan terhadap persyaratan ISO 19650. Proses ini menjadi bagian penting dalam memastikan standar yang ditetapkan perusahaan benar-benar diterapkan dalam kegiatan operasional proyek.
Untuk menjaga konsistensi implementasi, Hutama Karya menjalankan mekanisme monitoring evaluasi dan pengendalian secara berkelanjutan terhadap kapabilitas Engineering dan Digital Constructio n. Proses tersebut dilakukan dengan meninjau kebutuhan aktual di lapangan, karakteristik dan kompleksitas proyek, dinamika bisnis perusahaan, perkembangan teknologi, serta standar mutu yang harus dipenuhi. Hasil evaluasi menjadi dasar dalam menyempurnakan metode kerja, memperbarui standar, dan menentukan pemanfaatan teknologi yang relevan dengan kebutuhan operasional.
Dalam implementasinya, BIM dimanfaatkan sejak tahap perencanaan hingga konstruksi melalui Digital Survey, pemodelan 3D, Clash Detection, integrasi jadwal (4D), pengendalian biaya (5D), serta penggunaan dashboard, Virtual Reality (VR), dan Augmented Reality (AR). Berbagai teknologi tersebut mendukung koordinasi lintas disiplin, membantu mengidentifikasi potensi ketidaksesuaian desain lebih awal, serta memperkuat pengendalian jadwal, biaya, dan mutu pekerjaan. Dengan demikian, potensi kesalahan pelaksanaan, pekerjaan ulang ( rework ), dan pemborosan sumber daya dapat diminimalkan.
Selain pemanfaatan teknologi pemodelan, pengelolaan informasi proyek didukung oleh Common Data Environmen t (CDE), yaitu platform untuk pemeriksaan, persetujuan, dan pertukaran dokumen. CDE berfungsi sebagai single source of truth sehingga informasi dan dokumen proyek dapat dikelola secara terpusat, tervalidasi, mutakhir, dan dapat ditelusuri. Penerapan sistem ini dikoordinasikan oleh tim proyek bersama bagian BIM Divisi Operasi, dengan pemantauan Divisi Engineering, Riset, & Teknologi Informasi (ERTI) melalui penyusunan standar, pendampingan, serta evaluasi berkala. Sinergi tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keseragaman penerapan BIM di berbagai proyek.
Penerapan BIM dan tata kelola informasi proyek juga mendukung komitmen Hutama Karya terhadap prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), khususnya aspek Environmental dan Governance . Dari sisi lingkungan, perencanaan yang lebih terintegrasi dan identifikasi potensi pekerjaan ulang sejak awal dapat membantu mengoptimalkan penggunaan material serta sumber daya konstruksi. Sementara itu, pengelolaan informasi yang terstruktur, aman, transparan, dan dapat ditelusuri memperkuat akuntabilitas dalam pelaksanaan proyek. Upaya ini sejalan dengan agenda Asta Cita dalam mendukung pembangunan infrastruktur nasional yang berkualitas dan berkelanjutan.
Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani, menyampaikan bahwa keberhasilan mempertahankan sertifikasi merupakan hasil komitmen dan kolaborasi seluruh insan perusahaan. “Kami ingin menjadikan standar internasional bukan sekadar persyaratan sertifikasi, melainkan bagian dari budaya kerja yang terus diterapkan dan ditingkatkan. Melalui penguatan kompetensi dan pemanfaatan teknologi, kami berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas pekerjaan dan kapabilitas perusahaan,” ujar Hamdani.
Ke depan, Hutama Karya akan terus mengembangkan penerapan BIM dan Digital Construction melalui peningkatan kompetensi SDM, penyempurnaan standar, serta optimalisasi pemanfaatan data BIM dalam pengendalian mutu dan pengambilan keputusan proyek. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan efektivitas pelaksanaan pekerjaan dan memperkuat daya saing perusahaan.








