Menkop UKM: “Cangkul Lokal Lebih Berkualitas Ketimbang Cangkul Impor”

Saturday, 23 November 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengungkapkan bahwa kualitas cangkul buatan lokal masih lebih baik ketimbang cangkul impor dari China. Masalahnya, hanya antara produk UMKM dengan pasar tidak terhubung. “Tadi saya lihat langsung dan bandingkan langsung antara produk cangkul lokal dengan buatan China. Ternyata, produk kita secara kualitas masih lebih baik”, tandas Teten, usai berdialog dengan para perajin pandai besi alat-alat pertanian di Desa Cibatu, Kecamatan Cisaat, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (23/11).

Di acara yang dihadiri Bupati Sukabumi H Marwan Hamami, Teten menambahkan, para perajin di Cibatu tidak terhubung dengan pasar, diantaranya pasar belanja pemerintah dan pasar lainnya. “Ini tidak boleh terjadi lagi. Masak cangkul saja impor. Saya sebagai Menkop dan UKM harus melindungi produk UMKM. Saya akan melindungi produk UMKM jangan kalah bersaing di negeri sendiri. Bukan hanya cangkul, melainkan produk alat pertanian lainnya”, tegas Teten.

Dalam dialog tersebut, Teten mendengar ada beberapa masalah. Diantaranya, masalah bahan baku yang tidak stabil, ada persoalan dengan standar produk, ada persoalan dalam pengembangan usaha dalam skala besar, dan sebagainya. “Sisi pembiayaan saya pikir tidak ada masalah. Kita ada KUR dengan plafon sebesar Rp190 triliun dan bunga murah enam persen”, ucap Teten.

Teten berjanji akan bicara dengan Kementerian PUPR, Kementerian Pertanian, dan kementerian lain, bila membutuhkan cangkul. “Selain pasar pemerintah, produk UMKM harus juga masuk ke pasar online, harus sudah digitalisasi. Kami akan beri pelatihan agar produk UMKM di Cibatu ini bisa go online, supaya marketplace-nya lebih luas lagi”, jelas Teten.

Di samping itu, lanjut Teten, pihaknya juga akan bersinergi dengan Kementerian Perindustrian untuk menjadikan kawasan Cibatu sebagai Pilot Project pengembangan produk UMKM, khususnya produk alat-alat pertanian. “Skala usaha UMKM harus naik kelas, dari kecil ke menengah. Namanya jangan industri kecil terus, harus tumbuh”, ucap Teten lagi.

See also  Bank bjb Sapu Bersih Dua Laga di Gresik

Teten juga berharap agar para perajin pandai besi di Cibatu bisa bergabung atau membentuk sebuah wadah bernama koperasi. “Sehingga, dalam menyalurkan pembiayaan, tidak lagi satu persatu ke masing-masing perajin, tapi langsung melalui koperasi”, ujar Menkop dan UKM.

Teten pun menegaskan bahwa pihaknya kini melakukan pendekatan secara kolektif, kluster, kelompok, berdasarkan jenis produk, wilayah, dan sentra-sentra produksi. “Dengan cara tersebut, Insya Allah, akan ada percepatan pertumbuhan UMKM di Indonesia”, jelas Teten.

Dalam kesempatan yang sama, Kasubdit Pemantauan Evaluasi dan Diseminasi Kebijakan Pengadaan Umum LKPP Hardy menjelaskan, sejak 2013 pihaknya sudah membangun pasar elektronik atau e-Katalog untuk pembelian barang/jasa di seluruh instansi pemerintah.

“Terkait alat-alat pertanian, kita sudah berkoordinasi baik dengan Kementan untuk memasukkan alat atau mesin yang dibutuhkan pemerintah. Namun, khusus cangkul, belum masuk ke dalam e-Katalog”, ungkap Hardy.

Broker Material

Sementara itu, pemilik CV Rhodas (IKM produk alat pertanian asal Cibatu) Muhammad Suhendar berharap pemerintah tidak lagi melakukan impor cangkul dari luar negeri. “Produk kita lebih berkualitas dan bisa bersaing, asalkan tidak ada yang namanya broker-broker material yang memainkan harga material”, ungkap Suhendar.

Suhendar mengakui bahwa ketersediaan material sebagai bahan baku merupakan kendala besar yang kerap dihadapi para perajin di Cibatu. “Kita dapat harga material itu sudah tinggi. Jadi, agak sulit bersaing secara harga dengan produk luar. Barang impor itu sudah jadi dengan harga murah”, ungkap Suhendar seraya menyebutkan bahwa material mereka dapatkan dari Cikarang dan Bekasi.

Dalam sehari, aku Suhendar, CV Rhodas mampu memproduksi cangkul antara 500 hingga 1000 unit dalam satu line produksi. “Kalau jumlah produksi ingin lebih lagi, maka harus memakai 2-3 line. Saat ini, kita baru memakai satu line saja”, pungkas Suhendar.

Berita Terkait

Ketua DPD RI Buka BLISPI Youth Cup V, Dorong Lahirnya Bintang Sepak Bola dari Daerah
Viral Terobos Pagar COP JRF 2026 dan Bentak Petugas, Muldan Akhirnya Minta Maaf
Kementerian PU Bersihkan 11,25 Km Saluran Riam Kanan untuk Bantu Atasi Karhutla di Kalsel
Kementerian Transmigrasi Serahkan 27 Sertipikat Tanah kepada Transmigran di Maluku Tengah
Dari Panen ke Pasar, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayur ke SPPG
Bangun Infrastruktur, Berdayakan Masyarakat, PISEW Kementerian PU Serap 8.011 Tenaga Kerja
Kementerian PU Perkuat Fungsi Strategis Infrastruktur Konektivitas, 4 Pesawat Tempur Uji Coba Pendaratan di Tol Pasuruan–Probolinggo
Hutama Karya Perkuat Pemulihan Jalan Pascabencana di Aceh, Penanganan Terus Berjalan

Berita Terkait

Sunday, 25 October 2026 - 09:31 WIB

Viral Terobos Pagar COP JRF 2026 dan Bentak Petugas, Muldan Akhirnya Minta Maaf

Sunday, 25 October 2026 - 09:05 WIB

Kementerian PU Bersihkan 11,25 Km Saluran Riam Kanan untuk Bantu Atasi Karhutla di Kalsel

Sunday, 25 October 2026 - 09:02 WIB

Kementerian Transmigrasi Serahkan 27 Sertipikat Tanah kepada Transmigran di Maluku Tengah

Saturday, 24 October 2026 - 21:19 WIB

Dari Panen ke Pasar, Petani Transmigrasi Bangka Selatan Jajaki Pasokan Sayur ke SPPG

Saturday, 24 October 2026 - 18:18 WIB

Bangun Infrastruktur, Berdayakan Masyarakat, PISEW Kementerian PU Serap 8.011 Tenaga Kerja

Berita Terbaru

Berita Utama

Closing Ceremony Hutan.ID Fest Chapter Sumatera

Sunday, 25 Oct 2026 - 17:55 WIB

Berita Utama

BNPB Pantau Karhutla di Jabar dan Jateng

Sunday, 25 Oct 2026 - 14:33 WIB