Diskusi Para Pihak Mencari Solusi Pembukaan Lahan Berdasarkan Kearifan Lokal

Wednesday, 15 July 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Masih diperbolehkannya pembukaan lahan dengan membakar sesuai Undang-Undang no. 32/2009, memicu beragam interpretasi dan terkadang menjadi polemik oleh sebagian pihak karena dianggap melemahkan upaya pencegahan karhutla.

Meskipun dalam peraturan tersebut diatur berbagai syarat sebelum diperbolehkannya membakar lahan, diantaranya maksimal 2 hektare per kepala keluarga masyarakat adat, diperuntukkan untuk ditanami tanaman jenis varietas lokal, dan dilakukan dengan menerapkan sistem sekat bakar sebagai upaya pencegahan penjalaran api ke wilayah sekelilingnya. Namun pada beberapa kasus tertentu, celah aturan ini justru dimanfaatkan dan ditunggangi oleh oknum pembakar hutan tertentu untuk lolos dari jerat hukum.

Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) berupaya untuk mencari solusi atas permasalahan tersebut dengan langkah afirmatif dan kolaboratif yang diawali dengan mendengarkan pandangan dari berbagai pihak, seperti perwakilan masyarakat adat, akademisi, lembaga swadaya masyarakat (LSM), anggota DPR dan DPRD, hingga para perwakilan kementerian/lembaga terkait yang dirangkai dalam acara Focus Group Discussion (FGD), yang bertajuk “Solusi Kearifan Lokal dalam Pembukaan Lahan < 2 Hektar Dengan Cara Membakar”. FGD ini dilakukan secara virtual pada Selasa (14/7), pukul 09.30 WIB.

Wakil Menteri LHK, Alue Dohong memimpin jalannya FGD tersebut, dalam sambutannya dia menjelaskan bahwa penggunaan api untuk kegiatan pembersihan lahan untuk perladangan merupakan kearifan lokal masyarakat yang telah terjadi dan dipraktekkan secara turun temurun oleh masyarakat adat di Nusantara khususnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Praktek pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat adat menurutnya harus ditempatkan dalam kontek regulasi yang tepat agar kearifan lokal yang terbukti memiliki efek positif untuk membantu proses keterjaminan dan ketahanan pangan dan konservasi hayati, tidak disalahgunakan oleh oknum tidak bertanggung untuk membakar lahan secara masif yang merugikan kepentingan umum.

See also  Presiden Bagikan 2.576 Sertifikat Tanah untuk Rakyat di Desa Cot Gapo, Kabupaten Bireuen, Aceh

“Kita harus segera menyusun naskah kebijakan untuk memperbaiki dan mempertegas pengaturan pembukaan lahan dengan cara bakar ini, agar menjadi bagian solusi permanen pencegahan karhutla seperti yang diinstruksikan Bapak Presiden,” ujar Wamen Alue.

Menanggapi diskusi, Willy M Yoseph, Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Dayak Nasional (ICDN) yang juga Anggota DPR RI Komisi VII menyatakan rumusan dan kesimpulan hasil FGD dapat dijadikan masukan untuk revisi UU yang mengatur tentang diperbolehkannya membakar lahan secara terbatas oleh masyarakat.

“Kami siap untuk membantu melalui proses revisi undang-undang. Ini yang paling pas untuk kita, bicara panjang lebar harus ada muaranya, agar masyarakat dapat terbantu.” ujarnya.

Kemudian di dalam diskusi yang dihadiri sekitar 70 orang dan 34 orang diantaranya yang berbicara memberikan pendapat diperoleh beberapa rumusan diskusi. Salah satu isu yang mencuat adalah perlu antisipasi terhadap para oknum yang mengatasnamakan masyarakat adat untuk melakukan pembakaran lahan. Dimintakan oleh beberapa pembicara agar jangan sampai kearifan lokal masyarakat dilarang bukan karena kesalahan masyarakat, namun lebih karena kebijakan pemerintah yang mengatur terkait hal tersebut belum kuat, sehingga rawan menimbulkan celah hukum.

Menutup diskusi, Wamen LHK menyimpulkan bahwa secara umum para pembicara menyetujui jika sistem perladangan tradisional dengan teknik pembakaran oleh masyarakat adat perlu terus dilanjutkan, namun dengan catatan harus ada adaptasi, inovasi-inovasi dan teknologi agar meminimalisir dampak terhadap bencana karhutla.

Wamen LHK pun menyampaikan kesimpulan hasil diskusi yang memuat pendapat dan masukan dari para narasumber tadi, diantaranya yaitu diperlukan adanya kebijakan khusus Pemerintah terkait penetapan wilayah perladangan tradisional yang diintegrasikan dalam RTRWP/RTRWK pada masing-masing daerah yang masih memiliki tradisi dan mempraktekan perladangan tradisional.

See also  KLHK Jalin Kerja Sama Pelaksanaan Program LHK dengan Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya perlu adanya kegiatan pemetaan wilayah berbasis tipe ekosistem (Lowland & Upland), inventarisasi sebaran spasial & jumlah peladang tradisional termasuk jenis komoditas yaang dibudidayakan, teknologi serta kearifan yang dipakai di dalam praktek perladangan tradisional, dalam rangka penyusunan basis data (database) yg lengkap dan sahih terkait perladangan tradisional.

Kemudian perlu adanya peningkatan dan penguatan program dan anggaran, pemberdayaan, introduksi & alih teknologi pengolahan lahan tanpa bakar (PLTB), akses kelola hutan, pendampingan instensif dan lain-lain dari pemerintah, swasta dll yang lebih berpihak pada kelompok peladang tradisional.

Berikutnya perlu dukungan dan pembuatan petunjuk-petunjuk teknis & prosedur operasi standar (SOP) tentang pengolahan & peningkatan produktivitas lahan agar diintroduksi & diaksentuasikan kepada peladang tradisional. Lalu juga perlunya eksaminasi keseluruhan produk hukum yang terkait dengan kebakaran hutan & lahan, serta bagaimana implementasinya di lapangan oleh para pihak.

Selain itu peserta diskusi pun meminta agar kegiatan perladangan tradisional selama ini tidak dimaknai secara sempit untuk budidaya padi semata, melainkan kegiatan tersebut berkontribusi positip terhadap konservasi & keragaman genetik (padi, sayuran dll), kultural pertanian & bagian jati diri budaya bangsa, kekayaan intelektual tradisional yang seyogianya diproteksi & diakomodasi serta tidak dapat dihilangkan/dimusnahkan begitu saja.

Terakhir dimintakan juga oleh peserta diskusi agar sistem dan tatacara praktek serta implementasi perladangan tradisional perlu disesuaikan, dimodifikasi, dan diperkuat dengan pengaturan yang bersifat teknis-ekonomis dengan memperhatikan dinamika perubahan iklim, ruang & waktu, dinamika sosial, teknologi serta perkembangan populasi.

Sebagai tindak lanjut FGD ini Wamen menjelaskan akan membentuk tim khusus terkait untuk menyusun narasi kebijakan terkait perladangan tradisional, “Kita mungkin akan melibatkan perwakilan bapak ibu sekalian yang hadir pada diskusi ini untuk masuk dalam tim,” tambahnya.

See also  Menkominfo dan Dubes Uni Eropa Bahas Peluang Investasi dan Kerja Sama Sektor Digital

Wamen pun meminta kepada para pembicara agar memberikan masukan teknis dan scientific atas fakta dan data yang tadi diungkapkan dalam ruang FGD. Masukan tersebut menurutnya akan sangat berguna untuk memperkuat narasi kebijakan yang akan disusun, sehingga dapat menjadi bahan pertimbangan yang baik bagi pemerintah pusat dalam menelurkan kebijakan terkait hal ini nantinya.

Hadir mendampingi Wakil Menteri LHK dalam FGD virtual tersebut Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLHK, dan Kepala Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi KLHK, serta beberapa jajaran staf.(*)

Berita Terkait

Gotong Royong Perbaiki Jembatan, Patriot Transmigrasi dan Warga Mamasa Buka Akses Pengeringan Kopi
Kementerian PU Alirkan Air Dengan Pompa Untuk 15 Hektar Sawah di Pinrang
Kementerian PU Targetkan Sekolah Rakyat Tahap III Tanah Datar Rampung Tahun 2027
Kementerian PU Jaga Pasokan Air Irigasi 2.563 Hektare Sawah di Bantul dan Kulon Progo
Kementerian PU Pulihkan Layanan Air dan Sanitasi di Lima Daerah Sumut
Kementerian PU Siapkan 160 Ribu Meter Kubik Air Jelang Panen Raya di Wanam
Ekspedisi Patriot Bantu Warga Klamono Atasi Krisis Air Kolam
Pascabanjir Tapanuli Tengah, Kementerian PU Perkuat Tebing Sungai

Berita Terkait

Saturday, 3 October 2026 - 16:20 WIB

Gotong Royong Perbaiki Jembatan, Patriot Transmigrasi dan Warga Mamasa Buka Akses Pengeringan Kopi

Friday, 2 October 2026 - 07:53 WIB

Kementerian PU Alirkan Air Dengan Pompa Untuk 15 Hektar Sawah di Pinrang

Thursday, 1 October 2026 - 19:01 WIB

Kementerian PU Targetkan Sekolah Rakyat Tahap III Tanah Datar Rampung Tahun 2027

Wednesday, 30 September 2026 - 22:44 WIB

Kementerian PU Jaga Pasokan Air Irigasi 2.563 Hektare Sawah di Bantul dan Kulon Progo

Tuesday, 29 September 2026 - 22:57 WIB

Kementerian PU Pulihkan Layanan Air dan Sanitasi di Lima Daerah Sumut

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Guru Besar ITPLN Dorong PLTS 100 GWp Ciptakan 5,52 Juta Kerja

Saturday, 3 Oct 2026 - 13:53 WIB

Rocky Gerung sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) / foto ist

Berita Utama

Rocky Gerung Masuk Wantimpres, Prabowo Tekankan Posisi Etis

Saturday, 3 Oct 2026 - 10:45 WIB