ADPPI ke Ditjen EBTKE: Pengusahaan PLTP Panas Bumi Tak Perlu Lagi Diatur Perpres

Monday, 10 August 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa

Foto Istimewa

DAELPOS.com – Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Indonesia (ADPPI) menyurati Ditjen Energi Baru Terbarukan (EBTKE) Kementerian ESDM terkait rencana adanya pengaturan tentang pengusahaan Panas Bumi untuk PLTP yang dibeli oleh PT PLN dalam Perarutan Presiden (Perpres).

Kementerian ESDM sendiri memang sedang menyusun Rancangan Peraturan Presiden RI tentang Pembelian Tenaga Listrik Energi Terbarukan oleh PT. Perusahaan Listrik Negara (Persero) khusus berkaitan dengan Pengusahaan Panas Bumi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).

Terkait hal ini, Direktur Eksekutif ADPPI Hasanuddin mengingatkan bahwa tata kelola pengusahaan panasbumi telah diatur melalui Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung.

“Oleh karena itu, tidak ada kekosongan hukum yang mengharuskan tata kelolanya diatur melalui peraturan presiden, yang berbeda dengan Energi Terbarukan lainnya yang tata kelolanya belum diatur,” ujar Hasan dalam surat yang ditujukan kepada Ditjen EBTKE Kementerian ESDM yang diterima jurnas.com, Senin (10/8/2020).

Surat ADPPI bernunur 002.ext/agustus 2020 itu juga ditembuskan kepada Komisi VII DPR RI, Dirjen Ketenagalistrikan KESDM, Deputi Bidang Pencegahan Tindak Pidana Korupsi KPK RI, serta Direktur Panas Bumi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM.

Hasan menjelaskan, panas bumi telah memiliki peraturan tersendiri sekaligus menjadi bagian dari energi terbarukan. Maka untuk saling keterkaitan dan sinkronisasi, cukuplah dibuat aturan melalui pasal khusus di dalam peraturan presiden tersebut bahwa: Panas bumi diatur melalui peraturan tersendiri sesuai dengan undang-undang panas bumi.

“Hal ini untuk menghindari tumpeng tindih pengaturan dan pertentangan tata kelolanya, yang berdampak pada timbulnya ketidakpastian pengusahaan panas bumi dan persoalan hukum,” jelas Hasan.

See also  Hutama Karya Evaluasi Nataru, Trafik Tol Trans Sumatera Tembus 2,4 Juta Kendaraan

Pertentangan tata kelola dan persoalan hukum dimaksud, kata Hasan, adalah dalam Rancangan Peraturan Presiden R1 tentang Pembelian Tenaga Listrik Energi Terbarukan Oleh PT PLN (Persero), khusus berkaitan dengan Pengusahaan Panas Bumi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP).

“Dalam rancangan itu diatur dua hal, pertama mengenai harga pembelian tenaga listrik, dan kedua mengenai penggantian biaya eksplorasi dan infrastruktur panas bumi,” jelasnya.

Hasanuddin yang juga Aktivis 1998 memaparkan, berkenaan dengan harga pembelian tenaga listrik telah diatur melalui Pasal 106, Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2017 tentang Panas bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung.

Bunyinya sebagai berikut; Pasal 106

(1) Harga energi Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung ditetapkan o/eh Menteri dengan mempenimbangkan harga keekonomian Panas Bumi dan manfaat bagi kepentingan nasional.

(2) Harga energi Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berupa harga uap dan harga Iistrik.

(3) Menteri dalam menetapkan harga energi Panas Bumi berkoordinasi dengan menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan.

(4) Harga keekonomian Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) paling sedikit mempedimbangkan: a. biaya produksi uap dan/atau Iistrik; dan b. daya tarik investasi.

(5) Harga energi Panas Bumi sebagaimana dimaksud pada eye! (1) sampai dengan ayat (4) menjadi acuan dalam pelaksanaan penawaran Wilayah Kerja dan pengembangan kapasitas pembangkilan tenaga Iistrik.

Berdasarkan ketentuan ini, kata Hasan, maka pada prinsipnya penentuan tarif Harga Panasbumi ditentukan melalui mekanisme Lelang Wilayah Kerja dan Penugasan Pengusahaan panas bumi dengan mempertimbangkan harga keekonomian. Penentuan skema ini lebih lanjut diatur melalui peraturan menteri.

Kemudian berkenaan dengan penggantian biaya eksplorasi dan infrastruktur panas bumi, Hasan menjelaskan bahwa hal itu tidak diatur didalam Undang-Undang Nomor. 21 Tahun 2014 tentang Panas Bumi dan Peraturan Pemerintah Nomor. 7 Tahun 2017 tentang Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung.

See also  Hasilkan Kebijakan Aspiratif dan Berdampak, Menteri PANRB Terima Masukan dari PPI

“Dengan demikian, Rancangan Peraturan Presiden dimaksud mengenai penggantian biaya eksplorasi dan infrastruktur tidak memiliki dasar hukum, berimplikasi luas dan berpotensi menimbulkan persoalan hukum terkait pengeluaran anggaran negara dan/atau menjadi beban anggaran negara,” tuntas Hasanuddin, BADAN EKSEKUTIF NASIONAL Asosiasi Daerah Penghasil Panas Bumi Indonesia Geothermal Regional Associations of Indonesia.

Berita Terkait

Dasco Pastikan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026
Penuhi Kebutuhan MCK, Kementerian PU Salurkan 12.000 Liter Air Bersih untuk Warga Banjar
Cari Rumah Makin Gampang Bareng BTN di Danantara Housing Expo 2026
Perkuat Hubungan Diplomasi, Kuwait-Indonesia Akan Kolaborasi Bangun Desa
Meutya Hafid Dorong KPI Adaptif Hadapi Era Streaming
Jelang Aksi di DPR, Polda Metro Jaya Pastikan Jakarta Tetap Aman
Menteri PU Lapor Presiden: Konektivitas Jalan Nasional Flores Kembali Pulih
Mendes Jelaskan Program Sehati Hingga Desa Ekspor ke Ratusan Kades asal Merangin

Berita Terkait

Friday, 28 August 2026 - 01:27 WIB

Dasco Pastikan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

Thursday, 27 August 2026 - 17:02 WIB

Penuhi Kebutuhan MCK, Kementerian PU Salurkan 12.000 Liter Air Bersih untuk Warga Banjar

Thursday, 27 August 2026 - 12:43 WIB

Cari Rumah Makin Gampang Bareng BTN di Danantara Housing Expo 2026

Wednesday, 26 August 2026 - 19:14 WIB

Perkuat Hubungan Diplomasi, Kuwait-Indonesia Akan Kolaborasi Bangun Desa

Wednesday, 26 August 2026 - 18:58 WIB

Meutya Hafid Dorong KPI Adaptif Hadapi Era Streaming

Berita Terbaru

Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, saat menerima audiensi Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) atau Relawan Pati di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (27/8/2026). Foto Istimewa

Berita Utama

Dasco Pastikan RUU Perampasan Aset Disahkan 15 Desember 2026

Friday, 28 Aug 2026 - 01:27 WIB

foto ist

Berita Terbaru

DP Cuma 1 Persen, 130 Ribu Rumah Dipamerkan di Danantara Expo

Friday, 28 Aug 2026 - 01:22 WIB

foto ist

News

Soal RUU Perampasan Aset, Dasco: Tak Selesai, Kami Mundur

Friday, 28 Aug 2026 - 01:14 WIB