Tamsil Linrung: Reformasi Polri Harus Menyerap Spirit Hoegeng

Friday, 14 March 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

DAELPOS.com – Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Tamsil Linrung, menegaskan bahwa reformasi Kepolisian Republik Indonesia (Polri) merupakan sebuah keharusan untuk menjawab harapan publik akan institusi yang independen dan profesional. Pernyataan ini disampaikan dalam Seminar Nasional Reformasi Polri yang berlangsung di Auditorium Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Kamis (13/3).

Dalam pidatonya, Tamsil Linrung mengenang interaksinya dengan sosok legendaris, Kapolri 1968-1971 Jenderal Hoegeng Iman Santoso, yang dikenal sebagai simbol kejujuran dan keteladanan di kepolisian. Tamsil yang diajak oleh mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir bergabung dengan Petisi 50, sebuah gerakan moral yang di antaranya diikuti oleh Hoegeng dan Ali Sadikin, menyatakan bahwa Hoegeng adalah sosok polisi yang memberikan teladan nyata.

“Dari interaksi saya dengan beliau setelah pensiun, Hoegeng adalah polisi yang tidak hanya bersih, tapi juga berani dan konsisten dalam prinsip. Ia menjadi inspirasi bahwa di tengah tantangan dan godaan, integritas tetap bisa dijaga,” ungkapnya.

Menurut Tamsil, warisan keteladanan Hoegeng harus menjadi cermin dalam upaya reformasi Polri. Perubahan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari perbaikan tata kelola kelembagaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, hingga penegakan kode etik yang tegas dan adil.

“Kita butuh Polri yang tidak hanya profesional, tapi juga humanis dan dekat dengan masyarakat. Polri yang mampu memberikan rasa aman, bukan ketakutan. Polri yang bersih dari praktik korupsi dan penyalahgunaan wewenang,” tambahnya.

Tamsil mengingatkan, bahwa salah satu amanat utama reformasi 1998 adalah pemisahan Polri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) agar Polri dapat menjalankan tugasnya secara profesional, independen, dan tidak terpengaruh oleh kepentingan politik tertentu. Namun, berbagai kasus besar yang mengguncang institusi ini, seperti penembakan ajudan oleh mantan Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo serta tragedi Kanjuruhan, telah mencoreng citra kepolisian dan menurunkan kepercayaan masyarakat.
“Ketika mendengar kata ‘polisi,’ masyarakat seharusnya merasa aman, bukan malah khawatir. Namun, yang kita lihat hari ini adalah sebaliknya. Ada oknum yang justru terlibat dalam kejahatan berat, bahkan dalam lingkup internalnya sendiri,” tegas Tamsil.

See also  Novel Baswedan: Saya Belum Pernah Bertemu Koruptor yang Keluarganya Bahagia

Tamsil juga menyinggung peran media sosial dalam membentuk persepsi publik terhadap Polri. Ia menilai bahwa peningkatan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap Polri belakangan ini lebih dipengaruhi oleh tekanan media sosial dibandingkan reformasi struktural yang nyata.
“Survei sebelumnya menunjukkan angka di bawah 60 persen, kini naik menjadi 60 persen. Tapi ini lebih karena tekanan media sosial. No viral, no justice. Ini yang perlu dijawab,” kata Tamsil.

Dalam seminar tersebut, Kapolda DIY Irjen Pol Suwondo Nainggolan menyoroti dua masalah utama yang masih menjadi tantangan di Yogyakarta: konflik antarsuku dan kejahatan jalanan. Menurutnya, jika tidak ditangani secara serius, kedua permasalahan ini bisa berpotensi menjadi konflik horizontal yang lebih luas.
“Reformasi Polri tidak boleh hanya menjadi slogan. Polisi harus fokus pada upaya preventif dan preemtif, bukan hanya penindakan,” ujar Suwondo.

Sementara itu, Pakar Hukum Tata Negara UGM, Zainal Arifin Mochtar, menyoroti kecenderungan Polri yang semakin terlihat lebih militeristik dibandingkan TNI. Menurutnya, pemisahan Polri dari ABRI pada masa reformasi seharusnya menjadikan institusi ini lebih dekat dengan masyarakat sipil, bukan malah semakin kaku dan bersifat represif.

“Pasca-ABRI, masa-masa reformasi Polri hanya berlangsung sangat singkat. Karena polisi keburu menjadi semakin militeristik,” ujar Zainal.

Di sisi lain, Konsultan dan Praktisi Komunikasi Digital, Jusman Dalle, menilai bahwa reformasi Polri tidak hanya soal kebijakan internal, tetapi juga soal bagaimana institusi ini membangun komunikasi dengan masyarakat. Menurutnya, citra Polri sangat bergantung pada sentimen yang terbentuk di platform-platform digital.

“Selama ini, kehadiran Polri di media sosial belum efektif dalam membangun kedekatan dengan publik. Pernyataan, keterangan, unggahan, dan konten-konten Polri masih cenderung deklaratif, alih-alih menjadi medium interaksi yang engaging,” pungkas Tenaga Ahli Wakil Ketua DPD ini.

See also  Menlu Retno Marsudi: Empat Bentuk MOU FIFA Dan Asean

Seminar ini diselenggarakan oleh Sekretariat Jenderal DPD RI bersama Keluarga Alumni Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (Kapasgama) dan menghadirkan sejumlah pakar serta akademisi. Selain Tamsil Linrung dan Irjen Pol Suwondo Nainggolan, seminar ini juga menghadirkan Eko Riyadi (Dosen FH UII/Direktur Pusham UII), Dr. Budi Wahyuni (Komisioner Komnas Perempuan RI 2015–2019), Dr. Trisno Raharjo (Dosen FH UMY), Jusman Dalle (Konsultan dan Praktisi Komunikasi Digital) serta Dr. Zainal Arifin Mochtar (Pakar HTN FH UGM/Peneliti Pukat).

Kegiatan yang semula dirancang dalam format Focus Group Discussion (FGD), dikembangkan menjadi Seminar Nasional karena animo publik yang sangat tinggi. Sekitar 200 peserta dari berbagai kelompok sosial hadir, termasuk aktivis perempuan, pekerja sosial, dan mahasiswa.

Melalui seminar ini, diharapkan reformasi Polri dapat terus berlanjut dan tidak hanya menjadi wacana semata, tetapi benar-benar diwujudkan dalam kebijakan yang konkret. Dengan integritas dan profesionalisme sebagai pilar utama, Polri diharapkan dapat menjadi institusi yang dipercaya dan dicintai oleh rakyat.

Berita Terkait

Samator Raih Poin Penuh, Usau Kandaskan Garuda Jaya Tiga Set Langsung
Menteri Dody Tinjau IJD Payakumbuh–Sitangkai, Komitmen Dukung Konektivitas Daerah Sumatera Barat
Prabowo Lantik Anggota Dewan Energi Nasional 2026–2030
Akses Terputus Banjir Bandang, Kementerian PU Turunkan Jembatan Darurat
BPK Mulai Pemeriksaan LK TA 2025, Kementerian PU Tekankan Akuntabilitas
Kementerian PU Mulai Perbaikan Lubang Jalan dan Pembersihan Sedimen Drainase Ruas Banda Aceh-Batas Sumut
Menteri PU Bersama Menko AHY Tinjau SPAM Karang Baru, Perkuat Suplai Air Bersih untuk RSUD Aceh Tamiang
Menteri Dody Dorong Percepatan Huntara di Aceh, Targetkan Nol Warga Tinggal di Tenda Saat Ramadan

Berita Terkait

Friday, 30 January 2026 - 08:57 WIB

Samator Raih Poin Penuh, Usau Kandaskan Garuda Jaya Tiga Set Langsung

Thursday, 29 January 2026 - 06:25 WIB

Menteri Dody Tinjau IJD Payakumbuh–Sitangkai, Komitmen Dukung Konektivitas Daerah Sumatera Barat

Wednesday, 28 January 2026 - 18:43 WIB

Prabowo Lantik Anggota Dewan Energi Nasional 2026–2030

Wednesday, 28 January 2026 - 10:42 WIB

Akses Terputus Banjir Bandang, Kementerian PU Turunkan Jembatan Darurat

Monday, 26 January 2026 - 22:39 WIB

BPK Mulai Pemeriksaan LK TA 2025, Kementerian PU Tekankan Akuntabilitas

Berita Terbaru

ilustrasi / foto ist

Megapolitan

Perluasan Muara Angke Dinilai Positif, DPRD Minta Pengawasan

Friday, 30 Jan 2026 - 09:35 WIB

News

Pramono Perpanjang PJJ dan WFH Hingga 1 Februari

Friday, 30 Jan 2026 - 09:28 WIB