daelpos.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) RI meninjau pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama ekolah (GAMAS) di SLBN 02 Jakarta, Kelurahan Lenteng Agung, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Senin (13/7). Kegiatan ini menjadi wujud komitmen bersama dalam memperkuat peran ayah sebagai bagian penting dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga RI, Wihaji, mengatakan bahwa program GAMAS bertujuan mendorong para ayah untuk meluangkan waktu mendampingi dan mengantar anak pada hari pertama masuk sekolah sebagai bentuk kehadiran orang tua dalam kehidupan anak.
Menteri Wihaji menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PAN-RB) agar para ayah memperoleh kesempatan mengantar anak ke sekolah. “Pak Menteri PAN-RB sudah mengeluarkan surat edaran kepada seluruh kementerian dan lembaga di Indonesia agar memberikan dispensasi bagi para ayah untuk menyempatkan waktu mengantar anak mereka ke sekolah, di mana pun mereka berada,” ujarnya.
Menurut Menteri Wihaji, SLBN 02 Jakarta dipilih sebagai lokasi peninjauan karena menjadi tempat belajar sekitar 90 anak berkebutuhan khusus yang didukung oleh orang tua dengan komitmen tinggi dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.
“Kehadiran ayah di SLB ini, akan terbangun kedekatan emosional, memberikan motivasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri anak saat memulai tahun ajaran baru,” ungkapnya.
Menteri Wihaji menambahkan, sekitar 25 persen anak di Indonesia mengalami fenomena fatherless atau kehilangan figur ayah secara psikologis. Karena itu, para ayah diharapkan dapat hadir pada berbagai momen penting dalam kehidupan anak.
Menurutnya, ketidakhadiran orang tua berpotensi membuat peran tersebut tergantikan oleh penggunaan gawai secara berlebihan.
“Rata-rata delapan hingga sepuluh jam setiap hari, algoritma gawai dapat memengaruhi pikiran dan perilaku anak-anak kita,” bebernya.
Menteri Wihaji juga menyampaikan bahwa hampir 250.000 anak berkebutuhan khusus saat ini menempuh pendidikan di satuan pendidikan formal di Indonesia, sementara di DKI Jakarta terdapat sekitar 6.000 anak berkebutuhan khusus yang mengenyam pendidikan.
Beliau turut mengapresiasi komitmen Pemprov DKI Jakarta dalam menyediakan layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus.
“Ada 13 SLB di bawah naungan Pemprov DKI Jakarta. Saya rasa semuanya memiliki fasilitas yang lengkap sehingga anak-anak yang lulus nantinya memiliki keterampilan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik,” ucapnya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Dinas Pemberdayaan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk (PPAPP) Provinsi DKI Jakarta, Dwi Oktavia, menyampaikan bahwa Pemprov DKI Jakarta mendukung pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah melalui Surat Edaran Sekretaris Daerah yang mengimbau para Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mengantar anak ke sekolah pada hari pertama masuk.
Selain itu, Dinas PPAPP Provinsi DKI Jakarta terus memperkuat peran ayah dalam pengasuhan melalui program Ayah Idaman (AMAN), sebagai ruang belajar dan berbagi pengalaman bagi para ayah dalam menerapkan pola asuh yang positif dan membangun kedekatan dengan anak.
“Ayah Idaman adalah sosok ayah yang hadir dan mengikuti perkembangan anak secara langsung bersama keluarga. Hal ini dimulai dengan membangun komunikasi, menjalankan fungsi agama, serta berbagai fungsi lainnya untuk membentuk keluarga yang ideal,” tandasnya.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, pelaksanaan Gerakan Ayah Mengantar Anak Sekolah diharapkan dapat mendorong semakin banyak ayah untuk hadir dan terlibat aktif dalam pengasuhan. Kehadiran ayah bukan sekadar mengantar anak ke sekolah, tetapi juga menjadi fondasi dalam membangun kedekatan emosional, rasa aman, serta kepercayaan diri anak sebagai bekal menghadapi masa depan.








