Gas Jadi Pilar Transisi Energi dan Keandalan Listrik Nasional

Wednesday, 17 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto menegaskan bahwa gas bumi tetap menjadi komponen kunci dalam mendukung transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE).

Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto menegaskan bahwa gas bumi tetap menjadi komponen kunci dalam mendukung transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE).

daelpos.com — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menegaskan bahwa gas bumi tetap menjadi komponen kunci dalam mendukung transisi energi nasional menuju target Net Zero Emission (NZE). Direktur Utama PLN EPI, Rakhmad Dewanto, menyatakan bahwa gas tidak hanya berperan sebagai sumber energi transisi, tetapi juga sebagai tulang punggung keandalan sistem kelistrikan nasional untuk melengkapi pengembangan renewable energi.

“Gas bukan hanya sumber energi transisi, tetapi juga penyeimbang yang fleksibel sebagai load follower dan peaker di tengah pengembangan besar-besaran energi baru terbarukan (EBT). Perannya sangat krusial untuk memastikan sistem kelistrikan tetap stabil,” ujar Rakhmad.

Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN memproyeksikan peningkatan kebutuhan listrik nasional dari 306 terawatt-hour (TWh) pada 2024 menjadi 511 TWh pada 2034. Lonjakan ini dipicu pertumbuhan signifikan terutama dari pusat data (data center), kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) dan peningkatan penggunaan alat elektronik terutama AC.

“Kami mengantisipasi adanya lonjakan konsumsi listrik dalam sepuluh tahun mendatang, terutama dari pelanggan eksisting, pusat data, hilirisasi tambang dan kelapa sawit, pertumbuhan kendaraan listrik, pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), serta sektor maritim dan pariwisata. Untuk itu, PLN EPI harus siap memastikan ketersediaan pasokan energi yang cukup dan andal,” jelasnya.

Dari sisi energi primer, kebutuhan gas untuk sektor kelistrikan diproyeksikan meningkat dari 1.635 Billion British Thermal Units per Day (BBTUD) pada 2024 menjadi 2.611 BBTUD pada 2034, dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 5,3 persen.

“Kenaikan kebutuhan listrik sejalan dengan peningkatan konsumsi gas karena program penggantian BBM dengan gas alam cair dan sebagai pelengkap pengembangan renewable energy. Karena itu, kami harus memastikan ketersediaan pasokan gas dalam jangka panjang,” tambah Rakhmad.

See also  Data Tak Pernah Bohong, Jangan Biarkan Sejarah Kelam Berulang

Saat ini, PLN mengandalkan dua sumber utama pemenuhan gas, yaitu gas pipa dan Liquefied Natural Gas (LNG). Dengan menurunnya produksi gas pipa domestik, kebutuhan LNG diperkirakan akan terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sebagai bagian dari strategi efisiensi dan dekarbonisasi, PLN saat ini menjalankan program konversi pembangkit berbahan bakar minyak (BBM) menjadi berbahan bakar gas untuk tahap pertama di 41 unit pembangkit di 21 lokasi hingga 2027. Program ini diproyeksikan menyerap hingga 29 kargo LNG per tahun.

Dengan cadangan gas nasional yang masih besar, antara lain di Papua (11,4 BSCF), Sumatera (9 BSCF), Kalimantan dan Sulawesi (>5 BSCF), serta Jawa (5 BSCF) tantangan utama terletak pada pengembangan lapangan gas baru dan infrastruktur gas.

Untuk itu, PLN tengah mengembangkan infrastruktur gas, di antaranya koneksi pipa West Natuna–Pulau Pemping dan pembangunan Onshore maupun _Floating Storage Regasification Unit (FSRU). Saat ini, Indonesia memiliki kapasitas penyimpanan LNG sebesar 700.000 meter kubik dengan kemampuan regasifikasi 1.300 juta kaki kubik per hari. Setelah pengembangan keseluruhan infrastruktur gas, ketahanan energi nasional terutama untuk gas alam akan semakin kuat dengan peningkatan kapasitas penyimpanan menjadi 1,2 juta meter kubik dengan kemampuan regasifikasi mencapai 3.850 juta kaki kubik per hari.

Rakhmad menegaskan bahwa keberhasilan transisi energi dan keandalan sistem kelistrikan nasional bergantung pada sinergi seluruh pemangku kepentingan.

“Kami membutuhkan dukungan Pemerintah terkait kepastian alokasi gas jangka panjang, baik dari sumber baru, perpanjangan alokasi yang ada maupun pengalihan kontrak ekspor yang akan berakhir. Dukungan kebijakan dan percepatan perizinan infrastruktur juga sangat kami harapkan,” tutup Rakhmad.

Berita Terkait

PLN EPI Perkuat Rantai Pasok Bioenergi, Gandeng Kalimantan Powerindo Dukung Ketahanan Energi
Di Tengah Gejolak Energi Dunia, Pertamina Dorong Energi Terbarukan
Dengan Energi Transisi, Pertamina Bangun Desa Rentan Jadi Resisten
Arus Mudik Lebaran Usai, PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025
Siap-siap! Beli BBM Subsidi Pakai Barcode, Jatah Maksimal 50 Liter
Pemerintah Putuskan Tarif Listrik Triwulan II 2026 Tidak Naik, PLN Siap Jaga Keandalan dan Kualitas Layanan di Tengah Dinamika Global
Pertamina dan INPEX Perkuat Kerja Sama Pengembangan LNG Abadi Masela
PLN EPI Gelar “Health Talk DYNAMIC” Paska Idul Fitri, Dorong Keseimbangan Fisik dan Mental untuk Produktivitas Berkelanjutan
Tag :

Berita Terkait

Friday, 3 April 2026 - 21:50 WIB

PLN EPI Perkuat Rantai Pasok Bioenergi, Gandeng Kalimantan Powerindo Dukung Ketahanan Energi

Friday, 3 April 2026 - 21:45 WIB

Di Tengah Gejolak Energi Dunia, Pertamina Dorong Energi Terbarukan

Friday, 3 April 2026 - 21:38 WIB

Dengan Energi Transisi, Pertamina Bangun Desa Rentan Jadi Resisten

Thursday, 2 April 2026 - 13:56 WIB

Arus Mudik Lebaran Usai, PLN Catat Lonjakan Penggunaan SPKLU Lebih dari 4 Kali Lipat Dibanding Tahun 2025

Thursday, 2 April 2026 - 01:13 WIB

Siap-siap! Beli BBM Subsidi Pakai Barcode, Jatah Maksimal 50 Liter

Berita Terbaru

ilustrasi / foto ist

Berita Terbaru

Lebaran Betawi 2026 Digelar 10-12 April di Lapangan Banteng

Sunday, 5 Apr 2026 - 00:55 WIB