daelpos.com – Penutupan yang berlangsung di Gedung Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) itu menandai berakhirnya masa siaga yang telah berjalan sejak pertengahan Desember 2025.
Inspektur Jenderal Kementerian ESDM Yudhiawan, yang mewakili Menteri ESDM, mengatakan kesiapsiagaan dan mitigasi cepat menjadi kunci terjaganya pasokan energi nasional selama periode libur panjang. Menurut dia, potensi bencana geologi berhasil diantisipasi tanpa mengganggu distribusi energi.
“Pelaksanaan upaya antisipasi bencana geologi—baik gunung api, gerakan tanah, maupun gempa bumi—sudah termitigasi dengan baik dan berjalan lancar berkat kerja keras semua pihak,” kata Yudhiawan.
Selama masa siaga, Posko Nasional Sektor ESDM mencatat peningkatan aktivitas vulkanik di sejumlah wilayah. Satu gunung api berstatus Awas (Level IV), yakni Gunung Lewotobi Laki-laki di Nusa Tenggara Timur, mengalami peningkatan status pada 1 Januari 2026. Selain itu, dua gunung api berstatus Siaga (Level III), Gunung Merapi dan Gunung Semeru, serta 24 gunung api berstatus Waspada (Level II) terus dipantau intensif.
Ketua Posko Nasional Sektor ESDM, Erika Retnowati, menyebut koordinasi cepat antara Badan Geologi dan pelaku usaha energi menjadi faktor penting dalam menjaga operasional fasilitas vital. “Seluruh aktivitas gempa bumi, gunung api, dan gerakan tanah tidak berdampak terhadap pasokan maupun kelancaran penyaluran energi, baik BBM, gas, maupun listrik,” ujarnya.
Di sektor gerakan tanah, tercatat 82 kejadian yang tersebar di 17 provinsi. Pemetaan wilayah rawan dan langkah antisipatif dinilai efektif mencegah gangguan pada jalur distribusi energi. Sementara itu, selama periode 15 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026, posko mencatat 10 gempa bumi dengan magnitudo di atas 5,0 serta 46 gempa yang dirasakan masyarakat dengan magnitudo di bawah 5,0.
Salah satu peristiwa menonjol adalah gempa merusak di sekitar Agam, Sumatera Barat, pada 28 Desember 2025. Meski menimbulkan kerusakan, respons cepat dan koordinasi lintas lembaga memastikan tidak terjadi tsunami dan infrastruktur energi tetap berfungsi.
Yudhiawan mengapresiasi sinergi antarinstansi, termasuk dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta TNI dan Polri. Menurut dia, kerja sama tersebut memungkinkan informasi kebencanaan diterima dengan cepat oleh operator energi di lapangan.
Kementerian ESDM menyatakan akan terus memperkuat standar mitigasi dan kesiapsiagaan geologi untuk menjaga keandalan pasokan energi nasional, terutama pada periode-periode rawan bencana.








