daelpos.com – Memasuki usia ke-81 tahun kemerdekaan, Indonesia terus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui investasi dan hilirisasi. Tidak hanya menjadi sumber pembiayaan pembangunan, investasi kini diarahkan untuk menciptakan nilai tambah di dalam negeri, membuka lapangan kerja, memperkuat industri nasional, serta mendorong Indonesia naik kelas dalam rantai pasok global.
“Alhamdulillah karena kerja keras kita, karena kepercayaan rakyat kepada pemerintah. Di tengah ketidakpastian global, investasi tetap tumbuh. Sepanjang 2025, realisasi investasi mencapai Rp 1931 Triliun dan menciptakan lebih dari 2,7 juta lapangan kerja. Pada semester 1 Tahun 2026, realisasi investasi mencapai Rp 1.010 Triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja,” jelas Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan Presiden RI dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia.
Dari total tersebut realisasi investasi tahun 2025, investasi dalam negeri mencapai Rp1.030,3 triliun atau 53,4 persen, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp900,9 triliun atau 46,6 persen. Momentum pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Semester I 2026, capaian realisasi investasi dalam negeri mencapai Rp502,9 triliun dan PMA sebesar Rp507,6 triliun, dengan total setara dengan 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Hilirisasi, Dari Kekayaan Alam Menjadi Kekuatan Industri
Sejalan dengan semangat kemerdekaan untuk membangun bangsa yang mandiri, pemerintah terus mempercepat hilirisasi sebagai strategi transformasi ekonomi. Hilirisasi diarahkan agar Indonesia tidak berhenti pada ekspor bahan mentah, tetapi mampu mengolah sumber daya alam menjadi produk bernilai tambah dan membangun rantai industri dari hulu hingga hilir.
Sepanjang 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun, berkontribusi 30,2 persen terhadap total realisasi investasi nasional dan tumbuh signifikan sebesar 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Semester I 2026, investasi hilirisasi kembali mencatatkan nilai Rp300,1 triliun, atau sekitar 29,7 persen dari total realisasi investasi nasional. Investasi tersebut antara lain berasal dari pengembangan hilirisasi mineral seperti bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika.
Perkembangan tersebut menunjukkan adanya pergeseran penting dalam struktur investasi Indonesia. Investasi tidak lagi hanya berorientasi pada pengambilan sumber daya, tetapi semakin diarahkan pada pembangunan kapasitas pengolahan, manufaktur, dan ekosistem industri.
Investasi Semakin Tersebar ke Berbagai Daerah
Pertumbuhan investasi juga terus berkontribusi terhadap pemerataan ekonomi. Pada Semester I 2026, realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp507,8 triliun atau 50,2 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan investasi di Pulau Jawa sebesar Rp502,8 triliun atau 49,8 persen.
Sejumlah daerah menjadi pusat pertumbuhan investasi baru, terutama wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam dan potensi pengembangan kawasan industri. Pada periode yang sama, lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar adalah DKI Jakarta sebesar Rp94,9 triliun, Jawa Barat Rp61,3 triliun, Maluku Utara Rp40,2 triliun, Jawa Timur Rp40,1 triliun, dan Sulawesi Tengah Rp36,6 triliun.
Pola tersebut menunjukkan bahwa investasi semakin berperan dalam membuka pusat-pusat pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa, sekaligus mendukung pembangunan industri yang lebih dekat dengan sumber bahan baku.
Kemudahan Berusaha untuk Memperluas Kesempatan Ekonomi
Penguatan investasi juga berjalan beriringan dengan transformasi pelayanan perizinan berusaha. Melalui sistem Online Single Submission (OSS), pemerintah terus mendorong kemudahan dan kepastian berusaha, termasuk bagi usaha mikro, kecil, dan menengah.
Hingga 13 Agustus 2026, sekitar 17 juta NIB telah diterbitkan melalui OSS. Lebih dari 97 persen di antaranya merupakan NIB usaha mikro.
Capaian tersebut menunjukkan bahwa investasi dan pembangunan ekonomi tidak hanya berlangsung melalui proyek-proyek berskala besar, tetapi juga melalui semakin luasnya kesempatan masyarakat untuk masuk ke sektor formal dan mengembangkan usaha.
Menjadikan Kemerdekaan sebagai Momentum Transformasi Ekonomi
Memperingati 81 tahun kemerdekaan, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM memandang investasi dan hilirisasi sebagai bagian dari upaya melanjutkan cita-cita kemerdekaan melalui pembangunan ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya saing.
Indonesia tidak hanya memiliki sumber daya alam yang melimpah, tetapi juga terus membangun kemampuan untuk mengolah, memproduksi, dan menciptakan teknologi serta industri bernilai tambah di dalam negeri.
Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat ekosistem investasi melalui penyederhanaan perizinan berusaha, pembangunan kawasan industri, pengembangan hilirisasi, penguatan kemitraan dengan investor domestik dan global, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
“Pertumbuhan dan investasi bukan tujuan akhir. Tujuan akhir kita adalah kesejahteraan rakyat. Setiap rupiah investasi harus menciptakan pekerjaan dan menghasilkan perbaikan kualitas hidup rakyat kita, terutama rakyat paling bawah,” tegas Presiden Prabowo.(*)








