daelpos.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan ekosistem bioenergi sebagai bagian dari transisi energi nasional yang sekaligus membuka peluang ekonomi dan lapangan kerja baru. Melalui pemanfaatan sekitar 10 juta ton biomassa, pengembangan rantai pasok bioenergi dari hulu hingga hilir diperkirakan berpotensi menciptakan sekitar 150 ribu green jobs. Potensi tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam acara West Java Leader Fest yang diselenggarakan Yayasan IDNextLeader dan Telkom University di Bandung.
Hokkop mengatakan penciptaan lapangan kerja tersebut tersebar di sepanjang rantai pasok bioenergi, mulai dari penyediaan dan pengumpulan bahan baku, pengolahan, transportasi, hingga pemanfaatannya sebagai bahan bakar pembangkit.
“Green job yang tercipta dari 10 juta ton saja itu bisa mencapai sekitar 150 ribu lapangan kerja hijau baru,” kata Hokkop
Menurut Hokkop, pengembangan ekosistem tersebut memberikan kesempatan bagi masyarakat di berbagai daerah untuk terlibat langsung dalam rantai pasok energi. Peluang ini mencakup petani, koperasi, BUMDes, pelaku usaha, agregator, hingga penyedia jasa logistik. Selain menciptakan lapangan kerja, pemanfaatan 10 juta ton biomassa diproyeksikan berkontribusi terhadap pengurangan emisi sekitar 12 juta ton CO2e.
Hokkop menjelaskan Indonesia memiliki sumber daya biomassa yang besar dan beragam, mulai dari kayu, residu pertanian, sekam padi, hingga berbagai sumber hayati lainnya. Berdasarkan pemetaan PLN EPI, pemanfaatan biomassa saat ini mencapai sekitar 30,7 juta ton, sementara potensi biomassa yang belum termanfaatkan diperkirakan sekitar 60,6 juta ton.
Meski demikian, potensi biomassa yang belum termanfaatkan tersebut masih bersifat indikatif dan perlu mempertimbangkan aspek teknis, keekonomian, aksesibilitas bahan baku, serta kesiapan rantai pasok dari hulu hingga hilir.
PLN EPI terus memperkuat ekosistem tersebut. Sepanjang periode 2023–2026, perusahaan telah merealisasikan penyediaan biomassa sebesar 4,77 juta ton. Saat ini, pasokan untuk kebutuhan cofiring masih didominasi biomassa berbasis kayu dengan porsi lebih dari 77 persen.
Pengembangan bioenergi juga terus diperluas melalui berbagai produk, antara lain biomassa, biochar, syngas, biohidrogen, compressed biogas (CBG), biofuel, dan bioetanol.
Pemanfaatannya diarahkan untuk mendukung cofiring, menggantikan penggunaan bahan bakar pada pembangkit diesel, memenuhi kebutuhan industri, hingga pengembangan bahan bakar berkelanjutan.
Peluang penciptaan green jobs juga sejalan dengan ekspansi energi terbarukan dalam RUPTL 2025–2034. Dalam skenario ARED, PLN merencanakan tambahan kapasitas energi terbarukan sebesar 12,22 GW pada periode 2025–2029, atau sekitar 44 persen dari total tambahan kapasitas pembangkit sebesar 27,9 GW.
Tambahan kapasitas tersebut terdiri atas PLTS sebesar 5,91 GW, PLTA 3,20 GW, PLTB 1,55 GW, panas bumi 0,95 GW, serta bioenergi 0,61 GW. Target bauran energi terbarukan pada 2029 dalam skenario tersebut mencapai 19,7 persen.
Hokkop menilai besarnya peluang tersebut perlu dimanfaatkan generasi muda, bukan hanya dengan masuk sebagai tenaga kerja, tetapi juga dengan membangun usaha dan menjadi bagian dari rantai industri energi terbarukan.
“Teman-teman bisa menjadi tenaga kerja, pemainnya, agregatornya, dan lain-lain,” kata Hokkop.
Salah satu pengembangan bioenergi yang terus didorong PLN EPI adalah implementasi cofiring biomassa pada PLTU. Terdapat 52 lokasi pembangkit batu bara dengan total kapasitas terpasang sekitar 18.154 MW yang memiliki potensi implementasi cofiring dengan kebutuhan biomassa diperkirakan mencapai sekitar 9 juta ton per tahun.
Program tersebut juga menjadi bagian dari target Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) 2030 sektor energi, dengan pemanfaatan biomassa melalui cofiring sebagai salah satu upaya mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca.
Hokkop menegaskan transisi energi tidak hanya menghadirkan perubahan pada sumber energi, tetapi juga menciptakan ruang ekonomi dan profesi baru. Karena itu, generasi muda memiliki peluang untuk mengambil peran sejak dari hulu hingga hilir, baik sebagai tenaga profesional, inovator, pelaku usaha maupun agregator dalam ekosistem energi bersih.
“Transisi energi bukan hanya tentang mengganti sumber energi dan menurunkan emisi. Di dalamnya ada peluang ekonomi, lapangan kerja baru, dan ruang bagi generasi muda untuk menjadi pelaku utama masa depan energi Indonesia,” tutup Hokkop.








