Potensi Biomassa 83,4 Juta Ton, PLN EPI Dorong Pengembangan Biohidrogen

Friday, 23 October 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menjadi pembicara dalam Program Diaspora Berdampak 2026 bertema Hidrogen: Prospek Nasional dan Lanskap Global di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir menjadi pembicara dalam Program Diaspora Berdampak 2026 bertema Hidrogen: Prospek Nasional dan Lanskap Global di Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

daelpos.com – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) menjajaki pengembangan biohidrogen berbasis biomassa sebagai alternatif energi rendah karbon dengan memanfaatkan potensi sumber daya biomassa Indonesia yang diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun. Upaya tersebut disampaikan Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir dalam Program Diaspora Berdampak 2026 bertema Hidrogen: Prospek Nasional dan Lanskap Global di Fakultas Teknik Universitas Indonesia, Depok, sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan impor.

Hokkop mengatakan Indonesia memiliki beragam sumber biomassa yang berpotensi dikembangkan sebagai bahan baku biohidrogen, mulai dari residu pertanian, limbah kayu, sekam padi hingga limbah agroindustri. Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya PLN EPI membangun ekosistem bioenergi yang terintegrasi dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia di dalam negeri.

“Jadi, kita bikin ekosistem biomassa, ekosistem CBG, ekosistem hidrogen, untuk memanfaatkan energi kita secara domestik dan mengurangi ketergantungan impor dan fosil,” ujar Hokkop.

Berdasarkan pemetaan PLN EPI, potensi sumber daya biomassa Indonesia diperkirakan mencapai 83,4 juta ton per tahun. Potensi terbesar berada di Sumatra sekitar 42,8 juta ton, disusul Kalimantan 18,9 juta ton dan Jawa 13,1 juta ton. Dari jumlah tersebut, sekitar 60,6 juta ton diperkirakan belum dimanfaatkan.

Hokkop menegaskan angka tersebut masih bersifat indikatif karena belum sepenuhnya memperhitungkan aspek teknis, keekonomian, aksesibilitas, serta kesiapan rantai pasok. Karena itu, pemetaan lebih lanjut diperlukan untuk menentukan potensi biomassa yang secara teknis dan ekonomis dapat dikembangkan.

Potensi tersebut membuka peluang pemanfaatan biomassa yang lebih luas. Selain digunakan untuk program cofiring di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), PLN EPI mengembangkan portofolio bioenergi melalui produk bernilai tambah seperti biochar, syngas, Compressed Biomethane Gas (CBG), pengelolaan sampah, hingga biohidrogen.

See also  PLN EPI Dorong Standardisasi Biomassa, Efisiensi Rantai Pasok Jadi Penentu Keberhasilan Transisi Energi

Dalam pengembangan biohidrogen, biomassa dapat dikonversi melalui proses gasifikasi untuk menghasilkan syngas. Gas tersebut kemudian melalui proses pemurnian untuk menghasilkan hidrogen dengan tingkat kemurnian tinggi yang berpotensi dimanfaatkan untuk kebutuhan industri maupun sebagai bagian dari rantai pasok energi rendah karbon.

Regulasi dan Pasar Jadi Kunci

Meski memiliki potensi besar, Hokkop menilai pengembangan biohidrogen tidak cukup hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku dan teknologi. Kepastian regulasi, keekonomian, investasi, dan terbentuknya pasar menjadi faktor penting agar pengembangan biohidrogen dapat berkembang menuju skala komersial.

Ia mencontohkan pengembangan biomassa untuk program cofiring yang telah memiliki dukungan kebijakan dan mekanisme harga sehingga memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk membangun rantai pasok. Sementara itu, pengembangan CBG dan hidrogen masih membutuhkan penguatan kerangka regulasi dan model bisnis.

“Jadi pekerjaan rumah terbesar kalau kita ingin mengembangkan pemanfaatan biohidrogen adalah memastikan adanya dasar hukum. Saat ini, regulasi untuk pengembangannya masih perlu didorong,” kata Hokkop.

Untuk membangun ekosistem tersebut, PLN EPI memetakan sejumlah skema kerja sama, mulai dari penyediaan bahan baku biomassa, pembelian hidrogen dari mitra produsen, hingga investasi bersama dalam pengembangan fasilitas produksi. Skema tersebut akan dievaluasi berdasarkan kesiapan teknologi, keekonomian, ketersediaan bahan baku, dan kebutuhan pasar.

PLN EPI juga menjajaki kolaborasi dengan mitra internasional untuk memperluas pengembangan teknologi dan pasar. Penjajakan tersebut antara lain mencakup pengembangan biohidrogen untuk electro-sustainable aviation fuel (e-SAF) bersama eFuels SEA Singapore serta kajian pengembangan biohidrogen dan amonia hijau bersama CISRI Hypore China.

Pengembangan hidrogen menjadi bagian dari peta jalan bisnis bioenergi PLN EPI hingga 2030. Pada 2026, perusahaan memfokuskan pada kajian pasokan amonia dan hidrogen yang selanjutnya diarahkan menuju tahapan pengujian pemanfaatan dan pencampuran hidrogen secara bertahap.

See also  Wamen BUMN Cek Langsung Kesiapan SPKLU PLN Layani Kebutuhan Nataru

Hokkop mengatakan pengembangan energi rendah karbon membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perusahaan, pelaku industri, mitra teknologi, investor, hingga pelaku usaha lokal. Kolaborasi diperlukan agar potensi sumber daya domestik dapat dihubungkan dengan teknologi, investasi, dan kebutuhan pasar.

“Perubahan zaman dan teknologi tidak bisa kita tolak. Kita harus mengajak berbagai pihak untuk bergerak ke arah tersebut,” ujar Hokkop.

Melalui pengembangan biohidrogen, PLN EPI mendorong biomassa tidak hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar, tetapi juga diolah menjadi produk energi bernilai tambah lebih tinggi. Dengan dukungan regulasi, teknologi, investasi, dan pasar yang memadai, potensi biomassa domestik dapat menjadi bagian dari ekosistem energi rendah karbon sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional.

Berita Terkait

Berbagi di Usia ke-26, PLN Icon Plus Hadir untuk Anak Yatim dan Dhuafa
Pertagas Salurkan Bantuan dan Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Atasi Karhutla di Sumatra
Mekar Bersama, PLN Icon Plus Buka Peluang Pasar bagi UMKM Binaan di Puncak HUT ke-26
Integrasikan Energi Hijau dan Ekonomi Desa, PLN EPI Raih ESG Now Awards 2026
PLTA Tua Makin Andal Berkat AI, PLN Nusantara Power Raih Penghargaan Internasional
Green Jobs Membludak, PLN IP Ungkap Skill yang Dicari Industri Energi
Dukung Operasional Kelistrikan MotoGP Mandalika, PLN Icon Plus Siagakan Infrastruktur Digital
Jaga Keandalan Listrik Sulawesi, PLN Tambah Pembangkit 50 MW di Sigi Sulteng
Tag :

Berita Terkait

Friday, 23 October 2026 - 14:17 WIB

Potensi Biomassa 83,4 Juta Ton, PLN EPI Dorong Pengembangan Biohidrogen

Friday, 23 October 2026 - 14:12 WIB

Berbagi di Usia ke-26, PLN Icon Plus Hadir untuk Anak Yatim dan Dhuafa

Friday, 23 October 2026 - 08:50 WIB

Pertagas Salurkan Bantuan dan Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Atasi Karhutla di Sumatra

Friday, 23 October 2026 - 08:36 WIB

Mekar Bersama, PLN Icon Plus Buka Peluang Pasar bagi UMKM Binaan di Puncak HUT ke-26

Thursday, 22 October 2026 - 12:56 WIB

Integrasikan Energi Hijau dan Ekonomi Desa, PLN EPI Raih ESG Now Awards 2026

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Wamen Todotua Raih Honorary Fellow Award di CAFEO 44

Friday, 23 Oct 2026 - 08:54 WIB