daelpos.com – Investasi semakin memberikan kontribusi positif pada pertumbuhan ekonomi nasional di triwulan II 2026 yaitu 39 persen terhadap total pertumbuhan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan P. Roeslani dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027, di Jakarta (14/08).
“Pertumbuhan ekonomi di triwulan II 2026 sebesar 5,29 persen, dan investasi menyumbang kurang lebih 39 persen, biasanya di atas kisaran 28-29 persen. Investasi bukan sekadar angka realisasi, tetapi kami terus memastikan investasi yang masuk ke Indonesia dapat menjadi bagian dari penguatan fondasi ekonomi nasional,” ujar Menteri Rosan.
Menteri Rosan menambahkan, dari sisi pengeluaran, investasi juga tumbuh 6,87 persen pada Triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin ditopang oleh pembentukan kapasitas produksi, tidak hanya konsumsi masyarakat. Peningkatan peran investasi ini menjadi modal penting untuk mencapai sasaran pertumbuhan ekonomi nasional pada 2027.
“Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada 2027 berada pada kisaran 5,8–6,5 persen. Sejalan dengan sasaran tersebut, realisasi investasi pada 2027 ditargetkan mencapai Rp2.322,0 triliun, meningkat dari target 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun,” papar Rosan.
Target tersebut merupakan bagian dari kebutuhan investasi sebesar Rp13.032 triliun sepanjang 2025–2029, atau sekitar 143 persen dari capaian investasi selama sepuluh tahun terakhir. Investasi tersebut bukan merupakan belanja negara, melainkan penanaman modal oleh badan usaha, baik dalam negeri maupun asing, untuk meningkatkan kapasitas perekonomian nasional.
Hilirisasi Ciptakan Nilai Tambah di Dalam Negeri
Pada Semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun, atau 29,7 persen dari total investasi nasional, dan tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Investasi hilirisasi tersebut didominasi sektor mineral sebesar Rp206,5 triliun, yang mencakup nikel Rp71,0 triliun, bauksit Rp53,8 triliun, tembaga Rp37,4 triliun, besi baja Rp30,2 triliun, serta pasir silika Rp5,9 triliun.
Selain mineral, investasi hilirisasi juga mencakup sektor perkebunan dan kehutanan sebesar Rp54,4 triliun, minyak dan gas bumi Rp35,4 triliun, serta perikanan dan kelautan Rp3,8 triliun. Sebanyak 75,7 persen investasi hilirisasi berada di luar Jawa, terutama di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara.
“Hilirisasi ini dari tahun ke tahun memerankan peranan yang sangat penting dari tahun ke tahun, tepatnya berkontribusi 29,7 persen, ini masih didominasi oleh hilirisasi mineral. Ke depan, kami mendorong hilirisasi di sektor perkebunan, kehutanan, minyak dan gas bumi. Memang jika investasi di sektor perkebunan dan kehutanan itu penyerapan tenaga kerjanya lebih besar, walaupun dari segi nominal investasinya lebih kecil dibanding investasi di sektor mineral,” ujar Rosan.
Ke depan, pemerintah akan terus memperluas hilirisasi ke komoditas bernilai tambah tinggi lainnya, antara lain semikonduktor, bioetanol, produk turunan kelapa, dan rumput laut.(*)








