Djoko Santoso, Jokowi, dan Slamet Riyadi

Friday, 15 May 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Eko Sulistyo*

Judul di atas adalah tiga nama orang yang kebetulan berasal dari Solo.  Djoko Santoso adalah seorang Jenderal (Purn), Mantan Panglima TNI, yang pada Minggu kemarin (10/5/2020) telah dipanggil menghadap Sang Khalik, dalam usia 67 tahun. Jokowi adalah Presiden RI yang pernah memimpim kota Solo saat Djoko Santoso menjadi Panglima TNI (2007-2010). Sementara Slamet Riyadi adalah pahlawan nasional yang gugur dalam operasi penumpasan pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon, 1950.

Bagi masyarakat Solo, nama ketiganya sudah tidak asing lagi. Slamet Riyadi, misalnya, adalah putra daerah yang gagah berani memimpin banyak operasi militer melawan Jepang dan Belanda sepanjang karir militernya.  Patungnya berdiri gagah dengan seragam militer sambil mengacungkan pistol ke langit tepat berada di jantung kota Solo di jalan protokol yang mengambil namanya, Jalan Slamet Riyadi. 

Selain patung dan jalan, juga terdapat Rumah Sakit Tentara (RST) Slamet Riyadi di Jalan Slamet Riyadi.  Sebagai komandan Batalyon XIV dibawah Divisi IV Panembahan Senopati, yang membawahi wilayah Solo dan sekitarnya, tentu banyak tempat yang menorehkan namanya selama berlangsungnya perang kemerdekaan (1947-1949). Namanya melekat sebagai pimpinan Serangan Umum 4 Hari di Solo, dari tanggal 7-10 Agustus 1949.

Untuk mengenang perjuangan Slamet Riyadi, pada 12 November 2007 diresmikanlah Patung Slamet Riyadi oleh Jenderal Djoko Santoso, saat itu Kepada Staf Angkatan Darat (KSAD). Peresmian ini dihadiri para pejabat TNI, Walikota Solo, budayawan dan tokoh masyarakat.  Patung Slamet Riyadi ini memiliki ketinggian 7 meter yang didesain seniman kelas dunia asal Bali, I Nyoman Nuarta.

Pak Jokowi, saat itu Walikota Solo pernah menugaskan saya untuk berkoordisasi dengan Komandan Kodim 0735, Solo, Letkol Inf. Sadputra Adi Nugroho, untuk membantu menyiapkan acara peresmian patung Slamet Riyadi.   Kebetulan saya juga kenal baik dengan adik ragil yang paling disayang oleh Pak Djoko Santoso, yang sering dipanggil “Bakoh”.

See also  Ini Cara Pertamina Dorong Pekerjanya Berinovasi Berbasis Peningkatan Mutu

Saat itu, Pak Jokowi mengatakan bahwa Patung Slamet Riyadi ini bantuan dari KSAD Pak Djoko Santoso untuk warga Solo. Sementara pembangunan konstruksinya diserahkan kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Solo.  Menurut Pak Jokowi,  Pak Djoko Santoso sangat mengagumi perjuangan Slamet Riyadi, yang dalam usia yang masih sangat muda, 23 tahun, telah memimpin operasi TNI dalam tiga matra (Darat, Laut, Udara) untuk pertama kalinya guna menumpas gerombolan RMS.

Sebagai petinggi TNI, dan putra daerah, Solo, wajar jika Jenderal Djoko Santoso begitu mengagumi perjuangan Slamet Riyadi. Belanda saja musuhnya, pernah dibikin terkesima oleh sepak terjang Slamet Riyadi. Saat terjadi genjatan senjata di Solo, Kolonel Van Ohl selaku komandan tentara Belanda yang berpengalaman dalam Perang Dunia I dan II, merasa terkejut ketika mengetahui pimpinan musuhnya yang paling dicari selama ini, seumuran anaknya.

Slamet Riyadi, yang saat itu berpangkat Overste (setingkat Letkol), dikenal sebagai perwira TNI yang pasukannya paling aktif mengadakan gerilya di wilayah Solo dan sekitarnya. Bersama Mayor Achmadi, komandan batalyon Tentara Pelajar (TP), pasukannya sering melakukan serangan mendadak terhadap kedudukan Belanda didalam kota.  Siasat ini dilakukan agar pasukan Belanda tidak menguasi wilayah pinggiran Solo yang menjadi basis dan markas mereka.

Slamet Riyadi lahir di Donokusuman, Solo, 28 Mei 1926, dengan nama Soekamto. Menurut Julius Pour dalam bukunya, Ign. Slamet Rijadi dari Mengusir Kempeitai sampai Menumpas RMS (2008), karena saat kecil sering sakit, orang tuanya mengganti namanya menjadi Slamet Riyadi.  Bapaknya seorang perwira Legiun Mangkunegaran.  Slamet Riyadi lulusan sekolah tinggi pelayaran di zaman Jepang sebagai navigasi.

Saat Belanda menduduki Solo (1948-1949), namanya paling dicari tentara Belanda karena hampir di setiap peristiwa perlawanan di kota Solo selalu berada dalam komandonya. Sewaktu pecah pemberontakan PKI-Madiun, Batalyon Slamet Riyadi sedang berada diluar kota Solo.  Oleh Gubernur Militer II, Kolonel Gatot Subroto, pasukannya diperintahkan untuk melakukan penumpasan ke arah Utara.

See also  Kirim 996 Atlet, Menpora: SEA Games Jadi Ujian Menuju Olimpiade 2028

Karakter yang sangat menonjol dari sosok Slamet Riyadi adalah kecakapan dan keberaniannya. Catatan pertempurannya komplit. Tidak heran setelah penyerahan kedaulatan (1949), Slamet Riyadi mendapat tugas operasi penumpasan pemberontakan Kapten Abdul Aziz di Makassar dan RMS di Ambon, dimana Slamet Riyadi akhirnya gugur tertembus peluru sniper musuh pada 4 November 1950. 

Dalam sejarah militer, Pak Met, begitu anak buah dan teman-temannya memanggilnya, dikenal sebagai pencetus ide pembentukan Pasukan Khusus TNI (Kopassus) bersama Kolonel Alex Kawilarang.  Atas jasa-jasanya, pada 6 November 2007, Slamet Riyadi dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah melalui Keppres No. 066/TK/2007.

Melihat perjuangan Slamet Riyadi yang gugur dalam usia yang begitu muda, tentu figurnya menjadi sosok yang menginspirasi penanaman nilai-nilai sejarah perjuangan bangsa untuk generasi muda.  Dalam konteks inilah pendirian Patung Slamet Riyadi yang digagas oleh KSAD Jenderal Djoko Santoso, di Bundaran Gladag, menjadi relevan untuk mengenang jasa-jasanya.

Meski pada awalnya pendiriannya sempat mendapat penentangan warga, namun setelah dilakukan pendekatan kepada pihak Kraton, budayawan dan tokoh masyarakat Solo, akhirnya patung tersebut dapat diresmikan dengan drama kolosal mengisahkan perjuangan Slamet Riyadi dengan melibatkan 800 budayawan dan masyarakat. Kini patung tersebut menjadi salah satu landmark kota Solo.

Kisah ini saya ceritakan untuk mengenang mantan Panglima TNI semasa Presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang sangat mengagumi Slamet Riyadi.  Sebagai sesama putra Solo, puncak karir militer Jenderal Djoko Santoso juga membanggakan kota Solo. Namun kedua perwira TNI ini kini telah dipanggil menghadap Sang Pencipta.  Sebagai warga Solo saya hanya bisa mengatakan, Selamat Jalan Jenderal.

*) Penulis adalah Sejarawan dan Deputi Kantor Staf Presiden (2015-2019).

Berita Terkait

Tangis Anak Iringi Pemakaman Sang Ayah
Wamen Todotua: KEK Samota Siap Jadi Magnet Investasi Indonesia Timur
Kementerian PU Salurkan Air Bersih Untuk Wilayah Kekeringan di WS Ciliwung Cisadane
Penanganan Darurat di Bendung Karet Welahan Bum Jepara Jaga Pasokan Air Irigasi
Menteri Rosan: Ekosistem Baterai RI Makin Lengkap, Autoclave HPAL Terpasang
Mendes Hadiri Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, Komitmen Wujudkan Desa Bersinar
Komisi VI DPR RI Tinjau Huntara Aceh Tamiang dan Jalan Tol Binjai–Langsa, Dorong Percepatan Pemulihan Pascabencana dan Pembangunan Koridor Strategis
Kemendes PDT Gandeng PT. Mojo Indonesia Raya Pangkas Pengangguran di Desa

Berita Terkait

Sunday, 26 July 2026 - 18:39 WIB

Tangis Anak Iringi Pemakaman Sang Ayah

Saturday, 25 July 2026 - 00:37 WIB

Kementerian PU Salurkan Air Bersih Untuk Wilayah Kekeringan di WS Ciliwung Cisadane

Friday, 24 July 2026 - 09:58 WIB

Penanganan Darurat di Bendung Karet Welahan Bum Jepara Jaga Pasokan Air Irigasi

Friday, 24 July 2026 - 09:47 WIB

Menteri Rosan: Ekosistem Baterai RI Makin Lengkap, Autoclave HPAL Terpasang

Thursday, 23 July 2026 - 17:08 WIB

Mendes Hadiri Peringatan Hari Anti Narkotika Internasional, Komitmen Wujudkan Desa Bersinar

Berita Terbaru

foto ist

News

Tangis Anak Iringi Pemakaman Sang Ayah

Sunday, 26 Jul 2026 - 18:39 WIB

Berita Terbaru

Kementerian PU Kebut Pemulihan Konektivitas di Aceh

Sunday, 26 Jul 2026 - 01:39 WIB