Pengembangan Pertanian Organik di Desa Penyangga Taman Nasional Kelimutu

Friday, 15 May 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Keberadaan tumbuhan gulma hutan (Invasive Alien Species)/invasif asing Kirinyuh (Austroeupatorium inulifolium) sangat mengganggu ekosistem Taman Nasional (TN) Kelimutu, karena dapat mengubah bentang alam disana. Tumbuhan yang sulit diberantas ini telah menyerang lebih dari 300 ha dari 5.000 ha luas kawasan taman nasional.

Salah satu strategi pemberantasan jenis invasif asing ini adalah dengan memanfaatkan tanaman invasif Kirinyuh sebagai bahan baku pengembangan pupuk cair organik yang akan bermanfaat mendukung pertanian masyarakat sekitar kawasan TN Kelimutu, mengingat kawasan TN Kelimutu dikelilingi oleh 24 (dua puluh empat) desa penyangga, dimana sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani yang sangat membutuhkan pupuk untuk meningkatkan hasil pertanian mereka.

“Dengan strategi ini diharapkan dapat meningkatkan frekuensi dan intensitas pemberantasan jenis tanaman invasif ini, karena dilakukan pihak Balai bersama-sama dengan bantuan masyarakat sekitar yang merasakan manfaatnya,” ujar Kepala Balai TN Kelimutu, Persada A. Sitepu (15/5).

Berangkat dari pemikiran itu, Balai TN Kelimutu mengajak beberapa orang ahli pertanian dari Universitas Nusa Cendana untuk mengembangkan pupuk cair organik berbahan baku Kirinyuh. Pengembangan pupuk cair organik ini telah dilakukan sejak tahun 2018 melalui percontohan dengan beberapa petani di sekitar kawasan. Uji coba dan pendampingan penggunaan pupuk organik dilakukan pada Kelompok Tani Rimbawan yang berada di desa Nduaria Kecamatan Kelimutu.

Penggunaan pupuk cair organik di Desa Nduari ini telah dilakukan pada beberapa budidaya tanaman pertanian seperti kol, sawi, cabai, bawang merah dan tomat dengan hasil yang memuaskan. Saat ini, pupuk cair organik yang kemudian diberi nama Nduari ini mulai dimanfaatkan juga oleh beberapa petani di desa lainnya seperti di Desa Wiwipemo, Woloara dan Pemo.

See also  Sah! APBD-P 2021 Jabar Ditetapkan Rp39,42 T

“Pupuk Organik berbahan dasar Kirinyuh luar biasa, sangat cocok pada tanaman sayuran, umbi-umbian, bawang, jahe, dan sebagainya. Keunggulan lain dari Pupuk Organik ini adalah menyebabkan tanaman tetap tumbuh dan hidup walaupun ditanam pada siang hari. Selain itu, pertumbuhannya sangat bagus karena 800 bibit tanaman Sawi milik saya menunjukkan hasil panen yang memuaskan, dimana tanaman yang siap dipanen semuanya terlihat berwarna hijau segar. Selain itu, kacang panjang hasil panen berpola pertanian organik ini memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan dengan kacang panjang yang dipupuk menggunakan pupuk kimia”, ungkap Louyz ketua Kelompok Tani Muriwalo Desa Woloara.

Keberadaan pupuk organik ini sangat membantu para petani di sekitar kawasan TN Kelimutu, dimana dengan harga Rp 50.000,- /1 jerigen 5 liter, masyarakat dapat menghasilkan produk organik sebanyak 1.000 tanaman Sawi Putih pada kebun seluas 10 are dengan harga jual yang lebih tinggi. Misalnya, sayur sawi biasa (dengan pupuk kimia) dihargai Rp 5.000/kg, sedangkan sayur sawi organik seharga Rp 8.000/kg; bawang merah organik dihargai Rp 30.000/kg, sedangkan bawang merah biasa Rp 15.000-20.000/kg.

“Selain dapat mempercepat pemberantasan tanaman invasif Kirinyuh, penggunaan pupuk organik tersebut juga dapat memperbaiki kualitas dan kuantitas bahan organik dalam tanah. Produk pertanian organik yang dihasilkan juga akan lebih sehat bagi tubuh dan yang juga tidak kalah penting produk-produk sehat organik dapat menjadi unsur penunjang daya tarik wisata di TN Kelimutu,” pungkas Kepala Balai Kelimutu, Persada A. Sitepu.(*)

Berita Terkait

Syukuran HUT Ke-22 DPD RI Bersama OKD Sulut
DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah melalui FSAT
Tepat Waktu dan Bermutu, Hutama Karya Tuntaskan Pekerjaan Tanggap Darurat Sumber Daya Air di Aceh
DPD RI Perjuangkan RUU Daerah Kepulauan, Hentikan Ketimpangan Layanan Pendidikan dan Kesehatan
Inventarisasi Masalah di Lampung Demi Perubahan UU Perlindungan Nelayan
Pelajar Wonosobo: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Butuh Integritas.
Dari Lingga, Pelajar Serukan Anak Muda Jangan Jadi Penonton Indonesia Emas
Rakornas Dukcapil 2026, Dukcapil Kepulauan Seribu Sabet Peringkat Tertinggi Capaian IKD

Berita Terkait

Sunday, 11 October 2026 - 10:24 WIB

Syukuran HUT Ke-22 DPD RI Bersama OKD Sulut

Friday, 25 September 2026 - 14:45 WIB

DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah melalui FSAT

Thursday, 24 September 2026 - 16:30 WIB

Tepat Waktu dan Bermutu, Hutama Karya Tuntaskan Pekerjaan Tanggap Darurat Sumber Daya Air di Aceh

Thursday, 10 September 2026 - 16:21 WIB

DPD RI Perjuangkan RUU Daerah Kepulauan, Hentikan Ketimpangan Layanan Pendidikan dan Kesehatan

Monday, 7 September 2026 - 13:56 WIB

Inventarisasi Masalah di Lampung Demi Perubahan UU Perlindungan Nelayan

Berita Terbaru

Suroso Isnandar / foto ist

Energy

Tongkat Estafet Dirut PLN Beralih ke Suroso Isnandar

Wednesday, 14 Oct 2026 - 21:51 WIB

Olahraga

FIVB Gelar Kursus Pelatih Level I dan II di Sentul

Wednesday, 14 Oct 2026 - 17:15 WIB