Mati Berdiri

Tuesday, 9 June 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh : Dahlan Iskan
DAELPOS.com – Putuslah sudah harapan saya yang sempat meroket itu: pembangunan kilang besar –agar kita swasembada bahan bakar minyak.

Roket itu meluncur bukan tanpa alasan. Bacalah keterangan pers Dirut Pertamina usai dengar pendapat di DPR. Awal tahun tadi.

Di forum itu terkesan begitu pastinya: sudah tinggal jalan. Ini akan sangat bersejarah. Setelah 30 tahun Indonesia jalan ditempat: tidak bisa membangun kilang besar.

Sebenarnya tidak semua punya perasaan meroket seperti saya. Banyak yang pesimistis sejak awal. Pun tetap pesimistis meski keterangan Dirut Pertamina begitu menggiurkannya.

Saya memang mencoba terus bersikap optimistis. Termasuk ketika dulu itu: ketika saya tahu begitu sulit membangun kilang besar.

Saya tidak pernah mencela kegagalan membangun kilang besar –begitu sulitnya. Pun sekarang ini –ketika harapan roket itu ternyata menukik.

Tentu saya pernah ikut rapat-rapat tingkat tinggi. Yang membahas rencana membuat sejarah kilang seperti itu.

Saya pun tahu betapa SULIT –dengan huruf besar. Jangan salahkan siapa-siapa.

Maka secara pribadi saya pun mengambil kesimpulan: harus ada terobosan lain. Yang out of the box.

Sudah terlalu banyak energi untuk membicarakan pembuatan sejarah itu. Sudah 30 tahun. Sudah sekian presiden.

Setiap presiden ingin membuat sejarah. Apalagi ini sejarah yang sangat seksi: bisa mengatasi impor BBM –yang jadi sumber fitnah terbesar dan terpanjang dalam sejarah.

Pikiran baru saya itu, waktu itu, mobil listrik. Tidak perlu lagi BBM.

Memang ide terlalu awal: sampai ada yang mempertanyakan soal tingkat emisinya. Betapa lucunya pertanyaan itu.

Atau pertanyaan ini: di mana nanti charging-nya.

Sampai-sampai saya harus menemukan jawaban ini: kita itu bisa membangun ribuan pompa bensin. Yang biayanya bisa Rp 20 miliar/station. Padahal membangun stasiun charging itu hanya Rp 20 juta. Di mana sulitnya.

See also  Dukung DPSP Borobudur, Kementerian PUPR Kembangkan 821 unit Sarhunta Guna Tingkatkan Kualitas Layanan Pariwisata

Tapi, ya sudahlah. Itu sudah lewat. Sudah lama sekali. Sudah 8 tahun. Perkembangan mobil listrik di dunia sudah begitu majunya. Sudah sulit dikejar.

Tapi pilihan solusinya kan tidak berubah: tanpa mobil listrik kita harus membangun kilang besar. Untuk mengolah minyak mentah menjadi BBM –dan turunannya.

Satu kilang besar berkapasitas 300.000 barel/hari memerlukan investasi Rp 70 triliun.

Bagaimana bisa balik modal? Siapa yang mau mengucurkan dana segajah bengkak itu?

Hitungan balik-modalnya lebih panjang dari jalan Daendels – -dari Anyer sampai ke Panarukan.

Pun waktu saya masih ikut rapat-rapat-tingkat-tinggi dulu itu. Yang dicari ya ‘tinggal’ itu: bagaimana bisa balik modal.

Kalau pun ada yang mulai berminat minta fasilitasnya ampun-ampun. Apa saja harus diberikan pada investor. Baik dari pemerintah maupun dari Pertamina.

Kesimpulan saya lagi: fasilitas yang diminta itu sampai begitu tidak masuk akalnya –akal sehat maupun akal nasionalisme.

Padahal kalau pun kita berhasil membangun kilang itu minyak mentahnya toh masih juga harus impor.

Tetap saja mobil listrik.

Sekarang saya harus tetap optimistis – -optimistis level tiga. Saya akan diam saja kalau pun diputuskan harus impor mobil listrik. Apa boleh buat. Akar pun jadi.

Pun kalau harus perusahaan asing yang mendirikan pabrik mobil listrik di Indonesia. Saya akan diam menerima.

Saya sudah siap mental untuk menerima new normal itu –ups, new reality itu.

Move on.

Toh harapan pada dua-kilang-besar-baru itu sudah pupus. Investor nan gagah berani dari Oman saja sudah mundur dari proyek itu di Bontang. Dan investor malaikat dari Saudi –Aramco– juga sudah mundur dari proyek kilang Cilacap.

Padahal tidak ada lagi isyu tanah. Pertamina sudah menyelesaikan pengadaan tanah yang sulit itu. Yang setiap kilang setidaknya 250 hektare itu.

See also  Mulai Diairi November 2021, Bendungan Randugunting Akan Pasok Irigasi Lahan Kering di Blora dan Rembang untuk Wujudkan Ketahanan Pangan

Saya tidak tahu fasilitas apa saja yang sudah disetujui saat mereka ok membangun dua kilang itu. Tapi tidak perlu dibahas. Toh sudah batal.

Ups… Masih ada cadangan optimisme.

Mengapa tidak membangun kilang kecil-kecil saja? Misalnya kelas 10.000 barel/hari? Sekaligus banyak? Di beberapa lokasi? Terutama lokasi di dekat sumur minyak-mentah? Sekaligus memperbaiki rasio biaya logistik?

Tentu kita ingat lagi kilang kecil yang mati berdiri itu.

Sudahlah. Move on.

Para pengusaha lokal pasti bisa melakukannya lagi. Mereka pasti mampu. Seperti terbukti di Tuban –dekat lapangan minyak Cepu di Banyuurip itu. Yang milik pengusaha nasional dari ITB itu. Yang kemudian mati di lumbung itu.

Kilang itu milik TWU (Disway:Lumbung Itu Tidak Untuk Ayam). Yang tidak bisa lagi mendapat minyak-mentah –dari sumur minyak raksasa milik Exxon dan Pertamina itu.

Sampai sekarang kilang itu masih berdiri tegak. Mati berdiri.

Mungkin perlu dicoba terobosan itu lagi. Dengan aturan baru. Misalnya, minyak-mentah bagian pemerintah (dari bagi hasil) didedikasikan untuk kilang kecil. Asal dibangun di dekat sumur minyak. Tidak perlu lagi angkut-minyak-mentah-jarak-jauh seperti selama ini.

Tentu masih banyak masalah teknik. Yang tidak mungkin saya tulis di DI’s Way –pembaca bisa teriak ‘saya tidak bisa bernafas’. Saking teknisnya.

Tentu banyak juga alasan untuk tidak menyetujui terobosan itu.

Hanya diperlukan satu alasan saja untuk setuju. Terlalu banyak alasan untuk tidak setuju.(Dahlan Iskan)

Berita Terkait

Menteri Dody Siapkan 5 Strategi Infrastruktur Tahun 2028, Dukung Asta Cita Presiden Prabowo
PLN EPI dan FLEXIH Inc. Jajaki Pengembangan Hidrogen Rendah Karbon Berbasis Biomassa
Mendes Yandri Sebut Asta Cita Keenam Jadikan Desa Sebagai Subjek Utama Pembangunan
Pelajari Pertanian Berbasis AI di Chongqing, Iftitah Dorong Investasi Tiongkok ke Papua dan Sulawesi
Ahmad Syauqi Kawal Revitalisasi SMK Muhammadiyah Prambanan
SPBU Bakal Hadir di Tidung, Karya, dan Kelapa
Sidak SPPG Cadek, Sudaryono Tekankan Kepatuhan SOP dan Akurasi Data
Bertemu Mahasiswa Indonesia di Beijing, Iftitah: Ilmu Pengetahuan Harus Jadi Solusi Nyata bagi Rakyat

Berita Terkait

Wednesday, 21 October 2026 - 00:03 WIB

Menteri Dody Siapkan 5 Strategi Infrastruktur Tahun 2028, Dukung Asta Cita Presiden Prabowo

Wednesday, 21 October 2026 - 00:01 WIB

PLN EPI dan FLEXIH Inc. Jajaki Pengembangan Hidrogen Rendah Karbon Berbasis Biomassa

Tuesday, 20 October 2026 - 13:20 WIB

Mendes Yandri Sebut Asta Cita Keenam Jadikan Desa Sebagai Subjek Utama Pembangunan

Sunday, 18 October 2026 - 17:29 WIB

Pelajari Pertanian Berbasis AI di Chongqing, Iftitah Dorong Investasi Tiongkok ke Papua dan Sulawesi

Saturday, 17 October 2026 - 18:22 WIB

Ahmad Syauqi Kawal Revitalisasi SMK Muhammadiyah Prambanan

Berita Terbaru

Ekonomi - Bisnis

​Cermati Dinamika Pasar, Jasa Marga Buka Ruang Potensi Opsi Buyback Saham

Wednesday, 21 Oct 2026 - 22:19 WIB

Ekonomi - Bisnis

Hutama Karya Jaga Kinerja Keuangan Tetap Tumbuh hingga Triwulan III 2026

Wednesday, 21 Oct 2026 - 21:05 WIB

Ekonomi - Bisnis

Telkom Hadirkan Inovasi Pembelajaran Numerasi untuk 100 Sekolah di Wilayah 3T

Wednesday, 21 Oct 2026 - 20:58 WIB

Berita Utama

BNI Jalankan Aksi Korporasi Terukur, Fundamental Bisnis Tetap Solid

Wednesday, 21 Oct 2026 - 20:52 WIB