Catatan Ketua MPR: Kewajiban Negara Cegah-Tangkal Krisis

Monday, 30 November 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bambang Soesatyo Ketua MPR RI / foto Istimewa

Bambang Soesatyo Ketua MPR RI / foto Istimewa

DAELPOS.com – Bambang Soesatyo Ketua MPR RI SALAH dan gagal mengelola krisis kesehatan serta resesi ekonomi sekarang ini berpotensi menyebabkan krisis multidimensi. Ketika muncul potensi yang menjerumuskan negara-bangsa masuk ke jurang krisis seperti itu, semua alat dan kekuatan negara wajib tampil menggelar aksi cegah-tangkal, at all cost.
 
Persepsi seperti inilah yang idealnya menjadi pijakan semua orang dalam memahami sikap tegas  Presiden RI tentang urgensi ketertiban umum di masa pandemi, yang kemudian diaktualisasikan oleh Panglima TNI dan Kapolri berserta seluruh jajarannya pada sejumlah wilayah di tanah air, akhir-akhir ini. Ketika TNI dan Polri harus menunjukan sikap tegas negara menjaga ketertiban umum di tengah pandemi, ketegasan negara itu bukannya mengada-ada atau tanpa alasan.
 
Faktanya adalah negara-bangsa sedang menghadapi ancaman krisis. Benih-benih krisis itu adalah pandemi Covid-19 yang berkepanjangan, plus kenyataan bahwa perekonomian nasional yang sedang  berselimut resesi. Jika salah dan gagal mengelola kedua masalah ini, negara-bangsa berpotensi terjerumus ke dalam krisis multidimensi. Semua elemen masyarakat tentu saja tak ingin Indonesia masuk ke jurang krisis seperti itu.
 
Karena alasan pandemi Covid-19, prasyarat untuk menjauh dari zona krisis multidimensi itu adalah kepatuhan semua orang, tanpa kecuali, pada protokol kesehatan (Prokes).
  
Dampak buruk yang multidimensional dari krisis kesehatan sudah dirasakan masyarakat dari semua kelompok usia, termasuk anak dan remaja. Ketika pandemi mengharuskan diterapkannya pembatasan sosial, eksesnya tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa yang kehilangan pekerjaan atau berkurangnya penghasilan keluarga. Anak usia sekolah dan remaja pun sudah merasakan ketidaknyamanan akibat pembatasan sosial yang berkepanjangan.
 
Berbulan-bulan hanya belajar di rumah menjadi tidak efektif karena anak-anak mulai bosan. Sebagian besar waktu akhirnya dimanfaatkan anak untuk bermain. Kepatuhan anak untuk belajar sulit dipantau dan dikendalikan manakala orang tua harus bekerja. Masalahnya pun menjadi makin rumit karena sebagian orang tua tidak memiliki pemahaman yang cukup saat mendampingi anak belajar di rumah.  
 
Memulihkan kembali kegiatan belajar-mengajar di sekolah tampak belum memungkinkan karena risiko penularan Covid-19 terbilang masih tinggi. Menanggapi aspirasi sebagian orang tua yang menginginkan pemulihan kegiatan belajar-mengajar di sekolah, Presiden Joko Widodo pun mengingatkan masyarakat untuk lebih mengedepankan kehati-hatian.
 
Kecemasan para orang tua dan orang dewasa pada umumnya pun kini sudah tereskalasi. Tekanan yang dirasakan bukan lagi hanya rasa takut tertular Covid-19, tetapi juga mulai cemas pada dampak resesi ekonomi terhadap masing-masing individu maupun keluarga. Mereka yang masih bekerja mulai takut pada kemungkinan rasionalisasi atau pengurangan karyawan maupun pengurangan jam kerja. Bahkan tidak sedikit yang takut menghadapi kemungkinan perusahaan menempuh kebijakan pemotongan gaji dengan alasan pandemi dan resesi ekonomi. 
 
Apa yang terjadi dan dirasakan oleh kelompok usia anak dan remaja itu, serta gambaran kecemasan para orang tua, adalah fakta yang mengemuka di ruang publik akhir-akhir ini. Dari sebelumnya hanya takut tertular virus corona, kini masyarakat mulai cemas ketika menghitung dampak resesi ekonomi. Apa yang dihadapi dan dicemaskan itu merupakan persoalan riel yang hari-hari ini menyelimuti kehidupan semua orang. Suasana kebatinan masyarakat inilah yang idealnya dipahami oleh semua kalangan, termasuk pemuka masyarakat.
 
Karena potensi ancamannya adalah krisis multidimensi, Presiden bersama MPR, DPR, Panglima TNI dan Kapolri sudah menyatakan negara-bangsa tidak boleh melakukan kesalahan, pun tidak boleh gagal, dalam merepons pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi. Untuk menghindari kesalahan dan kegagalan itu, negara harus menunjukan dan mengaktualisasikan sikap tegas terukur.
 
Banyak figur publik yang perilakunya menjadi panutan masyarakat. Demi kemaslahatan masyarakat, figur-figur yang menjadi panutan masyarakat itu hendaknya juga menunjukan sikap dan semangat yang sama; bahwa negara-bangsa tidak boleh melakukan kesalahan dan tidak boleh gagal dalam merespons Pandemi Covid-19 dan resesi ekonomi sekarang ini. 
 
Semua elemen masyarakat, bersama pemerintah, MPR dan DPR tidak boleh gagal fokus. Hari-hari ini, Indonesia bersama banyak negara lainnya sedang dalam periode krisis kesehatan dan resesi ekonomi. Semua kekuatan di dunia berupaya sungguh-sungguh agar krisis kesehatan dan resesi ekonomi sekarang ini tidak menyebabkan krisis multidimensi. Karena itu, penanganan krisis kesehatan harus mencatat progres dari hari ke hari agar terbuka ruang bagi upaya pemulihan ekonomi. Sebaliknya, jika krisis kesehatan terus tereskalasi sebagaimana tercermin dari lonjakan kasus Covid-19 belakangan ini, upaya pemulihan menjadi sangat sulit. Situasi seperti itu menempatkan perekonomian nasional dalam ancaman krisis
 
Karena itu, para figur publik atau influencer dan semua elemen masyarakat hendaknya peduli dan partisipatif dalam penanggulangan krisis kesehatan dan upaya pemulihan ekonomi dari resesi. Kepedulian pada dua masalah ini sama artinya dengan peduli dan prihatin pada lonjakan jumlah warga miskin dan lonjakan jumlah pengangguran akibat Pandemi Covid-19. Dan, tentu saja peduli anak-anak dan remaja yang juga merasakan ketidaknyamanan dengan suasana kehidupan terkini yang tidak dinamis. Dampak buruk pembatasan sosial terhadap anak dan remaja tak boleh luput dari perhatian.
 
Dengan menggemakan semangat seperti itu, semua elemen masyarakat akan terdorong untuk fokus pada upaya menjauh dari zona krisis, dan lebih mengutamakan kegiatan-kegiatan yang produktif.

See also  HPN 2024, Menteri Kabinet Indonesia Maju Sampaikan Apresiasi kepada Pers Indonesia

Berita Terkait

Gunakan Pendekatan Octahelix, Mendes Libatkan UMMI dalam Pembangunan Desa
Revitalisasi Madrasah Perkuat Infrastruktur Pendidikan Keagamaan
Kemendes Gandeng KSP Tuntaskan Desa Tertinggal di 30 Kabupaten
PT Hutama Karya (Persero) Perkuat Transformasi ESG dan Budaya Kerja Berkelanjutan
Jalan Lenteng Agung Raya Kembali Dibuka, Kendaraan Sudah Bisa Melintas
Hutama Karya Dukung Lahirnya Inovator Konstruksi Masa Depan di International BIM Innovation Contest Undip 2026
Eks Hotel Sultan Dieksekusi 18 Juni, Negara Ambil Alih Blok 15 GBK
Transformasi RSUD Muara Dua, Hutama Karya Perkuat Infrastruktur Kesehatan Berbasis Teknologi dan Human-Centered Design

Berita Terkait

Saturday, 13 June 2026 - 12:14 WIB

Gunakan Pendekatan Octahelix, Mendes Libatkan UMMI dalam Pembangunan Desa

Thursday, 11 June 2026 - 08:08 WIB

Revitalisasi Madrasah Perkuat Infrastruktur Pendidikan Keagamaan

Monday, 8 June 2026 - 16:43 WIB

Kemendes Gandeng KSP Tuntaskan Desa Tertinggal di 30 Kabupaten

Wednesday, 3 June 2026 - 22:01 WIB

PT Hutama Karya (Persero) Perkuat Transformasi ESG dan Budaya Kerja Berkelanjutan

Tuesday, 2 June 2026 - 16:39 WIB

Jalan Lenteng Agung Raya Kembali Dibuka, Kendaraan Sudah Bisa Melintas

Berita Terbaru

Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir sebagai pembicara dalam forum Climate Policy Initiative (CPI) bertajuk Peluang dan Strategi Pembiayaan Kegiatan Pengurangan Emisi metana untuk Sektor Industri di Indonesia di Pullman Hotel Thamrin Jakarta pada Kamis (11/6).

Energy

CBG Perkuat Transisi Energi dan Kemandirian Energi Nasional

Monday, 15 Jun 2026 - 00:07 WIB