Bravo Anies, What’s Next Jokowi?

Friday, 20 March 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto Istimewa

Foto Istimewa

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan

KITA harus mengacungkan jempol pada Anies, karena langkahnya diapresiasi pemerintah pusat. Sebagaimana dikatakan Achmad Yurianto, jubir pemerintah urusan Covid-19, untuk urusan penanganan wabah ini di Jakarta, mereka sudah sepenuhnya menyerahkan pada Anies.

Langkah Anies secara sistematis dan terukur yang mengarah nyaris lockdown, terakhir dengan keberhasilan menunda ibadah selama dua minggu, yang didukung tokoh-tokoh agama, serta langkah meminta warga Jakarta tinggal di rumah dan tidak keluar Jakarta selama 3 minggu, sesuai panduan internasional menangani pandemik ini.

Sebelumnya langkah-langkah Anies adalah mengumkan sebaran wilayah penderita Covid-19, membuat call center Covid-19, mengalokasi budget APBD untuk itu, memperbanyak rumah sakit dan tenaga medis melayani orang berpotensi suspect coronavirus, mengumumkan potensi transportasi KRL Jabotabek sumber penyebaran, meliburkan sekolah, menunda ujian akhir sekolah, menyiapkan pusat-pusat karantina di kelurahan, mengerahkan BUMD menjual masker yang sebelumnya hilang di pasaran, dan membuat “serangan kejutan” mengurangi jumlah operasi busway dan MRT.

Model penanganan wabah yang dilakukan Anies Baswedan ini, yang telah diapresiasi pemerintah pusat, ditambah rencana pemerintah pusat meningkatkan kapasitas peralatan medis, termasuk alat rapid test, menunjukkan langkah penanganan wabah ini ke depan sudah bisa mempunyai sistem secara nasional.

Artinya negara hadir. Jika negara sudah hadir, namun masyarakat masih kurang disiplin, tingkat berikutnya, seperti di Prancis adalah memberlakukan lockdown.

Langkah Berikutnya Apa?

Dalam konteks penangan wabah an sich, jika model Jakarta dapat di adopsi menjadi model nasional, mengingat pula Jakarta adalah epicentrum pandemic ini, maka bahu membahu penanganan wabah ini harus dijadikan titik balik bersama, bahwa kita siap menghadapi wabah ini. Tentu dengan resiko yang besar, mengingat masih adanya unsur elit rezim Jokowi yang belum bersinergi.

See also  Tambah Jumlah SPKLU, PLN Antisipasi Lonjakan Pemudik Kendaraan Listrik saat Idulfitri 1446 H

Ulasan saya selanjutnya bergeser pada dampak ekonomi yang dihadapi masyarakat. Kenapa, karena dampak yang terjadi juga bersifat langsung dan mengerikan.

Pada hari ini dan kemarin, kita melihat persoalan baru di masyarakat. Komunitas pengemudi online Jawa Barat, Posko Jabar, barusan mem briefing saya bahwa penutupan berbagai tempat wisata, hiburan, dan berbagai aktifitas di Bandung dan sekitarnya, telah membuat penghasilan anggota mereka 2.900 orang terhempas. Sebanyak 2.800 orang diperkirakan akan gagal membayar kewajiban cicilan pada leasing bulan depan.

Kemarin lalu, ketua Induk Koperasi Pasar, memberitahu saya bahwa penyediaan stok bahan makanan penting dan sembako, akan terkendala dengan kemampuan Inkoppas menebus pembelian barang. Menurutnya, jika pemerintah berusaha mengendalikan pembelian barang, namun terjadi “deadlock” di sisi supply, maka situasi kacau di pasar pasar tradisonal akan terjadi.

Situasi ekonomi lainnya yang kita sudah lihat melalui media, terbentang berbagai potensi kesulitan antara lain, kenaikan dolar AS sekitar 15 hingga 17 persen dalam waktu mendadak, akan menyulitkan penyediaan bahan baku impor, seperti gandum, bahan farmasi dan tekstil.

Akibatnya harga-harga pangan, sandang dan obat-obatan akan melambung. Urusan dolar AS dan hancurnya harga-harga saham membuat kemampuan perusahan-perusahaan juga semakin sulit, baik menggunungnya hutang dan menurunnya revenue.

Ini pada akhirnya akan membebani kemampuan membayar upah buruh, THR, dan kesejahteran lainnya. Atau lebih buruk lagi akan ada gelombang PHK beberapa bulan ke depan.

ILO (International Labor Organization) telah memperkirakan 25 juta orang di dunia akan kehilangan pekerjaan.

Berbagai negara telah menyiapkan uang untuk mengindari kehancuran ekonominya. Stimulus paket ini bahkan sudah di jalankan dibeberapa negara. Prancis menyediakan stimulus paket ekonomi sebesar 45 miliar dolar AS (Rp 720 triliun), sedang Amerika kemarin, untuk fase dua, sekarang, disetujui 104 miliar dolar AS (Rp 1.664 triliun).

See also  PPKM (lagi), untuk apa?

Uang ini digunakan membayar orang-orang pekerja yang tidak bekerja karena sakit atau lainnya selama musim wabah. Di Hongkong, sejak Februri lalu telah diberikan uang sebesar 1.200 dolar AS (Rp 19.200.000) sebagai subsidi bagi semua orang dewasa di sana.

Indonesia, sebagai bangsa yang suka terlambat, masih menghitung-hitung berapa uang yang bisa dialokasikan untuk dampak ekonomi wabah ini. Bahkan dampak wabah itu sendiri dari sisi non ekonomi, seperti anggaran untuk “rapid test”, baru ada kemarin, dan Prabowo baru mau terbang ke Shanghai membeli alat itu.

Sri Mulyani memperkirakan dapat merelokasi anggaran APBN untuk daerah sebesar Rp 50 triliun. Jika anggaran ini meliputi juga untuk soal wabah sendiri, maka kemungkinan anggaran paket stimulus ekonomi hanya setengahnya.

Saat ini Sri Mulyani baru mengeluarkan Rp 8,5 triliun sebagai langkah stimulus fase satu. Stimulus fase dua yang sedang berlangsung dilakukan dengan insentif pajak.

Dalam diskusi saya per WA tadi dengan anggota Banggar DPR RI, Mulyadi, sebaiknya, selain pandangan dia untuk membelokkan semua atau sebanyak-banyaknya anggaran infrastruktur ke urusan wabah dan dampaknya, serta usulan saya agar anggaran pilkada 2020 diambil juga (pesta pilkada ditunda), maka kita dapat menyediakan uang lebih dari seratus triliun.

Seratus triliun itu setara dengan pengeluaran Mesir, misalnya, yakni sebesar 6,4 miliar dolar AS. Sesama negara yang tidak terlalu maju ekonominya. Itupun bisa Jika Jokowi ikhlas tidak memikirkan lagi ambisi ambisi infrastrukturnya.

Sisi fiskal ini dengan skala seratusan triliun, bisa membantu langkah2 makro ekonomi yang dijalankan Bank Indonesia.

Dengan uang itu pemerintah baik di pusat maupun di daerah sudah dapat meramalkan dampak ekonomi atas setengah lockdown saat ini. Selain itu memikirkan keperluan biaya untuk mempertahankan daya beli, subsidi pangan dan keperluan rakyat lainnya.

See also  Heru Harapkan Dewan Pengupah Bisa Jembatani Pengusaha dan Pekerja di Jakarta

Penutup

Anies telah membangun model penanganan wabah coronavirus yang diapresiasi pemerintah pusat. Meski terlambat, tidak ada yang terlalu terlambat. Lalu bagaimana nasib ekonomi kita?

Meski tetap terlambat pula dalam mengantisipasi dampak ekonomi ke depan, niat Jokowi dari sisi fiskal sudah terlihat. Namun, niat ini harus di proses dalam sensitifitas mendesak. Kita tidak perlu berpikir mendesak untuk Omnibus Law, misalnya, namun lambat dalam menentukan jumlah stimulus fiskal. Kita juga harus mengumumkan moratorium Ibukota baru dan bahkan kemungkinan menunda pilkada 2020.

DPR juga harus berperan aktif untuk menghitung. Di USA misalnya, Amerika sudah masuk pada pengajuan fase ketiga dalam stimulus ini. Baik Demokrat maupun Republic (“seperti Kadrun dan Kodok”) bekerjasama secara cepat.

Rakyat setelah menuju tenang isu wabah akan masuk pada kegelisahan isu ekonomi. Isu ekonomi tidak main-main. Hantaman keras pada pengemudi online yang akan sulit bayar cicilan ke leasing, hantaman THR buruh sebulan lagi, dll di depan mata. Semua adalah pekerjaan besar. Apakah bulan depan pemerintah mampu menganggarkan jaminan kredit bagi ojek online agar motornya tidak disita leasing?

Semoga pemerintah mampu memberi ketenangan ekonomi bagai rakyat kecil. Tentu dengan uang stimulus ekonomi di angka seratusan triliun. (*)

Berita Terkait

Roadshow SATU Indonesia Awards 2026 Sambangi Makassar, Astra Cari Penggerak Perubahan dari Indonesia Timur
Optimalkan Pengawasan ODOL, Jasa Marga Pasang Rangka Gantry RFID di Ruas Tol JORR
Bukan Lagi Penonton, Saatnya Generasi Muda Ambil Peran Lewat Tim Ekspedisi Patriot
Sepuluh Asosiasi Desa Dukung Program MBG dan KDMP
Akses Lembah Anai Telah Dibuka 24 Jam, Progres Penanganan Capai 73% 
Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan, LaNyalla Serukan Rekonstruksi Total Arsitektur Hukum dan Ekonomi Nasional
Gorontalo Apresiasi BULOG Percepat Penyaluran Bantuan Pangan
Kementerian PU Targetkan 10 Ruas Tol Baru Siap Difungsionalkan Jelang Nataru

Berita Terkait

Thursday, 25 June 2026 - 13:43 WIB

Roadshow SATU Indonesia Awards 2026 Sambangi Makassar, Astra Cari Penggerak Perubahan dari Indonesia Timur

Thursday, 25 June 2026 - 13:12 WIB

Optimalkan Pengawasan ODOL, Jasa Marga Pasang Rangka Gantry RFID di Ruas Tol JORR

Wednesday, 24 June 2026 - 18:00 WIB

Bukan Lagi Penonton, Saatnya Generasi Muda Ambil Peran Lewat Tim Ekspedisi Patriot

Tuesday, 23 June 2026 - 18:59 WIB

Sepuluh Asosiasi Desa Dukung Program MBG dan KDMP

Monday, 22 June 2026 - 18:45 WIB

Akses Lembah Anai Telah Dibuka 24 Jam, Progres Penanganan Capai 73% 

Berita Terbaru

Nasional

Harga Pupuk Turun, Transmigrasi Siap Dukung Swasembada Pangan

Sunday, 28 Jun 2026 - 00:51 WIB

Olahraga

Permalukan India, Timnas Voli Indonesia ke Final AVC Cup 2026

Sunday, 28 Jun 2026 - 00:09 WIB

Nasional

PAPDESI Deklarasi Dukung Penuh MBG dan KDMP

Sunday, 28 Jun 2026 - 00:02 WIB

foto ist

Energy

Harga Minyak Turun, Pertamina Siap Turunkan BBM Bertahap

Saturday, 27 Jun 2026 - 12:14 WIB