daelpos.com – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) yang menyentuh Rp18.000 mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha warung tegal (warteg). Kenaikan harga bahan pokok membuat pelanggan lebih hemat saat membeli makanan, sehingga omzet pedagang ikut tertekan.
Salah satu pemilik warteg, Zidan, mengaku konsumennya kini lebih selektif dalam memilih menu. Jika sebelumnya pelanggan biasa membeli dua jenis lauk, kini banyak yang hanya memilih satu lauk dengan harga paling murah.
“Pelanggan yang dulu biasa membeli dua menu seperti ayam dan telur dengan sayur, sekarang hanya pesan satu menu, paling sering nasi dan telur tanpa sayur,” ujar Zidan.
Menurut dia, jumlah pelanggan di warungnya juga mengalami penurunan cukup tajam hingga 50 persen. Padahal, lokasi warteg berada di kawasan perkantoran yang biasanya ramai pembeli.
“Biasanya saat ramai bisa lebih dari 150 orang sehari, sekarang paling 70 sampai 75 orang saja,” katanya.
Zidan menilai usaha warteg sangat sensitif terhadap kenaikan harga bahan baku. Pelemahan rupiah membuat harga barang impor ikut naik dan berdampak pada rantai pasok hingga pasar domestik.
Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa menilai penurunan omzet di sejumlah warteg belum bisa dijadikan indikator melemahnya daya beli masyarakat secara umum.
“Itu mungkin terjadi, tetapi sampelnya berapa warteg? Saya bisa saja menemukan lima warteg yang omzetnya turun. Namun, bisa juga karena kalah bersaing, sementara warteg lain lebih bagus sehingga konsumennya berpindah ke sana,” ujar Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, dikutip Sabtu (6/6/2026).
Di sisi lain, Mukroni menyebut pelanggan sebenarnya masih datang ke warteg, tetapi pengeluaran mereka kini lebih kecil dibanding sebelumnya. Konsumen mulai mengurangi pembelian lauk mahal dan memilih menu yang lebih ekonomis.








