daelpos.com – Ahad lalu (23/8), Israel merudal Al-Zawayda di Gaza tengah. Salah satu yang meninggal adalah Muhammad Abdel Salam Taha, baru berusia 4 tahun. Tujuh orang lain luka-luka. Tiga hari setelahnya, di sebuah Taman Kanak-kanak (TK) di Bandung, 28 siswa duduk mendengar para kakak berkisah tentang negeri yang dijajah, banyak anak seperti Abdel Salam, banyak pula yang masih kesakitan karena penjahatnya terus menyerang.
“Bayangkan kalau ada pasukan yang menyerang adik-adik agar pergi dari Bandung, soalnya Bandung mau dipakai sama mereka. Nanti mereka hapus Bandung dari Peta dan ganti nama lain. Mau tidak?” Begitu tanya Fidela kala membuka acara. Sontak, murid ini berteriak heboh, “Gak mau.”
SMART 171 menggelar Smart171 Goes to School di Anak Langit Preschool, hari ini (26/8). Acara dipandu Kak Faiha dan Kak Fidela. Mereka membuka dengan film bagaimana Palestina perlahan menghilang dari peta dunia. Lalu datanglah puzzle dari kardus. Kakak-kakak bilang, sengaja pakai kardus sebagaimana teman-teman di Gaza bermain dengan bahan seadanya. Dari puzzle tersebut anak anak belajar tentang kunci sebagai simbol kepulangan warga Palestina, Masjidil Aqsa, dan kondisi anak-anak Palestina.
Sesi berikutnya mereka minta siswa TK menunjuk produk mana yang mendukung genosida. Beberapa anak ada yang bilang produk itu masih ada di rumah mereka.
Arsya, salah satu peserta, bilang senang dengan berbagai aktivitas hari ini. “Kegiatannya seru, bikin makin sayang sama temen-temen di Palestina.”
Faiha, ketua pelaksana, melihat respons anak-anak itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar keberhasilan program. “Pembebasan itu dimulai dari hal paling indah dan tulus, yaitu cinta. Maka penting menumbuhkan rasa cinta pada Palestina di hati anak-anak yang masih sangat bersih.”
Muhammad Abdel Salam Taha, empat tahun, tidak sempat masuk sekolah. Dua puluh delapan anak di Bandung hari ini, belajar atas namanya juga.








