daelpos.com – VLADIVOSTOK, RUSIA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan ekonomi Indonesia harus menghasilkan manfaat yang luas bagi masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi investasi yang mampu menciptakan nilai tambah, lapangan kerja, dan penguasaan teknologi. Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat menghadiri 11th Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, Kamis (3/9).
Dalam pidatonya, Presiden menekankan prinsip “the greatest good for the greatest many” sebagai arah pembangunan Indonesia. Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi dari sejauh mana pertumbuhan tersebut memberikan manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
“Development cannot only benefit the few. Development must be measured at the dinner table of ordinary families,” ujar Presiden Prabowo.
Presiden menjelaskan, prinsip tersebut menjadi salah satu landasan pemerintah dalam mempercepat hilirisasi industri. Indonesia, menurutnya, ingin memastikan sumber daya alam yang dimiliki tidak hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah di dalam negeri sehingga menghasilkan industri bernilai tambah, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta menciptakan lapangan pekerjaan yang berkualitas.
“Ini sebabnya kami mempercepat hilirisasi industri, sehingga sumber daya alam kita dapat menciptakan industri, keterampilan, dan pekerjaan yang baik di dalam negeri,” kata Presiden.
Lebih lanjut, Presiden menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat bukan sekadar mengejar angka pertumbuhan. Pertumbuhan ekonomi diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengangkat jutaan orang dari kemiskinan menuju kehidupan yang lebih bermartabat.
Berdasarkan data dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, investasi Rusia di Indonesia sepanjang 2021 – Semester I 2026 mencapai USD 726 juta. Dengan tiga sektor tertinggi yaitu 1) perumahan, kawasan industri, dan bangunan gedung, 2) jasa lainnya, 3) hotel dan restoran. Sedangkan untuk tujuan investasi per lokasi, di antaranya 1) Bali, 2) Nusa Tenggara Barat, dan 3) Jakarta.
Sejalan dengan agenda tersebut, Presiden juga menyampaikan keterbukaan Indonesia terhadap investasi dan penguasaan teknologi di sektor-sektor strategis masa depan. Indonesia, kata Presiden, membutuhkan pengetahuan dan investasi dalam bidang energi terbarukan, smart grid, serta energi nuklir, termasuk teknologi modular dan teknologi berskala penuh.
“Kami mencari pengetahuan dan investasi dalam energi terbarukan, smart grid, dan tenaga nuklir, termasuk teknologi modular dan teknologi berskala penuh,” ujar Presiden.
Pernyataan Presiden tersebut menegaskan bahwa strategi investasi Indonesia ke depan tidak hanya diarahkan pada peningkatan nilai investasi, tetapi juga pada kualitas investasi. Investasi diharapkan mampu memperkuat struktur industri nasional, mempercepat transformasi ekonomi, menciptakan lapangan kerja berkualitas, serta membawa masuk teknologi dan pengetahuan yang dibutuhkan Indonesia untuk membangun industri masa depan.
Kehadiran Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan utama pada EEF ke-11 sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat hubungan ekonomi Indonesia dengan Rusia dan mitra internasional lainnya. Forum yang berlangsung di Vladivostok tersebut menjadi salah satu platform penting untuk memperluas kerja sama ekonomi, perdagangan, investasi, energi, teknologi, dan sektor strategis lainnya.
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani turut mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan ke Rusia sebagai bagian dari upaya pemerintah memperkuat diplomasi ekonomi dan membuka peluang investasi strategis yang mendukung agenda pembangunan nasional.
Melalui arah kebijakan tersebut, Indonesia terus mendorong terciptanya ekosistem investasi yang tidak hanya berorientasi pada besarnya modal yang masuk, tetapi juga pada kontribusinya terhadap industrialisasi, penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.(*)








