Belajar dari Chongqing, Iftitah: Desa Harus Jadi Tempat Mencari Penghidupan, Bukan Sekadar Tempat Ditinggalkan

Sunday, 18 October 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

daelpos.com – Desa tidak harus kehilangan generasi mudanya hanya karena lapangan kerja dan kesempatan ekonomi lebih banyak tersedia di kota. Ketika investasi, kegiatan usaha, dan pekerjaan dapat berkembang di perdesaan, masyarakat memiliki alasan untuk tetap tinggal, bahkan kembali membangun kampung halamannya.

Hal tersebut menjadi salah satu pembelajaran Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara saat mengunjungi Desa Zhenwugong, wilayah Xipeng, Distrik Jiulongpo, Chongqing, Tiongkok, Rabu (14/10/2026).

Desa Zhenwugong merupakan salah satu contoh revitalisasi perdesaan di Tiongkok melalui pengembangan ekonomi yang mengintegrasikan pertanian, pariwisata, penataan lahan, dan pemberdayaan masyarakat.

“Seiring dengan masifnya industrialisasi, banyak anak muda yang pergi ke kota. Namun, ketika industri itu dibawa ke desa, anak-anak muda ini kembali ke desa dan difasilitasi,” ujar Iftitah.

Menurutnya, pengalaman tersebut memberikan pelajaran penting bagi Indonesia dalam mengembangkan kawasan transmigrasi menjadi pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru. Pembangunan kawasan tidak cukup hanya menyediakan permukiman dan infrastruktur. Yang lebih penting adalah menciptakan kegiatan ekonomi yang memberikan pekerjaan, meningkatkan pendapatan, dan membuka masa depan yang lebih baik bagi masyarakat.

Lahan Produktif, Ekonomi Desa Tumbuh

Salah satu hal yang menarik perhatian Iftitah adalah bagaimana Desa Zhenwugong mengembangkan potensi ekonomi melalui perencanaan kawasan dan pemanfaatan lahan secara terintegrasi. Lahan yang sebelumnya dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian tradisional dikembangkan menjadi berbagai kegiatan produktif sesuai karakteristik wilayahnya.

Sebagian digunakan untuk pertanian hortikultura dan perkebunan, sementara bagian lainnya mendukung pariwisata, penginapan, fasilitas pertemuan, serta berbagai usaha jasa. Hasilnya, desa tidak lagi hanya mengandalkan penjualan hasil pertanian. Kegiatan ekonomi berkembang melalui perpaduan produksi, pengolahan, perdagangan, pariwisata, dan pelayanan.

Berdasarkan informasi Pemerintah Distrik Jiulongpo pada 2026, Desa Zhenwugong telah menerima sekitar 300.000 kunjungan wisata per tahun, dengan nilai produksi ekonomi tahunan lebih dari 100 juta yuan. Pendapatan bersih per kapita warga juga dilaporkan melampaui 30.000 yuan per tahun.

See also  Deal, Bamsoet Dapat Jatah Posisi Waketum Golkar

Bagi Iftitah, capaian tersebut menunjukkan bagaimana pengembangan potensi lokal dapat menciptakan kegiatan ekonomi yang lebih beragam dan meningkatkan nilai manfaat suatu kawasan. Menariknya, masyarakat tidak hanya berpeluang memperoleh pendapatan melalui kerja sama pemanfaatan lahan, tetapi juga melalui pekerjaan dan kegiatan usaha yang tumbuh di atasnya.

“Masyarakat yang menyewakan lahannya akan mendapatkan penghasilan. Ketika lebih banyak lapangan kerja terbuka, masyarakat lokal tidak hanya mendapat penghasilan dari biaya sewa, tetapi juga ikut bekerja. Mereka dilatih dan diberi keahlian untuk bekerja di sini,” jelas Iftitah.

Menurutnya, pendekatan tersebut memperlihatkan pentingnya membangun hubungan yang saling menguntungkan antara masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha. Investasi tidak hanya menghadirkan modal dan aktivitas ekonomi, tetapi juga harus memperluas kesempatan masyarakat setempat untuk bekerja, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan usaha.

Pelajaran bagi Transformasi Transmigrasi

Iftitah menilai pendekatan yang dipelajari di Chongqing relevan dengan transformasi transmigrasi Indonesia, yang kini diarahkan untuk membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru melalui investasi, peningkatan produktivitas, industrialisasi, dan hilirisasi.Menurutnya, Indonesia memiliki banyak kawasan transmigrasi dengan potensi sumber daya yang besar, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga pariwisata.

Namun, potensi tersebut membutuhkan pengelolaan kawasan yang terencana, kepastian hukum atas lahan, infrastruktur, keterampilan tenaga kerja, investasi, dan akses pasar agar dapat berkembang menjadi sumber kesejahteraan.

“Ekosistem seperti inilah yang sebetulnya ingin kita bangun di Indonesia,” tegasnya.

Ia menjelaskan pengembangan kawasan transmigrasi perlu dirancang sebagai satu kesatuan ekonomi, bukan kumpulan proyek pembangunan yang berjalan sendiri-sendiri.

Ketika suatu kawasan memiliki potensi pertanian, misalnya, pengembangannya perlu terhubung dengan fasilitas pengolahan, logistik, kebutuhan tenaga kerja, jaringan pemasaran, dan kegiatan usaha pendukung. Sehingga peningkatan produksi dapat diikuti oleh penciptaan nilai tambah dan perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat.

See also  Menkominfo Siapkan Dukungan Komunikasi dan Akses Internet

Iftitah juga menekankan masyarakat lokal harus menjadi bagian utama dari pertumbuhan ekonomi kawasan, baik sebagai pekerja, petani, pemasok, pelaku UMKM, maupun mitra usaha. Pendekatan tersebut sejalan dengan tujuan transformasi transmigrasi untuk memperluas kesempatan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar memindahkan penduduk dari satu wilayah ke wilayah lain.

Kolaborasi dan Konsistensi Jadi Kunci

Pembelajaran lain dari Chongqing adalah pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat. Menurut Iftitah, pengembangan kawasan membutuhkan perencanaan yang jelas, pembagian peran, serta kesinambungan pelaksanaan agar investasi dan kegiatan ekonomi dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Pemerintah berperan menyiapkan regulasi, infrastruktur, dan kepastian pembangunan. Perguruan tinggi berkontribusi melalui penelitian dan teknologi. Dunia usaha menghadirkan investasi, kegiatan produksi, dan akses pasar. Sementara masyarakat menjadi pelaku utama kegiatan ekonomi di wilayahnya.

Iftitah mengingatkan transformasi ekonomi tidak terjadi secara instan.

“Tiongkok pun butuh waktu untuk mencapai hal ini. Mereka terus berjalan selama 20 hingga 30 tahun hingga mencapai titik akselerasi,” ujarnya.

Menurutnya, salah satu tantangan pembangunan adalah menjaga konsistensi arah kebijakan agar berbagai program tidak berhenti sebelum menghasilkan perubahan yang nyata. Ia menilai Indonesia dapat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut, dengan tetap menyesuaikan model pengembangan kawasan terhadap sistem pertanahan, karakteristik masyarakat, kondisi lingkungan, dan kebutuhan ekonomi masing-masing daerah.

“Jika arahnya jelas, konsepnya matang, dan ada konsistensi, maka akan terjadi akselerasi. Ketika hal tersebut sudah menjadi kesadaran kolektif, maka hasilnya pun akan nyata. Pendapatannya nyata, tata ruangnya lebih baik, dan nilai kemanfaatannya juga lebih tinggi,” ungkapnya.

Bagi Iftitah, pembelajaran terpenting dari Desa Zhenwugong bukan sekadar keberhasilan membangun kawasan yang tertata dan menarik wisatawan, melainkan bagaimana pembangunan tersebut mampu menggerakkan ekonomi serta memperluas sumber penghasilan masyarakat.

See also  Manfaatkan KUR BRI, Pedagang Nanas Ini Sukses Kembangkan Produk Olahan yang Diminati Pasar

Pengalaman itu diharapkan menjadi referensi dalam memperkuat pengembangan kawasan transmigrasi di Indonesia, terutama untuk membangun keterhubungan antara potensi daerah, investasi, pengembangan sumber daya manusia, dan penciptaan lapangan kerja.

“Ini bukan sekadar angan-angan. Ini adalah sebuah realitas yang harus kita implementasikan di Indonesia,” pungkas Iftitah.

Berita Terkait

Kementerian PU dan BUJT Bangun Rest Area Pertama di Tol Cisumdawu, Siap Fungsional saat Nataru 2026/2027
Mendes Yandri Ajak Keluarga Besar Al-Khairiyah Bangun Desa Lewat Ekonomi
Olah Kelapa Jadi Parutan Kering, Warga Pulau Bacan Malut Tambah Pendapatan
Hadiri Pameran Trade Expo Indonesia, Mendes Ingin Produk Hilirisasi Desa Go Internasional
Pramono Bangga Jakarta Jadi Kota Pelajar Nomor Satu
Gelegar Lelang BNI 2026 Bukukan Penjualan Agunan Rp510,77 Miliar
Pertamina Operasikan SPBU 24 Jam di Bali, Distribusi BBM Dipercepat
Belajar dari BAIC, Iftitah: Kemajuan Industri Dibangun dari Investasi pada Manusia dan Teknologi

Berita Terkait

Sunday, 18 October 2026 - 20:30 WIB

Kementerian PU dan BUJT Bangun Rest Area Pertama di Tol Cisumdawu, Siap Fungsional saat Nataru 2026/2027

Sunday, 18 October 2026 - 20:18 WIB

Belajar dari Chongqing, Iftitah: Desa Harus Jadi Tempat Mencari Penghidupan, Bukan Sekadar Tempat Ditinggalkan

Sunday, 18 October 2026 - 17:48 WIB

Mendes Yandri Ajak Keluarga Besar Al-Khairiyah Bangun Desa Lewat Ekonomi

Friday, 16 October 2026 - 21:40 WIB

Olah Kelapa Jadi Parutan Kering, Warga Pulau Bacan Malut Tambah Pendapatan

Thursday, 15 October 2026 - 13:01 WIB

Hadiri Pameran Trade Expo Indonesia, Mendes Ingin Produk Hilirisasi Desa Go Internasional

Berita Terbaru