daelpos.com — Kegemaran menulis cerita itu tumbuh jauh sebelum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi tentara dan Presiden Republik Indonesia. Sejak kelas lima sekolah dasar, ia telah menulis cerita pendek dalam bahasa Jawa dan bahasa Indonesia. Puluhan tahun kemudian, kegemaran tersebut menemukan ruang baru melalui novel Diana Memang Manja.
Dalam peluncuran novel di Cikeas, Kamis (29/10) malam, Presiden ke-6 Republik Indonesia itu mengajak hadirin menengok sisi kehidupannya yang tumbuh bersama seni. Melalui dialog dengan Gita Wirjawan, SBY bercerita tentang perjalanan kembali pada dunia yang dicintainya sejak kecil.
“Kembalinya seniman setelah mengembara ke mana-mana,” ujar SBY menggambarkan kedekatannya kembali dengan dunia seni.
Baginya, menulis novel merupakan kelanjutan dari kebiasaan bercerita yang telah lama tumbuh. Setelah menekuni lukisan, musik, dan puisi, ia menemukan ruang untuk mempertemukan berbagai pengalaman kreatif tersebut dalam sebuah cerita panjang.
“Novel itu kakak kandungnya cerita pendek. Saya kelas lima SD sudah bisa membuat cerita pendek. Bahasa Jawa, bahasa Indonesia,” tuturnya.
Menulis novel juga menghadirkan kebahagiaan tersendiri karena memberinya kebebasan untuk membangun alur, membayangkan adegan, serta menghadirkan tokoh dengan karakter yang berbeda-beda.
“Saya merasa punya kebebasan untuk menggambarkan apa saja,” kata SBY.
Kebebasan berimajinasi itu berjalan bersama ketekunan melakukan riset. Dalam membangun cerita Diana Memang Manja, SBY mencermati latar waktu dan hubungan antarkeadaan agar kisah yang disusunnya tetap masuk akal.
Ia juga mengungkapkan tantangan mempertemukan cara berpikirnya yang rasional dengan unsur misteri dan keajaiban dalam cerita. Pertemuan keduanya menjadi bagian dari upaya menghadirkan novel yang menarik tanpa meninggalkan identitasnya sebagai pribadi yang menggunakan logika dan akal sehat.
Meski alur telah disiapkan, proses menulis tetap memberinya banyak kejutan. Gagasan baru muncul dari hari ke hari, memperkaya adegan dan hubungan antartokoh.
“Muncul sebagai bunga-bunga yang akhirnya mempercantik semuanya itu,” ujarnya.
Peluncuran novel tersebut diawali pemutaran video “SBY & Dunia Seni” yang memperlihatkan perjalanan dan kedekatannya dengan berbagai bentuk kesenian. Acara juga diisi penyerahan simbolis novel serta penampilan Neo Jibles.
Melalui cerita tentang proses kreatifnya, SBY memperlihatkan bahwa kegemaran masa kecil dapat terus tumbuh melintasi berbagai babak kehidupan. Di tengah perjalanan panjang pengabdian dan tanggung jawab, kecintaan pada seni tetap menemukan jalan untuk kembali.








