daelpos.com – Pemerintah menegaskan percepatan pengembangan Blok Masela di Maluku sebagai langkah strategis menjaga kedaulatan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Tenaga Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satya Hangga Yudha Widya Putra, menyebut proyek strategis nasional (PSN) Lapangan Abadi kini telah memasuki fase krusial. Sejak Februari 2026, proyek tersebut resmi masuk tahap pembangunan fisik, setelah penantian lebih dari 25 tahun.
“Momentum ini menandai pergeseran dari sekadar wacana administratif menjadi aksi nyata di lapangan,” ujar Hangga dalam keterangan resminya, Sabtu (11/4/2026).
Menurutnya, urgensi proyek Blok Masela semakin tinggi seiring dinamika global yang kian memanas. Konflik di Timur Tengah, khususnya yang berpotensi mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz, dinilai berdampak langsung pada stabilitas energi dunia.
Lonjakan harga minyak mentah hingga menembus 110 dolar AS per barel pun menjadi tekanan serius bagi neraca perdagangan Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.
“Dalam konteks ini, Blok Masela menjadi benteng energi domestik yang mampu menyuplai kebutuhan secara besar dan stabil,” tegasnya.
Dari sisi komersial, perkembangan proyek juga menunjukkan kemajuan signifikan. Hal ini ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Inpex dan PT Pertamina (Persero) pada 30 Maret 2026.
Blok Masela diproyeksikan memiliki kapasitas produksi sebesar 9,5 juta ton per tahun (MTPA) LNG, 150 MMSCFD gas pipa, serta 35.000 barel minyak kondensat per hari.
Untuk menjaga keseimbangan antara keekonomian proyek dan kepentingan nasional, pemerintah telah menetapkan skema alokasi produksi yang terukur.
“Sebanyak 60 persen dialokasikan untuk pasar ekspor guna menjaga kelayakan ekonomi proyek, sementara 40 persen untuk kebutuhan domestik,” jelas Hangga.
Tak hanya memperkuat ketahanan energi, proyek ini juga diyakini membawa dampak ekonomi signifikan bagi masyarakat Maluku. Pemerintah memastikan adanya efek pengganda melalui pemberian participating interest (PI) sebesar 10 persen kepada Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pembukaan lapangan kerja, hingga transfer teknologi.
Hangga optimistis, dengan pengawalan lintas kementerian dan sinergi bersama pemerintah daerah, Blok Masela akan menjadi motor penggerak ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
“Ini bukan sekadar proyek energi, tapi fondasi bagi kebangkitan ekonomi wilayah timur,” pungkasnya.








