daelpos.com – PT Hutama Karya (Persero) (Hutama Karya) tengah melakukan percepatan pada proyek penanganan tanggap darurat dan rehabilitasi jalan serta jembatan di wilayah Aceh. Proyek yang terbagi dalam tiga wilayah kerja Pejabat Pembuat Komitmen (PPK)—yakni PPK 3.3, PPK 3.4, dan PPK 3.5—ini bertujuan untuk memulihkan konektivitas vital dan memperkuat infrastruktur nasional di kawasan pegunungan Aceh pasca bencana alam.
Lingkup pekerjaan pada ketiga wilayah ini mencakup pembersihan longsoran, pembuatan akses jalan sementara (detour), hingga rehabilitasi dan rekonstruksi permanen. Pekerjaan ini dirancang tidak hanya untuk mengembalikan fungsi jalan nasional, tetapi juga memperkuat struktur guna mengantisipasi ancaman bencana serupa di masa depan.
Pada wilayah kerja PPK 3.3 (Ruas Sp. Uning – Bts. Gayo Lues), penanganan difokuskan pada 22 titik longsoran, 4 titik jalan amblas, dan 2 titik jembatan baru. Salah satu lokasi paling krusial berada di TK 62 (STA 38+250), di mana badan jalan sepanjang 150 meter yang sempat hilang kini ditangani secara permanen menggunakan susunan blok beton sebagai struktur penahan longsor dan pengaman badan jalan. Selain itu, terdapat penanganan Longsoran Tanah di daerah Aceh Tengah (Sinkhole Ketol) akibat adanya aliran air pada kedalaman 30 meter serta karakter tanah berpasir yang memperparah kondisi. Longsoran sinkhole ini sempat memutus akses antara Desa Simpang Balik dan Desa Blang Mancung, sehingga masyarakat harus memutar melalui jalur sementara sejauh 2,5 km. Penanganan serius yang dilakukan meliputi stabilisasi tanah, perbaikan dan pengalihan aliran irigasi, pembuatan detour, serta pemantauan berkala guna mencegah longsoran lanjutan.
Berlanjut ke wilayah PPK 3.4 (Ruas Bts. Aceh Tengah – Blangkejeren), tim menghadapi tantangan teknis tertinggi di lokasi Tetumpun sepanjang 488 meter dan Tangsaran sepanjang 382 meter. Mengingat topografi lereng yang sangat terjal dan rawan, Hutama Karya menerapkan metode stabilisasi lereng menggunakan kombinasi shotcrete dan soil nailing , serta pemasangan geo mattress untuk mencegah erosi permukaan secara efektif. Sementara itu, di wilayah PPK 3.5 (Ruas Bts. Gayo Lues – Kota Kutacane), pengerjaan difokuskan pada titik kritis seperti Longsoran Ketambe (KC-05). Di lokasi ini, dilakukan perkuatan kaki lereng dengan 329 titik soldier pile sedalam 12 meter serta penggunaan mortar busa. Progres fisik Jembatan Lawe Mengkudu di wilayah ini juga telah melampaui angka 60% dan ditargetkan segera fungsional guna memperlancar arus lalu lintas.
Menghadapi tantangan geografis yang ekstrem dan keterbatasan pasokan material beton siap pakai (readymix) di lokasi proyek, Hutama Karya mengambil langkah taktis dengan menghadirkan inovasi penyediaan batching plant secara mandiri di beberapa titik kerja. Di wilayah PPK 3.3, selain memanfaatkan vendor lokal yang tersedia, Hutama Karya turut membawa dan mengoperasikan batching plant mobile sendiri ke lokasi untuk mempercepat ritme produksi. Sementara untuk wilayah PPK 3.4, kebutuhan material didukung penuh oleh kapasitas batching plant lokal yang sudah tersedia di area sekitar. Langkah strategis dilakukan di wilayah PPK 3.5, di mana Hutama Karya bergerak cepat membawa batching plant mobile sekaligus membangun unit batching plant baru sendiri di lokasi demi menjamin kepastian pasokan material beton berkualitas tinggi secara mandiri tanpa bergantung pada distribusi luar daerah.
Dalam pelaksanaannya, Hutama Karya memanfaatkan teknologi mutakhir seperti sensor Lidar untuk mempercepat desain awal dan survei fotogrametri dengan drone. Selain itu, koordinasi intensif dengan masyarakat lokal melalui tokoh adat (Reje) dan pemerintah kecamatan (Pengulu/Camat) dilakukan secara rutin untuk memastikan aspek sosial dan pembebasan lahan berjalan lancar, selaras dengan kebutuhan warga setempat. Seluruh rangkaian pekerjaan ini diestimasi akan rampung sepenuhnya pada Desember 2026. Dengan selesainya proyek rehabilitasi ini, diharapkan jalur distribusi logistik dan mobilitas masyarakat di wilayah tengah hingga tenggara Aceh dapat kembali normal secara permanen, sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi daerah.
Plt. Executive Vice President (EVP) Sekretaris Perusahaan Hutama Karya, Hamdani menyampaikan bahwa proyek ini merupakan bentuk komitmen perusahaan dalam merespons cepat kondisi darurat infrastruktur. Sinergi antara teknologi tepat guna, kemandirian logistik, dan pendekatan sosial menjadi kunci dalam menghadapi medan ekstrem di dataran tinggi Aceh.
“Penanganan tanggap darurat di ruas Aceh ini, mulai dari wilayah PPK 3.3, 3.4, hingga 3.5, adalah prioritas nasional untuk menjamin keselamatan pengguna jalan. Kami menerapkan inovasi teknologi serta mitigasi risiko logistik yang matang—seperti pembangunan batching plant mandiri—untuk memastikan kualitas dan kecepatan pekerjaan tetap optimal meski dalam kondisi geografis yang sulit. Proyek ini adalah wujud nyata kontribusi Hutama Karya dalam membangun konektivitas yang andal dan berkelanjutan di wilayah Aceh,” tutup Hamdani.








