daelpos.com – Pemerintah resmi meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 sebagai langkah besar memperkuat ketahanan sekaligus kemandirian energi nasional. Program ini diyakini menjadi tonggak penting dalam mengurangi ketergantungan impor bahan bakar minyak (BBM), mengoptimalkan sumber daya dalam negeri, serta memperkuat hilirisasi industri nasional.
Peluncuran program B50 digelar pada 9 Juli 2026 dan dipimpin langsung oleh Presiden Prabowo Subianto. Dalam arahannya, Presiden menegaskan, sejak awal pemerintahannya, ketahanan pangan dan ketahanan energi telah ditetapkan sebagai prioritas utama sebagai fondasi menuju kemandirian bangsa.
“Ketahanan pangan dan ketahanan energi adalah pilar penting untuk memastikan Indonesia berdiri di atas kaki sendiri,” tegas Prabowo dalam peluncuran tersebut.
Pemerintah memperkirakan implementasi B50 mampu memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Pada 2026, program ini diproyeksikan bisa menghemat devisa negara hingga sekitar Rp170 triliun. Selain itu, kebijakan ini juga dinilai akan meningkatkan nilai tambah industri kelapa sawit, menyerap sekitar 2,1 juta tenaga kerja, serta menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 44,46 juta ton CO2.
Dari sisi implementasi, PT Pertamina Patra Niaga telah menyalurkan biodiesel B50 tahap awal sebanyak 37,92 juta liter ke berbagai wilayah di Indonesia. Penyaluran itu dilakukan melalui 29 terminal Pertamina dari total 126 terminal yang dimiliki perseroan.
Peluncuran B50 dipandang sebagai langkah strategis pemerintah untuk mempercepat transisi energi berbasis sumber daya domestik. Dengan memanfaatkan bahan baku dari industri sawit nasional, program ini diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan efek berganda bagi perekonomian nasional.
Di sisi lain, BP BUMN bersama Danantara menyatakan terus mendukung berbagai program strategis pemerintah yang mampu menciptakan nilai tambah, memperkuat ketahanan energi, mendorong pertumbuhan ekonomi, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
Dengan peluncuran B50, pemerintah menunjukkan keseriusannya membangun ekosistem energi yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan nasional. Program ini juga menjadi sinyal kuat bahwa hilirisasi sumber daya alam Indonesia terus didorong untuk menciptakan manfaat ekonomi yang lebih besar di dalam negeri.








