Bongkar Pasang Menteri Kabinet Jangan Sampai Timbulkan Polemik

Friday, 23 April 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

foto Ilustrasi / Net

foto Ilustrasi / Net

DAELPOS.com – Wakil Ketua Komisi XI DPR RI Eriko Sotarduga menilai polemik terkait bongkar pasang atau reshuffle kabinet menjadi hal yang wajar untuk dilakukan Presiden. Menurutnya, tidak ada yang salah dalam reshuffle, sebab hal tersebut menjadi kewenangan penuh Presiden Joko Widodo. Isu reshuffle juga dapat dipahami mengingat situasi pandemi yang masih berlangsung, berbeda jauh dari kondisi saat awal-awal penyusunan menteri kabinet.

“Tidak ada yang salah dalam reshuffle. Justru kalau tidak ada reshuffle itu yang kita harus bertanya-tanya, terlebih dalam situasi seperti saat ini. Perkara orangnya siapa, monggo saja Pak Jokowi menunjuk, tidak ada yang keliru kalau mau berasal dari profesional boleh, jangan kita mendikotomikan. Apakah berasal dari orang politik, atau dari partai politik, atau profesional, silakan diuji langsung, monggo,” kata Eriko dalam diskusi Dialektika Demokrasi yang berlangsung di Media Center DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (22/4/2021).

Eriko mengungkap bahwa sebelumya Presiden Jokowi memang telah bertemu dengan Ketua Umum PDI-Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Namun, pertemuan tersebut sebagai bagian silaturahmi selain membicarakan perombakan kabinet. Mengenai pos kementerian yang bakal dirombak, Eriko memastikan hal itu belum diketahui oleh partai politik koalisi pemerintahan. Sebab reshuffle kabinet merupakan hak prerogatif yang hanya diketahui oleh Presiden. 

“Apakah sudah ada komunikasi soal siapa dan bagaimana, saya harus jujur menjawab, seminggu lebih yang lalu, beliau (Jokowi) bertemu dengan Ibu Ketua Umum kami. Tapi apakah sudah membicarakan itu, tentu pasti ada pembicaraan pembicaraan yang baik. Namanya antara Presiden ke-7 dengan Presiden ke-5, antara kakak beradik kalau kita katakan sebagai silaturahmi,” ungkap politisi PDI-Perjuangan itu.

Terkait perombakan sejumlah kementerian dan badan, juga dinilai Eriko, sudah sewajarnya dilakukan. Penggabungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) dengan Kementerian Riset dan Teknologi (Menristek) misalnya, antara apa yang diajarkan dalam bangku pendidikan dianggap sudah tidak kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, perubahan perlu segera dilakukan sehingga antara pendidikan mulai dasar hingga tinggi dan aplikasinya dalam kebutuhan dunia pekerjaan dapat seiring dan sejalan.

See also  Kantor Kesehatan Haji Indonesia Mekah Mulai Melayani Jemaah Haji

Perubahan lainnya, Eriko melanjutkan, seperti adanya pembentukan kementerian baru yaitu Kementerian Invetasi yang berasal dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sebagaimana disetujui di Komisi XI, pemerintah juga telah membentuk Lembaga Penjamin Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (INA) sebagai sovereign wealth fund  (SWF) yang akan mengelola dana investasi. Dengan setoran dana awal mencapai Rp15 triliun, tentu sektor investasi tidak cukup jika masih di bawah otoritas selevel badan.

“Kami di Komisi XI sudah menerima yang namanya SWF, lembaga penjaminan investasi itu telah dibentuk. Nah nanti lanjutannya itu apa, apa cukup dengan yang BKPM. Saya kira jujur saja telah menerima komplain Bupati, yang mengatakan investasi bisa dilakukan dengan cepat,  namun mereka  sudah 6 bulan ngurus izinnya nggak keluar-keluar. Jadi ada antara hulu dan hilir nggak sama, bukankah itu perlu aksi yang cepat,” jelas Eriko.

Hadir dalam diskusi tersebut, Direktur Eksekutif Voxpol Indonesia Pangi Syarwi Chaniago mengatakan bahwa reshuffle dapat melahirkan demokrasi yang memberikan ruang lahirnya stabilitas politik. Namun dengan sistem multipartai stabilitas bisa saja tidak terjadi, tetapi di era sekarang itu cukup terjadi. Multipartai tapi stabilitas terjaga, dinilai menjadi kepiawaian seorang Presiden terpilih. Multipartai dianggapnya tidak mudah untuk dilakukan, mengingat dinegara lain  banyak dilakukan bamun pada prakteknya alami kegagalan.

“Hasil riset saya tentang kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi dimulai Maret-2 April,  itu 51,8 persen puas, ditambah sangat puas itu 6 persen,  jadi total itu 58 persen. Tidak puas itu 33,6 persen, sangat tidak puas 5 persen, jadi kalau kita bicara tentang kepuasan, memang yang paling ideal itu mestinya di angka 80 persen ke atas, tapi itu memang ideal, 70 persen itu pun sudah cukup bagus. Tapi ini masih menjadi menjadi penting, apakah penting reshuffle atau tidak, karena dari hasil kinerja pasangan Pak Jokowi- Ma’ruf Amin,” pungkas Pangi dalam dialog bertajuk “Membaca Peta Parlemen Pasca-Reshuffle Jilid II” itu.

Berita Terkait

Larang Konsep One Man Show, Mendes Ingin Realisasi Program SEHATI Berbasis Kolaborasi
Arsitektur Menarik Sekolah Rakyat Cirebon, Punya Gapura Berpadu Budaya Lokal
Hutama Karya Gelar Aktivasi Mozy, Kenalkan Fitur Baru Aplikasi Pengelolaan Jalan Tol
Telkom Indonesia Salurkan Bantuan Rumah Bibit dan Lakukan Restorasi Mangrove di NTB
DPD RI Dorong Revisi UU Perindustrian
Roadshow SATU Indonesia Awards 2026 Sambangi Makassar, Astra Cari Penggerak Perubahan dari Indonesia Timur
Optimalkan Pengawasan ODOL, Jasa Marga Pasang Rangka Gantry RFID di Ruas Tol JORR
Bukan Lagi Penonton, Saatnya Generasi Muda Ambil Peran Lewat Tim Ekspedisi Patriot

Berita Terkait

Tuesday, 30 June 2026 - 17:57 WIB

Larang Konsep One Man Show, Mendes Ingin Realisasi Program SEHATI Berbasis Kolaborasi

Tuesday, 30 June 2026 - 14:20 WIB

Arsitektur Menarik Sekolah Rakyat Cirebon, Punya Gapura Berpadu Budaya Lokal

Monday, 29 June 2026 - 22:37 WIB

Hutama Karya Gelar Aktivasi Mozy, Kenalkan Fitur Baru Aplikasi Pengelolaan Jalan Tol

Monday, 29 June 2026 - 19:30 WIB

Telkom Indonesia Salurkan Bantuan Rumah Bibit dan Lakukan Restorasi Mangrove di NTB

Monday, 29 June 2026 - 16:10 WIB

DPD RI Dorong Revisi UU Perindustrian

Berita Terbaru

Berita Terbaru

AHY Sambut Gerakan Langkah Hijau Grab

Tuesday, 30 Jun 2026 - 13:59 WIB