Minim Risiko, Prospek Investasi Budidaya Udang di Sulteng Kian Menjanjikan

Thursday, 11 June 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Perkembangan industri budidaya udang vaname yang semakin menggeliat, menambah optimisme tercapainya peningkatan nilai ekspor hingga 250% dalam kurun waktu lima tahun ke depan. Atas situasi ini, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo mengapresiasi adanya sinergitas pemerintah pusat, daerah serta keterlibatan swasta.

“KKP selalu berupaya untuk mendorong investasi di bidang budidaya vaname ini dan ini saya rasa bukti kita serius melakukan percepatan optimalisasi lahan budidaya”, tegas Menteri Edhy usai melakukan penebaran benur di kawasan budidaya udang modern milik PT. Esaputli Prakarsa Utama, di Desa Tomoli Selatan, Kecamatan Toribulu, Parigimoutong, (10/6/2020).

Dikatakan Menteri Edhy, dukungan dari pihak swasta yang mulai melirik bisnis perudangan nasional menandakan adanya perbaikan iklim investasi di bidang ini. Imbasnya pun akan berdampak positif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Karenanya, dia berharap momentum ini menjadi pemicu bagi masuknya investasi lainnya.

“Saya berharap ini juga jadi titik awal sebagai pemicu bagi masuknya investasi sejenis”, sambungnya.

Kendati mengapresiasi, Menteri Edhy mengingatkan agar pemerintah daerah dan swasta memfasilitasi masyarakat setempat untuk mendapatkan pelatihan budidaya udang. Adapun pemerintah pusat, menyediakan akses pemodalan melalui kredit usaha rakyat (KUR) yang memiliki bunga 6% dan BLU-LPMKP dengan bunga 3%.

“Investasi juga harus ada dampak bagi pemberdayaan ekonomi masyarakat. Saya minta nanti ada pelatihan pelatihan untuk mereka,” urainya.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto memastikan investasi pada bisnis budidaya udang akan mulai terbuka, seiring dengan prospek perudangan nasional yang kian menjanjikan. Menurutnya, budidaya udang sudah bukan lagi tergolong investasi high risk business (jenis usaha berisiko tinggi) karena semua risiko telah mampu diperhitungkan. Terlebih teknologi budidaya sudah dikuasai sepenuhnya, infrastruktur juga sudah membaik, dan peluang yang pasar tinggi, keberpihakan regulasi serta adamya kemudaham akses yang lebih terjamin.

See also  Sinergitas Antar Sektor dan Multistakeholder Syarat Kendalikan Perubahan Iklim

“Udang ini andalan ekspor, kita berharap menggeser India dan negara lain agar bisa mendominasi pangsa pasar udang dunia, dengan demikian devisa ekspor akan naik signifikan”, tegas Slamet.

Slamet juga membeberkan sejumlah upaya untuk mempercepat pengembangan kawasan budidaya udang berkelanjutan di tahun ini, antara lain : pengembangan model tambak udang berkelanjutan di lima Kabupaten/Kota yakni Aceh Timur, Sukabumi, Sukamara, Buol, dan Lampung Selatan; pengembangan model tambak millenial dengan memberdayakan anak muda; pengembangan model tambak perhutanan sosial dengan melibatkan lintas sektoral; dan mendorong investor untuk mengembangkan usaha budidaya udang dengan pola kemitraan inti plasma.

“Tahun ini upaya-upaya tersebut akan mulai kita dorong, sehingga dalam lima tahun ke depan target peningkatan nilai ekspor 250% bisa tercapai”, terang Slamet.

Sebagai informasi, Sulawesi Tengah menjadi salah satu penghasil udang nasional, data Kementerian Kelautan dan Perikanan mencatat selama kurun waktu lima tahun (2015 – 2019) produksi udang Sulawesi Tengah tumbuh signifikan yakni rata-rata 71,69% per tahun. Tahun 2019 tercatat angka sementara volume produksi udang di Propinsi tersebut mencapai 16.574 ton.

Direktur Utama, PT. Esaputli Prakarsa Utama, Ahmad Bhakty Baramuli menilai Kabupaten Parigimoutong memiliki potensi lahan yan besar untuk pengembangan budidaya udang. Saat ini perusahaan mengelola total lahan seluas 15,5 ha terdiri 60% untuk kolam pembesaran dan 40% untuk infrastruktur seperti IPAL dan lainnya. Penerapan teknologi modern yakni padat tebar tinggi dan efektifitas penggunaan IPAL menghasilkan produksi 36 ton per hektare.

Selain itu, penerapan teknologi modern membuat perusahaan menjadi lebih mudah dalam melakukan kontrol pada setiap proses produksi. Menurutnya teknologi ini juga aplikable dan bisa diadopsi di lahan yang tidak terlalu luas.

See also  KLHK Lepas Liar Harimau Sumatera di Taman Nasional Gunung Leuser

“Tenaga teknisi kami 60% masayarakat lokal. Jadi, kami ingin keberadaan perusahaan juga bisa meningkatkan kesejahteraannya,” jelas Ahmad.

Berita Terkait

Hutama Karya Perkuat Hubungan Industrial melalui Munas IX Serikat Karyawan
100 Ribu Jemaah Padati Monas, Zikir dan Doa Kebangsaan Jadi Pembuka HUT Ke-81 RI
Longsor Tutup Akses Jalan Lembah Anai, Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan dalam Hitungan Jam
Kementerian PU Gerak Cepat, 14 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Seram Bagian Timur
Fasilitas Lengkap dan Modern, Menteri PU Pastikan Sekolah Rakyat Lhokseumawe Siap Fungsional
Lantik Lulusan IPDN, Prabowo Berpesan untuk Layani Rakyat dan Sederhanakan Birokrasi
Kementerian PU Tangani Jalan Lingkar Krayan Untuk Dorong Aksesibilitas
Hutama Karya Serahkan Kendaraan Pengangkut Sampah dan Tanam Mangrove di Pesisir Marunda

Berita Terkait

Monday, 3 August 2026 - 12:58 WIB

Hutama Karya Perkuat Hubungan Industrial melalui Munas IX Serikat Karyawan

Sunday, 2 August 2026 - 07:38 WIB

100 Ribu Jemaah Padati Monas, Zikir dan Doa Kebangsaan Jadi Pembuka HUT Ke-81 RI

Friday, 31 July 2026 - 18:42 WIB

Longsor Tutup Akses Jalan Lembah Anai, Kementerian PU Gerak Cepat Pulihkan dalam Hitungan Jam

Thursday, 30 July 2026 - 17:47 WIB

Kementerian PU Gerak Cepat, 14 Ribu Liter Air Bersih Disalurkan ke Seram Bagian Timur

Thursday, 30 July 2026 - 17:23 WIB

Fasilitas Lengkap dan Modern, Menteri PU Pastikan Sekolah Rakyat Lhokseumawe Siap Fungsional

Berita Terbaru

Olahraga

Indonesia Bangkit, Filipina Ditaklukkan Empat Set

Monday, 3 Aug 2026 - 05:28 WIB