BPSDM Kemendagri Gelar Webinar Manajemen Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi

Friday, 10 September 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DAELPOS.com – Guna meningkatkan pengetahuan serta ketangguhan ancaman bencana kebakaran hutan gambut di Indonesia, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemendagri bekerjasama dengan Balai Pengembangan Kompetensi Pemadam Kebakaran dan Satpol PP Kemendagri mengadakan Webinar Manajemen Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi. 

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) Teguh Setyabudi mengapresiasi kegiatan webinar yang diselenggarakan Balai PK Satpol PP dan Damkar.

Di bawah tanggung jawab BPSDM Kemendagri, Teguh berharap kegiatan ini bisa mewujudkan ASN yang lebih baik.

“Pemadam kebakaran mempunyai misi operasi keselamatan, baik jiwa maupun harta benda,” kata Teguh. 

Menurut Teguh, petugas pemadam kebakaran sangat dibutuhkan masyarakat. Oleh sebab itu, melakukan pengembangan kompetensi skill dinilai sangat penting.

“Kalau bukan kita siapa lagi. Jadi harus bangga dengan profesi Damkar,” ucap Kepala BPSDM Kemendagri dalam acara Webinar Manajemen Pencegahan Kebakaran Lahan Gambut Berbasis Teknologi dalam Implementasi Tugas Pemadam Kebakaran, Kamis, (9/92021).

Menariknya, webinar ini diikuti hampir 1500 peserta yang tergabung dari petugas Damkar dan Satpol PP di seluruh Indonesia.

Seperti diketahui, lahan gambut merupakan tempat cadangan karbon yang besar. Terbentuk dari tumpukan serpihan kayu yang terendam air sekitar tahun 9.600 sebelum Masehi.

Dalam webinar itu, Guru Besar Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Prof. Ir, Yulianto S Nuggroho memaparkan, Negara berlambang Merah Putih ini mempunyai ribuan kepulauan yang elok dan indah. Sumatera dan Kalimantan adalah salah satu pulau besar yang terdapat lahan gambut. 

“Namun yang terjadi, lahan gambut menimbulkan bencana. Kebakaran melanda wilayah setempat,” kata Yulianto.

Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia seolah-olah telah menjadi agenda tahunan yang kerap terjadi di musim kemarau. 
Meskipun pemerintah telah berupaya melakukan pencegahan dan penindakan terhadap pelaku pembakaran, karhutla selalu hampir setiap tahun khususnya beberapa daerah di pulau Sumatra dan Kalimantan. Oleh sebab itu, petugas pemadam kebakaran yang mempunyai misi sosial kemanusiaan, harus lebih aware dalam menyikapi bencana kebakaran lahan gambut tersebut. Petugas dapat bereksperimen mencari tahu penyebab kebakaran di lapangan. 

See also  BPBD DKI: Warga Pesisir Jakarta Diminta Waspadai Rob

Penyebab Lahan Gambut Mudah Terbakar? 
Yulianto menjelaskan, secara alamiah, kebakaran lahan gambut di hutan tropis jarang terjadi. Bencana tersebut muncul disebabkan oleh faktor alam dan manusia. Perubahan iklim misalnya, lanjut dia, telah menyebabkan musim kemarau yang lebih panjang. Sehingga air di ekosistem gambut mudah surut dan lama-kelamaan menjadi kering.

Selain itu, pengeringan lahan gambut sering dilakukan secara sengaja untuk mengubah gambut menjadi lahan industri pertanian dan perkebunan. 

“Pembukaan pertanian, perkebunan dapat mengubah kelembaban udara atau tanah. Akibatnya tanah akan terekspos langsung dengan cahaya matahari,” ujarnya. 

Menyikapi ini, petugas Damkar bisa memanfaatkan Informasi teknologi, guna mencegah risiko tersebut. Petugas bisa memantau kondisi iklim melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

“Hotspots (titik api) muncul meningkat saat kemarau. Biasanya kemarau itu terjadi pada Maret, April, Juli sampai September,” ucapnya.

Berdasarkan karakternya, panas kebakaran gambut seperti menyalakan batang rokok. Kecepatannya tergantung dengan kondisi lahan. Jika relatif kering, gambut akan cepat terbakar. “Api akan terlihat setelah ada pohon kering yang terbakar,” katanya.

Untuk mencegah kekeringan lahan gambut, petugas perlu melakukan operasi keselamatan lebih dini. Misalnya memperbanyak kegiatan penghijauan. Hal itu berguna agar air yang ada di dalam dump atau rawa tidak cepat hilang. 

Berita Terkait

DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah melalui FSAT
Tepat Waktu dan Bermutu, Hutama Karya Tuntaskan Pekerjaan Tanggap Darurat Sumber Daya Air di Aceh
DPD RI Perjuangkan RUU Daerah Kepulauan, Hentikan Ketimpangan Layanan Pendidikan dan Kesehatan
Inventarisasi Masalah di Lampung Demi Perubahan UU Perlindungan Nelayan
Pelajar Wonosobo: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Butuh Integritas.
Dari Lingga, Pelajar Serukan Anak Muda Jangan Jadi Penonton Indonesia Emas
Rakornas Dukcapil 2026, Dukcapil Kepulauan Seribu Sabet Peringkat Tertinggi Capaian IKD
GKR Hemas: RUU Bahasa Daerah Jadi Langkah Strategis Menjaga Warisan Budaya di Era AI

Berita Terkait

Friday, 25 September 2026 - 14:45 WIB

DPD RI Dorong Diplomasi Parlemen Perkuat Kepentingan Daerah melalui FSAT

Thursday, 24 September 2026 - 16:30 WIB

Tepat Waktu dan Bermutu, Hutama Karya Tuntaskan Pekerjaan Tanggap Darurat Sumber Daya Air di Aceh

Thursday, 10 September 2026 - 16:21 WIB

DPD RI Perjuangkan RUU Daerah Kepulauan, Hentikan Ketimpangan Layanan Pendidikan dan Kesehatan

Monday, 7 September 2026 - 13:56 WIB

Inventarisasi Masalah di Lampung Demi Perubahan UU Perlindungan Nelayan

Tuesday, 11 August 2026 - 17:22 WIB

Pelajar Wonosobo: Indonesia Tak Kekurangan Orang Pintar, Tapi Butuh Integritas.

Berita Terbaru

Presiden Prabowo Subianto menyaksikan penyerahan denda administratif dan penyelamatan keuangan negara, serta penyerahan hasil penguasaan kembali kawasan hutan tahap kedelapan, yang digelar di Kompleks Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Jakarta, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Foto Istimewa

Berita Terbaru

Prabowo Saksikan Penyelamatan Rp13,24 Triliun dan 259 Ribu Hektare Hutan

Wednesday, 7 Oct 2026 - 12:50 WIB

Nasional

DPR Setujui RUU Satu Data Indonesia Jadi Undang-Undang

Wednesday, 7 Oct 2026 - 09:59 WIB