daelpos.com – Kelompok pengolahan kerupuk ikan “Rempang Bersemi” di kawasan Rempang mendapat pendampingan peningkatan kualitas produksi hingga strategi pemasaran dari Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro (Undip), Sabtu, 29 November 2025. Pendampingan ini diharapkan dapat mendorong usaha kerupuk ikan lokal agar lebih berdaya saing dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Kegiatan yang diikuti puluhan warga Rempang Eco City tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni mahasiswa Undip Lydia Primawati serta Ketua Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Rempang Dian Nurhuda. Keduanya memberikan materi mengenai teknik produksi kerupuk ikan yang higienis dan sistematis, penguatan identitas merek, serta pemanfaatan media sosial sebagai sarana pemasaran.
Salah satu peserta, Sumarni, mengatakan pelatihan tersebut memberi pemahaman baru mengenai proses pembuatan kerupuk yang lebih terukur. Menurut dia, selama ini kerupuk diproduksi berdasarkan kebiasaan tanpa memperhatikan komposisi dan teknik pengolahan secara tepat.
“Setelah dijelaskan soal komposisi dan teknik pengulenan yang benar, kami jadi lebih paham bagaimana menghasilkan kerupuk yang rapi dan tahan lama,” kata Sumarni.
Dalam sesi pelatihan, peserta diperkenalkan pada tahapan produksi kerupuk ikan yang baik, mulai dari pencucian ikan segar, pembersihan sisik, pemotongan, hingga pemisahan daging dari tulang. Daging ikan kemudian dihaluskan menjadi pasta sebelum dicampur dengan garam, penyedap, serta tepung kanji sebagai bahan pengikat.
Komposisi bahan juga disampaikan secara terukur. Umumnya adonan menggunakan perbandingan 1:1 antara daging ikan dan tepung, atau disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Setelah adonan kalis, bahan dibentuk lonjong, diberi pewarna makanan, lalu dikukus sekitar dua jam hingga mengeras sebelum masuk tahap pengeringan.
Kerupuk ikan yang berkualitas, menurut pemateri, ditandai dengan tekstur yang rapi dan tidak retak. Retakan biasanya disebabkan oleh kadar air yang tidak seimbang atau proses pengulenan yang kurang optimal. Selain varian original, peserta juga diperkenalkan dengan inovasi rasa seperti udang dan sotong untuk meningkatkan nilai jual produk.
Selain aspek produksi, peserta mendapatkan materi mengenai pentingnya identitas produk dan legalitas usaha. Label produk, misalnya, perlu memuat informasi seperti nama produk, komposisi bahan, berat bersih, alamat produsen, tanggal kedaluwarsa, kode produksi, hingga izin edar seperti BPOM atau PIRT.
Peserta juga diperkenalkan berbagai jenis kemasan, mulai dari plastik ekonomis, standing pouch yang lebih modern, hingga kemasan aluminium foil yang mampu memperpanjang masa simpan.
Anggota kelompok Rempang Bersemi, Juliarti, menilai materi mengenai kemasan dan label produk membuka wawasan baru bagi para pelaku usaha. Menurut dia, tampilan kemasan yang menarik dapat meningkatkan kepercayaan konsumen.
“Kami jadi sadar kalau kemasan sangat memengaruhi minat beli. Kalau tampilannya menarik dan informasinya lengkap, pembeli pasti lebih percaya,” ujarnya.
Pada sesi akhir, peserta mendapatkan pelatihan dasar pemasaran digital melalui Instagram dan WhatsApp Business. Materi meliputi pembuatan akun bisnis, optimalisasi profil, hingga pemanfaatan fitur seperti feed, stories, dan reels sebagai sarana promosi.
Ketua PKK Rempang Dian Nurhuda mengatakan promosi melalui media sosial kini menjadi salah satu kunci pengembangan usaha kecil.
“Produk yang bagus harus didukung promosi yang baik. Media sosial sekarang menjadi etalase utama. Kalau kita tidak mulai belajar, kita akan tertinggal,” kata Dian.
Melalui pendampingan tersebut, kelompok Rempang Bersemi diharapkan dapat meningkatkan kualitas produksi sekaligus memperluas pasar. Pengembangan usaha kerupuk ikan lokal juga diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat serta memperkuat daya saing usaha mikro di Rempang.








