daelpos.com – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat hasil menggembirakan dari uji coba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada alat berat sektor pertambangan. Temuan ini mempertegas kesiapan energi terbarukan sebagai solusi strategis untuk memperkuat ketahanan energi nasional di tengah dinamika global.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyampaikan bahwa uji coba yang masih berlangsung menunjukkan performa mesin diesel tetap stabil.
“Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin,” ujar Eniya di Jakarta.
Pengujian dilakukan secara komprehensif, mulai dari kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional hingga stabilitas penyimpanan. Hingga akhir Maret 2026, uji ketahanan dinamis telah menembus lebih dari 900 jam operasional tanpa indikasi gangguan akibat bahan bakar.
Dari sisi industri, hasilnya juga sejalan. General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama (HPU), Rochman Alamsjah, mengungkapkan pihaknya telah membandingkan langsung penggunaan B40 dan B50 pada alat berat Komatsu HD785.
“Saat ini kita sudah running kurang lebih 1000 jam. Performa mesin tidak menjadi masalah, meskipun ada catatan konsumsi bahan bakar B50 sedikit lebih tinggi sekitar 1-3 persen,” jelasnya.
Meski konsumsi bahan bakar meningkat tipis, kondisi tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan tidak memengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan.
Secara teknis, B50 juga telah memenuhi spesifikasi yang disepakati para pemangku kepentingan, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, dan kandungan FAME. Hal ini menandakan kesiapan B50 untuk digunakan pada sektor dengan beban kerja tinggi seperti pertambangan.
Secara operasional, konsumsi bahan bakar tercatat naik sekitar 3,12 persen dibandingkan B40. Namun, peningkatan tersebut tetap dinilai layak secara ekonomis dan teknis.
Sebagai bagian dari mandatori biodiesel nasional, B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar. Kebijakan ini bertujuan mengurangi ketergantungan impor BBM sekaligus mendorong pemanfaatan energi domestik.
Pengembangan B50 melanjutkan keberhasilan implementasi B40 sejak awal 2025, yang menempatkan Indonesia sebagai pionir global dalam pemanfaatan bahan bakar nabati skala besar. Program ini juga berkontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca, penghematan devisa, serta peningkatan serapan minyak sawit dalam negeri.
“Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional,” tegas Eniya.
Ke depan, pemerintah akan memperluas uji coba B50 ke berbagai sektor lain, seperti transportasi, pembangkit listrik, kereta api, hingga alat mesin pertanian. Hasil pengujian ini akan menjadi dasar penyusunan kebijakan dan standar teknis implementasi secara nasional.
Eniya menutup dengan menegaskan bahwa pengembangan biodiesel hingga B50 merupakan bagian dari transformasi energi menuju sistem yang lebih bersih, berkelanjutan, dan berdaulat.








