daelpos.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan kesepakatan perdagangan energi antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak akan menambah kuota impor nasional. Pemerintah hanya mengalihkan sumber impor dari negara lain ke Amerika.
Pernyataan itu disampaikan Bahlil dalam acara Milad ke-28 Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta, Minggu (1/3).
Menurut dia, kebutuhan LPG nasional mencapai 8,3 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya 1,6 juta ton. Sisanya sekitar 7 juta ton harus dipenuhi melalui impor. Selain LPG, impor juga dilakukan untuk BBM dan minyak mentah.
Nilai pembelian energi dari Amerika dalam kesepakatan tersebut mencapai sekitar USD 15 miliar. Rinciannya meliputi LPG sekitar USD 3,5 miliar, minyak mentah USD 4,5 miliar, dan produk BBM olahan sekitar USD 7 miliar.
Bahlil memastikan harga pembelian mengikuti mekanisme pasar dan tidak lebih mahal dibandingkan dari negara lain. Ia juga menegaskan kebijakan ini tidak mengganggu kedaulatan energi nasional karena volume impor tetap sama, hanya sumber negaranya yang berubah.
Kesepakatan itu merupakan bagian dari perjanjian dagang yang difinalisasi dalam pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump di Washington DC pada 19 Februari lalu.








