Panas Bumi Melimpah, Bahlil Dorong Percepatan Pengembangan Geotermal

Thursday, 20 August 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

daelpos.com — Indonesia memiliki potensi panas bumi mencapai 23,2 gigawatt (GW). Namun, pemanfaatannya masih jauh dari optimal karena kapasitas terpasang baru sekitar 11,6 persen dari total potensi tersebut.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dipaparkan dalam The 12th Indonesia International Geothermal Convention & Exhibition (IIGCE) 2026, potensi panas bumi nasional mencapai 23.202,77 megawatt (MW). Sementara kapasitas terpasang baru 2.776,39 MW.

Artinya, sekitar 88,4 persen potensi panas bumi nasional masih belum tergarap.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, kondisi tersebut menunjukkan masih lebarnya kesenjangan antara besarnya sumber daya panas bumi yang dimiliki Indonesia dengan realisasi pengembangannya.

“Indonesia adalah negara nomor satu di dunia yang mempunyai resource terhadap geotermal. Kita nomor satu, tetapi dalam implementasinya kita itu nomor dua, Amerika masih nomor satu,” kata Bahlil saat membuka IIGCE 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).

Menurutnya, pemerintah menempatkan pengembangan panas bumi sebagai salah satu langkah strategis memperkuat kedaulatan energi nasional.

Bahlil menyampaikan, Presiden Prabowo Subianto telah meminta pemerintah mencari berbagai terobosan energi alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi impor.

Langkah tersebut dinilai semakin penting di tengah ketidakpastian geopolitik serta dinamika harga energi global.

Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, pemerintah terus mengevaluasi regulasi yang dinilai masih menghambat pengembangan panas bumi. Sejumlah tahapan aturan telah dipangkas, meski masih terdapat sejumlah persoalan yang harus diselesaikan.

“Tidak ada cara lain untuk melakukan percepatan implementasi geotermal supaya bisa menjadi listrik ataupun menjadi yang lain, adalah harus ada kolaborasi antara pengusaha dan regulator,” tegas Bahlil.

Keekonomian Jadi Tantangan

Selain regulasi, aspek keekonomian juga menjadi perhatian pemerintah.

Bahlil menyebut nilai keekonomian panas bumi saat ini telah mencapai sekitar 9,5 sen dolar Amerika Serikat per kilowatt hour (kWh). Namun, angka tersebut masih dinilai belum cukup menarik bagi sebagian pelaku usaha.

See also  Danantara Indonesia Inisiasi Hibah PLTS Sumenep ke Pemda, PLN Siap Suplai Listrik Bersih Bagi 2.000 KK

Karena itu, pemerintah menyiapkan sejumlah insentif, termasuk insentif perpajakan. Pemerintah juga tengah merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 Tahun 2017 yang antara lain diarahkan untuk mendorong pemanfaatan tidak langsung panas bumi serta meningkatkan tingkat pengembalian investasi.

Selain itu, revisi Perpres Nomor 112 Tahun 2022 juga disiapkan untuk mempercepat pengembangan energi baru terbarukan (EBT).

Di sisi lain, pemerintah meminta para pengembang yang telah memperoleh konsesi segera merealisasikan proyeknya.

“Bagi teman-teman pengusaha yang sudah mendapatkan konsesi harus juga cepat. Jangan konsesinya ditahan. Kalau ditahan itu juga memperlambat,” ujar Bahlil.

Ia juga menyoroti pengajuan penghentian sementara maupun perpanjangan izin secara berulang. Menurutnya, hal tersebut perlu dievaluasi, khususnya apabila keterlambatan disebabkan persoalan kesiapan teknologi ataupun pembiayaan.

Dua Izin Panas Bumi Diserahkan

Dalam gelaran IIGCE 2026, pemerintah menyerahkan Izin Panas Bumi kepada PT PLN (Persero) untuk Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Gunung Ungaran.

Izin serupa juga diberikan kepada PT Telaga Rano Geothermal untuk WKP Telaga Ranu.

Pemerintah turut menyiapkan penawaran lima WKP serta tujuh Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi pada 2026.

Pengembangan panas bumi juga tidak hanya diarahkan untuk pembangkitan listrik. Pemerintah mendorong pemanfaatan langsung sumber panas bumi untuk mendukung berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.

Data Kementerian ESDM mencatat pemanfaatan panas bumi antara lain untuk pengeringan kopi di Kamojang, pengolahan gula aren di Lahendong, hingga pengembangan ekstraksi mineral dari kegiatan panas bumi di Dieng.

Dengan potensi yang mencapai 23,2 GW, pemerintah menilai panas bumi memiliki peran penting dalam memperkuat ketahanan dan kedaulatan energi nasional sekaligus membuka peluang ekonomi baru di berbagai daerah.

Berita Terkait

Pascagempa, Pertamina Pastikan Keandalan Pasokan Energi melalui FT Labuan Bajo
Bantu Korban Gempa NTT, Ini Cara Pertamina Hidupkan Gotong Royong
Program Maggot BSF PLN EPI Dorong Ekonomi Sirkular, Kurangi Sampah dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat
Rayakan HUT ke-81 RI, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50% bagi Pelanggan
Menyalakan Semangat Kemerdekaan, PLN Icon Plus Perkuat Pendidikan Digital
Mengubah Kemarau Menjadi Harapan, Pertamina Dampingi Petani Boyolali Bangkit dan Lebih Sejahtera
PLN Berhasil Pulihkan Sistem Kelistrikan Flores Pascagempa, Seluruh Pelanggan Kembali Menyala
PLN Nusantara Power, Garda Terdepan Keandalan Listrik Indonesia pada HUT ke-81 RI
Tag :

Berita Terkait

Thursday, 20 August 2026 - 13:58 WIB

Pascagempa, Pertamina Pastikan Keandalan Pasokan Energi melalui FT Labuan Bajo

Thursday, 20 August 2026 - 13:54 WIB

Bantu Korban Gempa NTT, Ini Cara Pertamina Hidupkan Gotong Royong

Wednesday, 19 August 2026 - 21:59 WIB

Program Maggot BSF PLN EPI Dorong Ekonomi Sirkular, Kurangi Sampah dan Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Wednesday, 19 August 2026 - 12:14 WIB

Rayakan HUT ke-81 RI, PLN Beri Diskon Tambah Daya 50% bagi Pelanggan

Wednesday, 19 August 2026 - 10:57 WIB

Menyalakan Semangat Kemerdekaan, PLN Icon Plus Perkuat Pendidikan Digital

Berita Terbaru

Berita Utama

Commuter Line Bogor Terkendala, Transjakarta Kerahkan Armada Bantuan

Thursday, 20 Aug 2026 - 14:27 WIB